1 Komentar

Malam Sastra Malioboro Dimeriahkan oleh Rieke Dyah Pitaloka

rieke-diah-pitaloka_61

Malam Sastra Malioboro (MSM), setelah beberapa waktu kegiatannya berpindah ke XT Square dengan format memadukan musik keroncong dengan puisi, Senin Malam (20/5) kembali digelar di titik nol kilometer Yogyakarta.

Gerimis masih menyapa, saat Saya bersama istri menitipkan motor di depan Kantor Pos Besar. Menyebrang jalan, menuju panggung sederhana di sebelah selatan depan Gedung Agung Yogyakarta. Irama musik keroncong memanggil-manggil.

Tidak seberapa lama masuk ke dalam kerumunan penonton, pembawa acara mengucapkan selamat datang atas kehadiran Rieke Dyah Pitaloka, yang baru hadir dan langsung turut duduk lesehan di atas tikar.

Acara-pun segera dibuka dengan sambutan oleh KPH Probodiningrat, suami dari GKR Maduretno putri kedua dari Sri Sultan HB X. Usai sambutan, secara berkelompok dibacakan geguritan yang dilanjutkan pembacaan puisi oleh Esti Wijaya, anggota DPRD DIY.

Berikutnya Rieke tampil ke panggung. “Saya bukan lagi Oneng, karena Kang Bajuri tidak lagi menarik bajaj” tuturnya yang disambut tawa penonton.

Oneng, sosok lugu, sebuah peran yang dimainkan Rieke dalam sinetron “Bajaj Bajuri” membuat masyarakat tidak lagi menjadi asing dengan dirinya. Artis yang kemudian terjun ke dunia politik dan menjadi anggota DPR RI, yang belum ini turut bertarung memperebutkan jabatan Gubernur Jawa Barat, memang sangat jauh berbeda dengan karakter Oneng.

Rieke malam itu mampu membangun dialog dengan para penonton. Pembacaan puisi yang memukau, sentilan-sentilan cerdas terhadap situasi sosial politik, joke-joke segar, dan juga pernyataan-pernyataan provokatif yang direspon langsung oleh penonton.

Puisi “Soli Gadis Sumba” mampu menggetarkan perasaan penonton  yang terhanyut pada kisah tentang seorang TKW yang teraniaya. “Good boy-good boy” puisi kedua yang dibacakannya, mampu membuat orang tersenyum. Kedua puisi tersebut ada dalam buku kumpulan puisinya yang ketiga “Sumpah Saripah”.

Rieke memang benar-benar diberi tempat dengan waktu yang panjang, dan ia benar-benar bisa menggunakannya dengan baik.

Ia mengajak para penonton untuk berdoa bersama untuk para korban yang tertimbun di tambang Freeport, Papua. “Indonesia bukan Cili. Di sana presidennya langsung turun tangan turut mengevakuasi para korban,”

Ia juga menyatakan keprihatinannya pada situasi saat ini, terkait dengan sikap penguasa. Ia membandingkan bahwa pada masa presiden pertama, sang presiden membuat pernyataan “Indonesia not for sale”. “Tapi pada masa sekarang, rakyatlah yang harus menyatakan kepada tuan presiden: Indonesia not for sale”, selanjutnya ia mengajak para penonton untuk mengucapkan yel-yel tersebut.

Keprihatinan lain tentang pasar bebas di tingkat ASEAN yang akan segera terjadi. Ia khawatir Indonesia akan kalah bersaing bila tidak meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Ia membuat Joke tentang orang yang lulus dari perguruan tinggi dengan nilai terbaik. Orang tersebut kesulitan mendapatkan pekerjaan hingga ia melamar ke sebuah kelompok permainan sirkus. Semua jenis pekerjaan yang ia minta sudah terisi.Tukang sapu dan penjaga karcis, sudah ada pekerja dari Negara lain. Ia menghiba dan menyatakan sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibunya. Akhirnya luluh pula pengelola sirkus tersebut, ”Kebetulan ada monyet yang lagi sakit,”

Maka pada pementasan sirkus, ia berperan sebagai monyet. Ketika berlompatan dan kurang hati-hati ia terjatuh dan masuk kandang harimau. Ia sangat ketakutan saat sang harimau mendekatinya sambil mengaum. ”Harimau, saya adalah X, lulus cum-laude dari universitas X ” katanya penuh ketakutan.

”Nasib kita sama, saya juga lulus cum-laude dari universitas Y” kata Harimau.

Rieke juga mengajak semua penonton untuk menyanyikan lagu “We shall overcome”. “Ayo, para aktivis dan seniman pasti hafal dengan lagu ini,” katanya lalu memberikan contoh dengan menyanyikan lagu tersebut, lalu mengulang bersama-sama.

“Sayang Pak Ganjar Pranowo berhalangan hadir malam ini. Posisinya masih di Magelang,” kata sang pembawa acara, “Tapi rencananya ia akan hadir di Yogya pada tanggal 25 Mei nanti,”

Pembawa acara yang lain, lalu meminta seorang PRT yang pernah aktif di kesenian, khususnya di teater bernama Wanti. Wanti membawakan salah satu puisi dari Taufik Ismail. Udik, salah seorang anggota Paguyuban Sastra Mataram dengan gaya teaterikal yang lucu membawakan puisinya tanpa teks yang mengkritisi tentang nasib rakyat yang selalu konflik di setiap pemilu dari pemilu presiden hingga pilkades.“lut..gelut..gelut..gelut.. lima tahun, lima kali gelut..” begitu kira-kira sepenggal syair puisinya.

Sayang, tidak bisa menyaksikan hingga tuntas acara malam itu. Aku, istriku, dan seorang kawan bersama kawannya, bergerak menuju warung angkringan berbincang-bincang tentang hal lain. Sayangnya juga, tidak ada dokumentasi foto lantaran tidak membawa kamera. He.h.e.he.h.eh.e

Yogyakarta, 21 Mei 2013

Sebelumnya telah diposting di Kompasiana, lihat di SINI

Foto di atas diambil dari SINI

One comment on “Malam Sastra Malioboro Dimeriahkan oleh Rieke Dyah Pitaloka

  1. Rieke Diah pitaloka, perjuangan bisa dilakukan di mana saja, tyermasuk melalui budaya. Sukses selalu sobat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: