2 Komentar

Membaca Puisi-puisi Wiji Thukul, Melawan Lupa Menjaga Semangat Perlawanan

Susilo Adinegoro

Susilo Adinegoro

Malam itu gerimis masih menyapa. Ada ketegangan saat waktu hampir menunjukkan pukul 19.30. Kontak dengan beberapa kawan, semua menyatakan masih dalam perjalanan. Ya, malam itu, 19 Mei 2013, diriku telah menyatakan kesanggupan menjadi salah seorang tuan rumah yang akan disinggahi oleh Susilo Adinegoro, yang tengah melakukan perjalanan keliling kota yang disebutnya sebagai ”Ziarah Kebudayaan”.

”Ini merupakan proyek pribadi yang saya dedikasikan untuk Wiji Thukul,” katanya pada saat perencanaan. Sebenarnya, ia akan keliling bersama Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul. Namun ketika tiba waktunya, Wahyu membatalkan lantaran ada kesibukan.

Gerimis belum tuntas. Ah, jangan sampai menderas, merupakan harapan yang layak untuk disampaikan.

Ons-odi-Pakdhe-BudhiDi sebuah warung angkringan, Jln. Mangkubumi tepatnya di depan kantor Pertamina, baru diriku dengan istri yang sudah datang. Antun, seorang kawan SMA, pemilik warung menyatakan telah menyiapkan genzet, namun tidak mempersiapkan kabel. Segera saja aku mengontak seorang kawan. Beruntung ia belum berangkat, jadi bisa membawa kabel yang dibutuhkan.

Mengontak kawan lain yang berencana membawa sound sederhana. Sudah dalam perjalanan. Lega rasanya. Kontak pula dengan Bung Ons Untoro, yang telah menyatakan kesediaan untuk memandu acara malam ini, juga dalam perjalanan. Semakin legalah.

Akhirnya satu persatu datang. Namun, kemana Susilo Adinegoro? Sore tadi ia ke Omah Teh di daerah Kalasan untuk acara serupa. Pukul 20.00 barulah terlihat dirinya muncul.

Ayo segera dimulai!

Suasana acara yang berlangsung santai

Suasana acara yang berlangsung santai

Aku menjelaskan bahwa acara ini sengaja memilih angkringan sebagai tempat acara, tanpa mempersiapkan apa-apa. Biarlah apa adanya. Bila Thukul masih hidup, tentu ia akan melakukan hal yang sama. Jadi mengalir saja. Beruntung saat hal ini dikomunikasikan dengan Susilo Adinegoro, ia juga sepakat.

Termasuk, tidak ada nama penyelenggara. Bisa dikatakan sebagai penyelenggara adalah kita semua untuk menerima seorang tamu bernama Susilo Adinegoro yang akrab dipanggil Pakdhe Sus, yang tengah melakukan perjalanan yang disebutnya sebagai ”Ziarah Budaya membaca Wiji Thukul”.

Tidak hanya Pakdhe Sus yang akan membacakan puisi-puisinya, melainkan siapa saja yang bersedia membaca.

”Bunga dan Tembok” puisi pembuka yang dibacakan oleh Pakdhe Sus. Ia menjelaskan bahwa puisi ini telah banyak diaransemen sebagai lagu oleh berbagai kelompok. Selanjutnya dua puisi ia bacakan lagi.

Ons, melontarkan tawaran kepada para hadirin yang ingin membacakan puisi. ”Spontan saja, tersedia buku yang bisa dilihat dan memilih untuk dibacakan,”

DSC_1204

Sri Sulandari

DSC_1188

Maka satu persatu bergantian membaca satu atau lebih puisi Thukul. Diantaranya oleh Sri Sulandari satu-satunya perempuan dan juga satu-satunya yang membaca puisi Thukul yang berbahasa Jawa, Eko Winardi aktivis kebudayaan yang pernah mengembangkan teater rakyat bersama kawan-kawannya di Kelompok Teater Rakyat Indonesia (bersama Simon Hate, Agus Istianto, Joko Kamto, dan Angger Jati Wijaya) , Tri Wahyu KH (Aktivis pro Demokrasi yang pernah menjadi Ketua Forum LSM DIY), Aris dari Klaten, dan Galang anak dari pasangan Aktivis Damar-Kiki, serta beberapa orang lainnya.

Budi Whiryawan, Penyair, Ketua KPUD Bantul

Budi Whiryawan, Penyair, Ketua KPUD Bantul

Acara ditutup dengan orasi reflektif yang disampaikan oleh Angger Jati Wijaya. Dikatakan olehnya bahwa praktek-praktek desimbolisasi dilakukan oleh rejim orde baru dengan watak otoritarian militeristik terhadap para aktivis yang bergerak di luar perspektif negara.

Beberapa bentuk desimbolisasi yang dilakukan seperti penghancuran reputasi, pembunuhan karakter, adu domba dengan mengelola konflik, teror dan penghilangan paksa yang berupa penculikan pembunuhan dan sebagainya.

Desimbolisasi, menurutnya juga masih dilakukan oleh rejim yang berkuasa pada saat ini, dengan cara-cara yang mungkin berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama.

Angger mengingatkan langkah desimbolisasi juga dilakukan dengan melakukan penaklukan secara sosial dan ekonomi yang ditandai dengan tawaran-tawaran kenikmatan pragmatis kepada para aktivis untuk menduduki kursi strategis di dalam kekuasaan.

”Meski agak pahit untuk mengingatnya, kita bisa mendaftar sejumlah nama. Ada puluhan atau  ratusan teman-teman yang dulu sangat heroik, menampakkan dirinya begitu mudah ditaklukkan secara sosial dan ekonomi, dan itu mereka nikmati. Sikap oposisi justru digunakan sebagai tiket atau batu loncatan,” keprihatinan yang disampaikan Angger Jati.

DSC_1210Susilo Adinegoro menyampaikan bahwa kegiatan yang dilakukan selain untuk membangkitkan ingatan dan melawan lupa, juga dimaksudkan untuk membangun komunikasi dengan berbagai elemen guna merefleksikan perjalanan 15 tahun reformasi, dan berbagi gagasan tentang arah gerakan sosial yang akan dibangun bagi bangsa dan negara ini.

Beruntung pada malam itu, gerimis rintik-rintik tidak berkembang menjadi hujan. Menyempurnakan rasa dingin malam yang terhangatkan oleh kata demi kata dari Thukul tentang realitas dan semangat dan sikap perlawanan atau perjuangan terhadap ketidakadilan.

Yogyakarta, 21 Mei 2013

Ons Untoro dan Susilo Adinegoro

Ons Untoro dan Susilo Adinegoro

Ok

Eko Winardi

Eko Winardi

Tri Wahyu KH

Tri Wahyu KH

Sus-AnggerSusilo baca wiji thukul di angkringan

2 comments on “Membaca Puisi-puisi Wiji Thukul, Melawan Lupa Menjaga Semangat Perlawanan

  1. Emangnya bang widji tukul udah tiada ?
    Padahal nggak

    Widji tukul masih hidup ditengah-tengah kami
    Widji tukul adalah semboyan
    Widji tukul ada impian terindah

    Kami
    Kami saksinya

  2. Kapan nyampangi Jakarta? ditunggu yah mas…kita ingatkan kembali penguasa!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: