Tinggalkan komentar

Ziarah Kebudayaan, Susilo Adinegoro Membaca Wiji Thukul

Aku diburu pemerintahku sendiri
Layaknya aku ini
Penderita penyakit berbahaya

Aku sekarang buron
Tapi jadi buron pemerintah yang lalim
Bukanlah cacat
Pun senandainya aku dijeblokan
Ke dalam penjaranya.

(Wiji Thukul, Aku Diburu Pemerintahku Sendiri)

Wiji Thukul, ah, engkau pasti telah mendengar dan barangkali telah mengetahui secara mendalam. Bila belum (tanpa bermaksud promosi), bacalah Majalah Tempo edisi 13-19 Mei yang menurunkan edisi khusus Tragedi Mei 1998-2013. Pada cover, terpampang wajahnya dan judul: Teka-teki Wiji Thukul.

Setelah beberapa hari menenteng majalah tersebut, saya merasa bahagia akhirnya memiliki waktu untuk bisa membaca tuntas dini hari tadi dan berakhir tepat pada saat adzan Subuh.

Membacanya, terbayang berbagai peristiwa yang terjadi pada masa rejim Orde Baru, tatkala hak sipil dan politik manusia/warganegara dikebiri.Suara kritis dapat dianggap sebagai musuh negara yang harus dibasmi! Apalagi sampai membuat gerakan-gerakan membangun kekuatan rakyat agar memiliki posisi tawar yang lebih baik. Karenanya, gerakan-gerakan kritis berlangsung secara diam-diam, yang kemudian mulai mengemuka ke publik dengan berbagai resiko yang tentunya sudah siap dihadapi oleh para aktivis.

Saya sendiri tidak mengenal Thukul secara langsung. Karya-karyanya yang pertama kali saya baca adalah dalam bentuk leaflet. Kertas folio kalau tidak salah berwarna kuning dilipat tiga. Ini saya baca ketika saya aktif di Yayasan Pengembangan Budaya pada pertengahan tahun 1980-an. Saat mendapatkan leaflet ini disertai kisah dari seorang kawan bahwa Wiji Thukul yang didampingi oleh Halim HD telah membuat geger membacakan puisi-puisi tersebut di Taman Ismail Marzuki (TIM) saat berlangsung pertemuan para penyair.

Perjumpaan langsung terjadi pada saat bersama-sama membaca puisi dalam parade Kesenian Akhir Tahun yang bertema ”Cermin Masyarakat Membangun”, di Gedung Senisono pada 29 Desember 1993. Acara tersebut digelar oleh Forum Pekerja Seni Yogyakarta. Acara ini diikuti oleh seniman dan aktivis dari berbagai kota.

Selanjutnya, kisah-kisah tentangnya hanya saya dengar dari cerita kawan-kawan atau dari media. Hal yang terkesan pada awal atau pertengahan 1990-an, dan tampaknya tidak termuat di liputan Majalah Tempo tersebut adalah  keberaniannya untuk menolak hadir sebagai salah satu pengisi acara untuk membacakan puisi di hari ulang tahun ABRI, di Solo. Pengisi lainnya, bila tidak salah ingat adalah Iwan Fals dan WS Rendra.

Bila para aktivis pada masa itu kerap menggunakan jargon ”bunuh diri kelas”, Thukul memang sudah berada pada kelasnya sendiri, merekam dan menyuarakan secara kritis. Widji Thukul terlahir dari keluarga tukang becak. Ia mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.

Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang. Sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. Setelah itu tidak terdengar kabarnya lagi. Thukul masuk daftar orang hilang sejak tahun 2000, ketika istrinya melaporkan tentang kehilangan Thukul ke Kontras.

Ketika sebagian korban penculikan ada yang dibebaskan, Thukul bersama 12 orang lainnya, tidak diketahui nasib dan kejelasannya hingga saat ini.

Tentang Wiji Thukul saya pernah memposting tulisan di Kompasiana namun kemudian saya pindah ke blog (lihat di SINI) berjudul  Hanya Ada Satu Kata: Lawan! (Tentang Wiji Thukul) dan puisi untuknya terposting di Kompasiana: Suaramu Tetap Bergema, Bagi Wiji Thukul  (lihat di SINI).

***

Susilo baca wiji thukul di angkringan

Susilo Adinegoro, mantan wartawan yang kini hidupnya lebih banyak bersentuhan dengan dunia anak-anak jalanan dan berbagai kelompok masyarakat miskin di Jakarta, membuat proyek pribadi yang didedikasikan untuk Wiji Thukul.

Ia melakukan road show ke berbagai kota. ”Saya akan membacakan Puisi –Puisi Wiji “Thukul” Widodo, keliling kampung,warung,cafe di beberapa kota,” demikian dikatakan oleh Susilo Adinegoro yang akrab dipanggil Pakdhe Sus.

Kota-kota yang direncanakan akan disinggahi yakni Semarang, Yogya, Muntilan, Salatiga, Surabaya, Malang, Tulung Agung, Jombang dan Jember selama bulan Mei ini. Perjalananya ia beri tajuk: Ziarah Kebudayaan, Susilo Adinegoro Membaca Wiji Thukul.

”Saya mengenal Wiji Tukul, sekitar tahun 1980-an. Dia sering mampir ke Sanggar Mandungan, di depan Kraton Surakarta Hadiningrat. Perjumpaan yang sekelebat,menyisakan kenangan mendalam. Puisi-puisinya menggerakan saya untuk kembali menyuarakannya,” tambah Pakdhe Sus yang pernah juga turut bermain dalam beberapa film.

Ia memandang Thukul sebagai sosok seorang seniman lumrah,rendah hati  yang memiliki komitmen kuat memperjuangkan “kemerdekaan” sejati bagi bangsanya. Melalui tulisan-tulisannya, Ia  menggerakkan,meengobarkan  api semangat kaum muda untuk melawan penguasa lalim.

”Perjalanan ini sekaligus menjadi media berkumpul bersama kawan-kawan untuk merefleksikan perjalanan bangsa ini. Kebetulan, dapat kita kaitkan dengan peringatan 15 tahun Tragedi  Mei 1998,” katanya melalui telpon pagi ini.

Susilo Adinegoro, malam ini (18/5) akan membacakan puisi-puisi Wiji Thukul di Kedai Sanutoke, Jln. Tusam Timur 16, Banyumanik Semarang. Besok (19/5) berada di Yogyakarta dan akan tampil di dua tempat, yakni sore hari di Omah Teh Kalasan, dan malamnya sekitar pukul 19.30 di Warung Angkringan Kopi Joss Pak Antun, di Jalan Mangkubumi depan Kantor Pertamina.

Jadi rekan-rekan di Semarang, ayo datang bergabung, sedangkan besok untuk rekan-rekan di Yogya, jangan ragu untuk menghadirinya.

Yogyakarta, 18 Mei 2013

HL_130518_Ziarah Kebudayaan Membaca Wiji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: