Tinggalkan komentar

Pakdhe Sus Membaca Puisi Wiji Thukul

Gambar Yayak Iskra

Gambar Yayak Iskra

Minggu (19/5)  Susilo Adinegoro, mantan wartawan, seorang aktivis kebudayaan, dan juga seorang aktivis Organisasi Non Pemerintah yang bekerja untuk anak-anak jalanan dan kelompok masyarakat miskin kota di Jakarta, akan hadir membacakan puisi-puisi Wiji Thukul di dua tempat di Yogyakarta.

Sekitar pukul 17.00, ia akan tampil di Omah Teh Kalasan, dan malamnya pada pukul 19.30 di warung Angkringan Kopi Joss Pak Antun, yang terletak di Jalan Mangkubumi, depan Kantor Pertamina (di sebelah selatan KR).

Kehadirannya di Yogyakarta, Susilo Adinegoro yang akrab dipanggil Pakdhe menyatakan sebagai rangkaian dari perjalanannya keliling kota yang disebutnya sebagai ”Ziarah Kebudayaan, Susilo Adinegoro Membaca Wiji Thukul”.

Sebelumnya ia telah membacakan puisi-puisi Thukul di Jakarta dan Semarang. Setelah dari Yogyakarta ia akan melanjutkan perjalanan ke Muntilan, Salatiga, Jombang, Tulung Agung, Surabaya, Malang, dan Jember.

”Ini merupakan proyek pribadi yang saya dedikasikan untuk Wiji Thukul” katanya memberikan keterangan. Menurutunya Thukul adalah sosok seorang seniman lumrah dan rendah hati  yang memiliki komitmen kuat memperjuangkan “kemerdekaan” sejati bagi bangsanya. Melalui tulisan-tulisannya, Ia  menggerakkan,mengobarkan  api semangat kaum muda untuk melawan penguasa lalim..

”Saya mengenal Wiji Tukul, sekitar tahun 1980-an. Dia sering mampir ke Sanggar Mandungan, di depan Kraton Surakarta Hadiningrat. Perjumpaan yang sekelebat,menyisakan kenangan mendalam. Puisi-puisinya menggerakan saya untuk kembali menyuarakannya,” tambah Pakdhe Sus yang pernah juga turut bermain dalam beberapa film.

Pakde Sus menyatakan keprihatinannya atas sejarah kelam yang belum terungkap. Diantaranya adalah tentang orang-orang hilang atau dihilangkan secara paksa yang terjadi pada periode 1996-1998 menjelang reformasi, di mana Wiji Thukul merupakan salah satu korban bersama 12 orang lainnya yang belum diketahui kepastian nasib dan keberadaannya hingga saat ini.

15 tahun peristiwa tragedi Mei 1998, Majalah Tempo membuat edisi khusus tentang peristiwa tersebut dan liputan mendalam mengenai Wiji Thukul. ”Menjadi momentum yang pas pula untuk melakukan refleksi bersama bagi perjalanan bangsa dan negara ini,” katanya.

Bagi rekan-rekan, ayo jangan ragu untuk datang dan berpartisipasi. Acara terbuka bagi siapapun, dikemas apa adanya dengan suasana nyata warung angkringan.  (Odi Shalahuddin)

__________________

Tentang  Widji Thukul

Karya Yayak iskra

Karya Yayak iskra

Widji Thukul, yang bernama asli Widji Widodo (lahir di kampung Sorogenen Solo, 26 Agustus 1963) adalah seorang sastrawan dan aktivis Indonesia.Widji Thukul lahir dari keluarga tukang becak. Mulai menulis puisi sejak SD, dan tertarik pada dunia teater ketika duduk di bangku SMP. Bersama kelompok Teater Jagat, ia pernah ngamen puisi keluar masuk kampung dan kota. Sempat pula menyambung hidupnya dengan berjualan koran, jadi calo karcis bioskop, dan menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel.

Pendidikan

Pendidikan tertinggi Thukul adalah Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo jurusan tari sampai kelas dua lantaran kesulitan uang.

Aktivitas

Kendati hidup sulit, ia aktif menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis dengan anak-anak kampung Kalangan, tempat ia dan anak istrinya tinggal. Pada 1994, terjadi aksi petani di Ngawi, Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan orasi ditangkap serta dipukuli militer.

Pada 1992 ia ikut demonstrasi memprotes pencemaran lingkungan oleh pabrik tekstil PT Sariwarna Asli Solo.Tahun-tahun berikutnya Thukul aktif di Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker)

Tahun 1995 mengalami cedera mata kanan karena dibenturkan pada mobil oleh aparat sewaktu ikut dalam aksi protes karyawan PT Sritex.

Peristiwa 27 Juli 1998 menghilangkan jejaknya hingga saat ini. Ia salah seorang dari belasan aktivis yang hilang.

Forum Sastra Surakarta (FSS) yang dimotori penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul “Thukul, Pulanglah” yang diadakan di Surabaya, Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.

Korban penculikan

Setelah Peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan hilang, termasuk Thukul. Sejumlah orang masih melihatnya di Jakarta pada April 1998. Thukul masuk daftar orang hilang sejak tahun 2000. 

Karya

Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam antologi “Mencari Tanah Lapang” yang diterbitkan oleh Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan pemerintah Orde Baru.

Dua kumpulan puisinya : Puisi Pelo dan Darman dan lain-lain diterbitkan Taman Budaya Surakarta.

Prestasi dan penghargaan

  • 1989, ia diundang membaca puisi di Kedubes Jerman di Jakarta oleh Goethe Institut.
  • 1991, ia tampil ngamen puisi pada Pasar Malam Puisi (Erasmus Huis; Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta).
  • 1991, ia memperoleh Wertheim Encourage Award yang diberikan Wertheim Stichting, Belanda, bersama WS Rendra.
  • 2002, dianugerahi penghargaan “Yap Thiam Hien Award 2002″
  • 2002, sebuah film dokumenter tentang Widji Thukul dibuat oleh Tinuk Yampolsky.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: