Tinggalkan komentar

Abdul Harris Semendawai: Penindasan Harus Dilawan

Foto Dok. Ons Untoro

Foto Dok. Ons Untoro

”Penindasan harus dilawan. Penindasan akan terus berlangsung bila kita hanya berdiam diri saja. Orang-orang berkuasa dan pemilik modal pasti akan berusaha mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan jalan melakukan penindasan,” demikian dikatakan oleh Abdul Harris Semendawai, Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), setelah selesai membacakan dua buah puisi dalam acara: ”Membaca Puisi membaca Indonesia” yang diselenggarakan oleh Masyarakat Indonesia Bermartabat (MIB) dan Rumah Budaya Tembi, 14 Mei yang lalu.

Ini kali kedua ia hadir membacakan puisi di tempat yang sama. Pertama pada saat peringatan Chairil Anwar, dan yang kedua pada saat peringatan hari Kebangkitan Nasional yang sekaligus memperingati 15 tahun reformasi (14/5).

”Ini event-event yang penting,” demikian dikatakan Semendawai ketika ditanya tentang kesediaan hadir dan terlibat dalam acara pembacaan puisi. ”Dengan membaca puisi, bisa tumbuh kesadaran kita dan masyarakat bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri saja, melainkan juga untuk masyarakat sebagai bagian dari bangsa dan Negara ini.”

Menurutnya, Kebangkitan Nasional dan reformasi merupakan peristiwa bersejarah penting bagi bangsa ini terutama untuk mengingatkan dan menggugah kembali semangat perjuangan melawan penindasan di muka bumi.

Sedangkan terkait dengan partisipasinya dalam acara mengenang Chairil Anwar pada tahun lalu, ia menyatakan bahwa Chairil Anwar adalah seorang seniman yang telah memberikan warna di masa-masa awal pergerakan kemerdekaan. Chairil Anwar melalui puisi-puisinya dinilai telah menumbuhkan semangat perjuangan.

”Kita harus mengingat kembali jasa-jasanya dan meneruskan etos perjuangan yang coba dia tanamkan. Etos perjuangan ini sedikit demi sedikit sudah mulai hilang,” ujarnya.

Semendawai, yang pada masa mahasiswa dikenal pula sebagai salah seorang aktivis yang kerap hadir dalam gerakan-gerakan aksi massa di jalanan untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dan demokrasi di Indonesia, memilih puisi karya WS Rendra dan Wiji Thukul. .

Puisi WS Rendra yang dibacakan berjudul ”Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia”. Menurut Semendawai, puisi itu menyatakan tentang pentingnya kita menjunjung tinggi hukum. ”Bila kita tidak menjunjung tinggi hukum, masyarakat akan mengambil hukum di tangannya sendiri sehingga bisa terjadi kekacauan atau chaos,”

Sedangkan puisi Wiji Thukul berjudul ”Apa Penguasa Kira”, menurutnya merupakan puisi perlawanan untuk melawan lupa. Sampai kapanpun ketidakadilan itu tidak akan dilupakan. Walau penguasa silih berganti, perjuangan masyarakat melawan ketidakadilan dan penindasan akan terus berlangsung. Perjuangan yang hampir sama usianya dengan peradaban manusia. ”Thukul mengingatkan kepada para penguasa untuk tidak boleh berbuat kejam dan tidak adil, karena hal itu tidak akan dilupakan oleh masyarakat.”

Terkait dengan Wiji Thukul, salah satu orang yang dinyatakan hilang dan belum ada kejelasan hingga saat ini, Semendawai berharap bahwa kasus ini dan juga korban-korban yang hilang dan dihilangkan secara paksa tidak menjadi X-file atau kasus yang tidak terungkap.

”Negara memiliki kewajiban untuk memastikan apakah Thukul dan korban-korban lainnya masih hidup atau sudah meninggal. Kejelasan ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, terutama oleh aparat penegak hukum. Kita berharap kasus-kasus itu akan ada ujungnya. Rakyat dan keluarga korban pasti akan terus menyuarakan itu demi peradaban yang adil. Akan berbahaya nasib bangsa dan negara ini bila ketidakjelasan menjadi model bagi penegakan hukum,” katanya lagi.

Memang ini semua menjadi harapan bagi kita. Kejelasan dan kepastian nasib Wiji Thukul dan korban lainnya sangat dibutuhkan, bila kita menginginkan perubahan yang lebih baik sebagai bangsa dan negara yang mengedepankan keadilan. Semoga perjuangan yang sudah dilakukan oleh para korban tidak sia-sia.

Yogyakarta, 16 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: