Tinggalkan komentar

Membaca Indonesia dalam Puisi dan Orasi di Rumah Budaya Tembi

Tembi_kebangkitan nasional

Bulan Mei, bagi bangsa Indonesia merupakan bulan bersejarah. Sejarah pencerahan sekaligus juga sejarah kelam. Berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang digagas oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo dan didirikan oleh Dr. Sutomo bersama Gunawan Mangoenkoesoemo dan Soeradji, dinilai menjadi cikal bakal gerakan kemerdekaan Indonesia. Tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

15 tahun lalu, di bulan Mei 1998, ingatan public tentu masih lekat pada serangkaian peristiwa kelam dengan tertembaknya mahasiswa dalam aksi (12/5) yang disusul dengan tragedy kerusuhan pada tanggal 13-15 Mei di Jakarta dan Solo. Gerakan untuk menurunkan Soeharto dari kursi kekuasaannya semakin menguat dan melibatkan berbagai komponen massa sehingga berhasil untuk mendorong Soeharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei.

Mei, masih menyisakan sejarah gelap yang belum terungkap. Pelaku penembakan, sejarah kerusuhan yang masih kontroversi, dan tentang kejelasan nasib orang-orang yang dihilangkan secara paksa.

Di bulan Mei ini, untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2013, Komunitas Masyarakat Bermartabat (MIB) bekerjasama dengan Tembi Rumah Budaya menggelar acara: “Membaca Puisi Membaca Indonesia”. Acara telah dilangsungkan semalam (14/5) di Tembi Rumah Budaya.

Komisioner Siti Nor Laela, ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Abdul harris Semendawai, ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LSPK), dan aktor yang piawai dalam bermonolog serta lekat dengan peniruan suara Soeharto, Butet Kertarajasa. Ketiganya membacakan puisi-puisi yang kental dengan tema sosial-politik.

Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, yang juga telah menyatakan kesiapannya untuk menjadi Calon presiden pada pemilihan mendatang, hadir memberikan orasi kebudayaan.

“Sayangnya Sri Sultan Hamengkubuwono X tidak bisa hadir karena sedang bertugas di luar kota,” dijelaskan Ons Untoro selaku koordinator saat membuka acara tersebut.

Acara dimeriakan dengan pementasan Srandul Suketeki dengan lakon yang mengisahkan tentang seorang Demang yang diturunkan dari kekuasaannya. Para pemain sering melontarkan sentilan-sentilan aktual atas situasi sosial-politik yang tengah berlangsung, sehingga membuat penonton tersenyum dan kadang terbahak.

Turut berpartisipasi membacakan puisi, Umi Khulsum dan Choen Supriyatmi, keduanya adalah guru yang dikenal sangat aktif berkesenian. Juga Angger Jati Wijaya, seorang aktivis gerakan pro-demokrasi yang diketahui merupakan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), yang dikenal sebagia penyair dan aktivis kebudayaan, tampil membacakan puisinya sendiri dan puisi karya Chairil Anwar.

”Peringatan semacam ini tentu penting untuk melawan lupa,” demikian dikatakan Semendawai dalam pembicaraan informal seusai acara. Ia membacakan dua puisi karya Wiji Thukul dan WS Rendra. ”Puisi yang saya bacakan berisi semangat dan peringatan agar agar kita tidak cepat lupa,”

Saat dimintai komentar tentang Wiji Thukul, ia menyatakan bahwa Wiji Thukul adalah seorang penyair hebat yang bergulat dengan persoalan-persoalan rakyat sehari-hari. Mengenai kejelasan nasib Thukul yang hingga saat ini belum diketahui, ia memberikan komentar: ”Tidak hanya Thukul, tapi juga nasib orang-orang yang masih dinyatakan hilang, negara memiliki kewajiban untuk memberikan kepastian. Apakah orang-orang itu masih hidup? Bila hidup, berada di mana? Atau bila sudah meninggal, kenapa, di mana makamnya, dan disebabkan oleh apa? Ini kewajiban negara,”

Mahfud MD dalam orasinya menyoroti tentang kebudayaan yang berkembang. ”Kita tahu bahwa anak-anak muda sekarang banyak berkiblat ke negara lain seperti Amerika, Jepang, dan Korea. Lantas, bagaimana dengan kebudayaan kita sendiri yang dinyatakan sebagai kebudayaan adiluhung?”

Banyak persoalan yang masih terjadi di Indonesia. Ada beragam dis, seperti dis-orientasi, dis-motivasi, dan sebagainya. “Untuk mengatasinya dibutuhkan pemimpin yang tegas dan kuat. Pemimpin yang kuat harus dibedakan dengan pemimpin yang kejam. Bila ingin bersandar pada akar budaya kita, misalnya dalam budaya Jawa, pemimpin harusnya memiliki Hasta Brata, yakni delapan sifat unggulan bagi seorang pemimpin,”

Mahfud kemudian memberikan ilustrasi dari Hastra Brata yang meliputi sifat matahari, bulan, bumi, bintang, angin, api, samudra dan angkasa, yang ke delapannya disebut juga mewakili kearifan dan kebesaran sang Pencipta.

Yogyakarta, 15 Mei 2013

Catatan:

Berikut adalah puisi WS Rendra, salah satu puisi yang dibacakan dalam acara tersebut.

Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia

Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja.
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan.
Amarah merajalela tanpa alamat.
Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.
Pikiran kusut membentuk simpul-simpul sejarah.

O, jaman edan !
O, malam kelam pikiran insan !
Koyak-moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan.
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan.

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan !
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja !
Dari sejak jaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari keinginan para politisi, raja-raja, dan tentara.

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan !
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur !
Berhentilah mencari ratu adil !
Ratu adil itu tidak ada. Ratu adil itu tipu daya !
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil.
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara.

Bau anyir darah yag kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata :
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat,
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa,
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan,
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa,
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya.

Wahai, penguasa dunia yang fana !
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta !
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati ?
Apakah masih akan menipu diri sendiri ?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran gelap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan !

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.

Catatan :
Sajak ini dibuat di Jakarta pada 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: