Tinggalkan komentar

Mengapa Banyak Anak Memperkosa?

karya anak-anak semarang

karya anak-anak semarang

”Mengerikan,” kata istriku di suatu pagi saat diriku menyeruput kopi buatannya yang sudah semakin mantab. Ia memandangi halaman muka koran lokal.

Aku menoleh ke arahnya sambil memasukkan kretek ke mulutku, dan menghisapnya perlahan. Asap mengepul. Beruntung tidak tertangkap kamera dan ditayangkan di televisi. Bukan apa-apa. Asap rokok sekarang sudah seperti barang haram yang menakutkan dan tidak boleh dipertontonkan di depan publik. Ia disejajarkan dengan para penjahat yang harus disamarkan wajahnya, atau juga bagian tubuh sekitar wilayah dada (Sekwilda) perempuan dan juga tindakan Buka Paha Tinggi-tinggi (Bupati), yang pasti akan disamarkan pula. Tidak demikian, apabila minuman keras atau menenggak obat-obatan!

”Kenapa, ya Mas? Hampir setiap hari ada saja pemberitaan satu atau lebih kasus pelecehan atau perkosaan anak yang dilakukan oleh anak? Pelakunya malah sering beramai-ramai,”

”Ya, menyedihkan,”

”Kira-kira kenapa, ya?”

”Ya, tidak tahu,”

”Bagaimana sih? Katanya bekerja untuk persoalan hak-hak anak?” istriku menyodok dengan telak.

Aku terdiam agak lama. Memang apa yang disampaikan oleh istriku benar adanya. Setiap minggu, hampir ada pemberitaan mengenai kasus perkosaan yang dilakukan oleh anak-anak.

Pertanyaan serupa sering mengemuka dalam berbagai pertemuan dengan masyarakat di berbagai wilayah yang pernah aku singgahi. Terngiang-ngiang kembali respon mereka terhadap situasi anak-anak saat ini.

”Karena sekarang tidak ada pendidikan budi pekerti. Anak-anak harus mendapatkan pendidikan karakter,” kata yang sering terlontar dari peserta pertemuan, yang senada dengan pandangan dari para pemerhati yang mengemuka di berbagai media.

”Di tempat kami, pelakunya masih kelas lima SD dan terbukti memperkosa? Nah sikap kita bagaimana?” seorang peserta pelatihan menanyakan padaku beberapa hari lalu.

”Ini pasti karena perkembangan teknologi. Internet dan HP,” orang lainnya berkomentar.

”Anak-anak sekarang memang mengkhawatirkan!” gemas nada seorang ibu menytakannya.

”Mengapa kasus anak malah semakin banyak setelah ada Undang-undang Perlindungan Anak, ya?” pertanyaan menggelayut.

”Hei, kok malah ngelamun,” tegur istriku mengejutkan.

”Ya, sebenarnya kita para orang dewasa yang bersalah,”

“Loh, kok bisa?” protes istriku.

”Dulu mungkin kasusnya sudah banyak, cuma terbatas media yang memberitakannya. Sekarang, tidak hanya media mainstream saja, semua orang bisa membuat berita,s etidaknya di status facebooknya. Masyarakat sendiri juga sudah lebih maju, memiliki keberanian untuk melaporkan, tidak dihantui oleh pandangan tentang aib,” kataku mencoba menjawab.

”Lha, terus mengatasinya bagaimana? Pendidikan moral atau pendidikan budi pekerti atau pendidikan karakter seperti dikatakan oleh banyak orang?” pertanyaan mendesak.

”Ya, sama saja tidak ada gunanya bila tidak diimbangi oleh pendidikan senyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Bila anak diajarkan tentang kebaikan, tapi realitas yang dilihat dan dialaminya menunjukkan kebalikan, maka anak malah bisa semakin frustasi. Pendidikan harus menyeluruh di setiap sendi kehidupan. Artinya, orang dewasa juga harus belajar menunjukkan hal-hal benar kepada anak-anak. Kalau anak-anak sekolah tawuran, sama saja dengan orang dewasa yang juga sering tawuran. Jadi anak-anak malah jadi obyek yang terus dipersalahkan,”

”Tapi perkosaan kasus serius loh,”

”Ya, benar, karena itu untuk mengatasinya tentu perlu keseriusan semua pihak,”

”Jadi mengapa anak-anak berani melakukan perkosaan?”

”Ya, karena orang dewasa mengajarkan demikian,”

Yogyakarta, 3 Mei 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: