Tinggalkan komentar

Kebebasan Berekspresi Itu Mahal Harganya

Beruntunglah, kehidupan berbangsa dan bernegara ini sudah mengalami banyak perubahan sejak tumbangnya rejim Soeharto yang dianggap mewakili Orde Baru. Muncullah masa yang disebut sebagai masa Reformasi.

Perubahan, tentu ada yang mensikapi secara berbeda-beda. Ada yang berubah lebih baik, ada yang lebih buruk, ada pula yang merasa sama saja situasi kehidupannya.

Salah satu perubahan yang bisa disikapi sebagai perubahan yang lebih baik, walau ada pihak yang menyatakan sebagai perubahan yang bisa mengkhawatirkan, adalah kebebasan warga ini untuk menyalurkan ekspresinya.

Pada masa lalu, orang harus bersembunyi dan merasa aman dan nyaman untuk membicarakan situasi sosial-politik. Tidak bisa di sembarang tempat, apalagi tempat-tempat terbuka seperti warung angkringan.

Ekpresi melalui gambar dan tulisan yang berbeda pandangan dengan penguasa? Salurannya pastilah tidak bisa ke media umum, harus melalui media-media alternatif yang tercetak terbatas dan didistribusikan secara terbatas pula, dengan cara-cara rahasia.

Mempertanyakan mengapa Soeharto disebut sebagai Bapak Pembangunan, itu akan menggetarkan nyali orang-orang yang mendengarnya. Mengangkat persoalan sosial, dapat terjadi engkau akan diburu.

Berkumpul juga demikian. Berkumpul di rumah lebih dari lima orang, dan di luar pertemuan-pertemuan formal kampung, walau sekedar arisan, namun melibatkan orang di luar kampung, dapat terjadi ada kunjungan dari aparat Koramil. Mereka bisa mengikuti pertemuan itu, bisa membubarkan bila dianggap berpotensi ”mengacau stabilitas” dengan ukuran menurut penguasa, yang selanjutnya, tuan rumah dipanggil ke ”kantor”.

Ketakutan melanda semua orang sehingga berpikir tentang realitas atau mempersoalkan peristiwa yang ada di sekitarnya yang bersinggungan dengan penguasa di tingkat lokal-pun, tidak ada keberanian. Berbagai vonis siap menanti: Anti pembangunan, Mbalelo, bahkan dianggap sebagai PKI atau tidak bersih lingkungan.

Sekarang, orang bisa bebas berkumpul, bisa berkomentar tentang peristiwa apapun, bisa mengekspresikan pandangannya melalui gambar, tulisan, dan media lainnya, walau kebebasan ini mendapat kritik pula dianggap kebablasan.

Tentu saja, kebebasan ini tidak lahir tiba-tiba dan diberikan secara cuma-cuma oleh penguasa. Perjuangan yang panjang bagi aktivis-aktivis kritis di masa Orde Baru, yang mengalami banyak duka, dari diasingkan, dibatasi aksesnya, diawasi gerak-geriknya, sampai pada ancaman, penangkapan, penculikan, atau terbunuh secara misterius.

Kebebasan yang ada, saya melihat sisi positifnya saja. Kebebasan orang mengekspresikan dirinya untuk menyampaikan pandangan, merupakan kemerdekaan sebagai manusia.

Sebagai contoh di berbagai jejaring sosial , kita bisa lihat kebebasan senyatanya. Tentu ada pembatasan tertentu  sebagai aturan main bagi kita semua, namun tidak mengurangi kebebasan bagi para pengguna  untuk memposting, memberikan dan menanggapi komentar, kadang perdebatan atau malah saling hujat menjadi lebih ramai di ruang komentar dibandingkan postingannya.

Kita bisa melihat kecepatan dan kreativitas bangsa Indonesia membuat berbagai parodi dan ilustrasi situasi melalui foto dan gambar yang lucu (bahkan sering bersifat melecehkan). Sasarannya-pun bukan main-main, dari tingkat RT hingga presiden.

Kita tentu berharap hal ini akan terus berlangsung. Seiring dengan perkembangan pemikiran kita sebagai bangsa, tentu kebebasan ini akan semakin memberikan makna. Maka, tentu kita harus berwaspada bila ada pihak-pihak yang mencoba mengancam keberlangsungan kebebasan semacam ini dan membangkitkan kembali ”ketakutan” sejak di alam pemikiran..

Ocehan malam, Yogyakarta, 22 April 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: