Tinggalkan komentar

Cerpen: Ketika Ia Tiba-tiba Dipersalahkan

Bisik-bisik itu sudah terdengar sekitar semingguan yang lalu.

Di warung Mpok Nah, para ibu setiap pagi memilih-milih sayuran dan lauk-pauk, yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu lima menit, tapi nyatanya bisa betah lebih dari satu jam, untuk mempergunjingkan bisik-bisik itu.

Di Warung angkringan Pak Man, di pintu masuk desa ini, pemuda dan orangtua juga tak kalah memperbincangkan hingga mulut berbusa-busa, yang berlanjut juga di pos ronda, di tengah hentakan kartu-kartu remi yang dijatuhkan.

Penduduk yang tiba-tiba saling berkunjung, saling meminjam alat-alat dapur atau peralatan tukang, sama saja, makin memperhebat bisik-bisik.

Para remaja, sama juga, bisa lebih heboh dalam pergunjingannya.

Bisik-bisik yang tersebar dari mulut ke mulut, bertambah bumbu penyedap, semakin hot saja jadinya. Semua orang tahu. Tapi tetap bisik-bisik namanya. Sebab tak ada satupun yang bertanya langsung kepada Nina, tokoh utama bisik-bisik atau keluarganya, atau kepada Brojolan, sang lurah desa ini.

***

Nina, yang biasa secara rutin melewati jalan tengah kampung dengan seragam putih-birunya, sudah semingguan ini pula tak pernah tampak. Rumahnya terlihat sepi dan selalu tertutup rapat. Bapaknya yang biasa tak pernah absen ikutan nongkrong di gardu ronda, juga tak tampak. Ibunya, demikian pula, tak pernah singgah ke warung Mpok Nah. Padahal semua orang yakin, keluarga itu belum keluar dari desa ini.

***

Rontak, pemuda yang baru lulus SMA tahun kemarin berulang kali berusaha untuk tidak mau mendengar bisik-bisik itu. Tapi ia terasa terkepung. Di setiap jalan, di setiap ruang, dalam perjumpaan dengan sesama warga, pastilah itu menjadi topik utama.

”Gosip aja, fitnah jadinya,” Rontak pernah melontarkan komentarnya saat menyeruput kopi pahit di angkringan Pak Man.

Reaksi berlebihan dari semua yang ada di warung itu. Satu sama lain saling memberikan argumentasinya, bahwa itu adalah fakta.

”Apa kalian menyaksikan sendiri? Kok yakin-yakinnya,” sergah Rontak dengan nada agak tinggi.

”Ya, tidak sih. Tapi, kata Bineng, ia menyaksikan kejadian itu?” Tri pelan menjawab.

”Nah, semua kan katanya. Katanya.. katanya… lalu berkembang gak karuan,” Rontak lagi.

”Ya, sudah, kalau tidak percaya, gak usah ngotot,” Minun komentar, selanjutnya menghembuskan gumpalan asap dari mulutnya, dengan membentuknya dalam bulatan-bulatan kecil.

”Kalau benar, kenapa semua diam saja?” Rontak.

Semua diam. Terpaku. Sibuk sendiri-sendiri. Rontak menatap satu persatu. Lalu membayar minuman kepada Pak Man yang juga menunduk, lalu pergi.

Angin yang bermain, telah membuat dedaunan menari-nari. Bulan, masih malu-malu menampakkan diri, walau kadang awan yang nakal, memunculkan sosoknya sesekali.

***

Hari memang masih pagi. Matahari juga belum sempurna menyapa dunia. Rontak mencari ayam jagonya yang lepas dari kandang. Di sebuah kebun, ia tertegun. Sosok yang berkelebat keluar dari kamar mandi luar, dan bergegas masuk ke dalam rumah. Hanya sekejab.

Sosok kurus, dengan wajah pucat, tatapan dingin, terlihat saat beradu pandang dalam hitungan detik. Rambut panjang yang terurai lepas, berjingkratan menepuki punggung sosok itu.

Rontak terpaku. Sosok itu terasa lekat dalam benak Rontak. Terlihat berubah total dari sosok yang ia kenal selama ini. Sosok perempuan muda yang selalu ceria dan murah senyum. Ringan langkah bersenandung menyusuri jalan tengah perkampungan dan melewati depan rumah Rontak. Kadang, atau bisa dikatakan sering, Rontak serin g  menunggu sosok itu lewat. Ialah Nina, anak kelas tiga SMP di kota Kecamatan.

***

”Mengapa kamu di sini, Rontak?”suara dari belakang dirinya mengejutkan. Rontak menoleh dan membalik tubuhnya. Bapaknya Nina.

“Ayam saya lepas, Pak”

Keduanya diam. Berhadapan tak berpandangan.

“Maaf, Rontak,” kata sang Bapak.

”Mengapa Pak?”

Bapak itu tidak menjawab, berjalan sambil menepuk bahu Rontak. Masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.

***

Rontak merasa orang-orang di kampungnya menjauh darinya. Sapanya terbalas dengan tatapan yang sinis, kemudian membuang muka. Di Angkringan Pak Man, saat ia duduk, orang-orang bangkit menjauh. Di Pos ronda, kehadirannya, membuat orang menjadi sibuk dan memiliki agenda tiba-tiba.

”Kenapa?” Rontak bertanya kepada orang yang telah dianggap sebagai sahabatnya, saat sengaja berkunjung ke rumahnya di senja menjelang Maghrib. Sahabatnya terlihat bingung dan berulang kali menoleh ke sekeliling. Seakan khawatir ada orang mengetahui ia tengah bersama Rontak.

Setelah dianggap aman, Sahabatnya segera menarik Rontak ke dalam rumah, langsung membawanya ke kamar. ”Kamu terlalu berani, Rontak,”

”Maksudmu?”

”Gila!”

”Kok?”

”Apa yang kamu lakukan? Pak Brojo murka kepadamu,”

”Lah, biar saja. Semua orang hanya bisa menyatakan prihatin. Padahal terus saja bergosip. Saat melihat Nina dan bertemu Bapaknya, aku jadi penasaran. Berulang kali ke rumahnya, sampai akhirnya diterima dan diajak masuk ke rumahnya. Hanya bapaknya yang akhirnya menceritakan kejadian itu. Lah, aku merasa, pemimpin kok bermoral bejad. Jadi aku dorong dan antarkan Bapaknya Nina untuk melaporkan ke polisi.”

“Kita sih prihatin semua, tapi mau bagaimana lagi?”

”Sudah banyak kasus. Sudah banyak perempuan desa ini jadi korban. Dunia sudah berubah, kita tidak bisa mendiamkan,” Rontak, nada suaranya terdengar bergetar terlahir dari perasaan gemas.

”Rontak….” suara sahabatnya terpotong seiring dengan Rontak yang bangkit dan segera meninggalkannya/. Keluar dari pintu belakang, mengendap-endap seperti maling. Rontak ingin terbahak. Tapi ia merasa memang harus melindungi sahabatnya agar tidak diasingkan pula.

***

”Kalau kamu suka dengan Nina tidak begini caranya, Rontak!” kakak sulungnya yang tinggal di desa sebelah langsung menyemprot saat ia tiba di rumah, di ruang tamu. ”Jangan sok-sok-an mau jadi pahlawan. Kamu tahu akibatnya? Kios harus dikosongkan hari ini juga. Rontak…rontak… ”

Bapak dan ibu yang duduk di sebelah kakaknya hanya terdiam, memandangi Rontak. Mereka berdua kehilangan pekerjaan menggarap sawah dekat Balai Desa.

***

Malam ini memang bukan malam purnama. Di belakang rumah, Rontak menggelar tikar, di sela pepohonan. Memandang langit. Tanpa bintang-bintang gemerlap.  Suara angin menderu.

Rontak menyilangkan kedua tangannya, menyangga kepala. Kelelahan dan kemarahan tertahan. Kabar sore tadi, ia dipanggil bersama bapaknya Nina untuk datang ke Polsek. Ada pengaduan mereka berdua dianggap melakukan pencemaran nama baik. Pelapornya Pak Brojolan.

Rontak mengutuki pelajaran-pelajaran yang diterimanya saat sekolah. Sangat berbeda dengan apa yang dilihat dan dialaminya. Kekuasaan, memang bisa mengalahkan kebenaran. Ini baru tingkat desa, bagaimana dengan kekuasaan yang lebih besar di tingkat yang lebih tinggi.

Pak Brojolan, kepala desa, sekaligus tuan tanah. Lebih dari 60% tanah di desa ini adalah tanah miliknya. Ribuan orang tergantung kehidupannya dari  pekerjaan yang diberikan oleh Pak Brojolan.

“Kalian cabut laporannya, lalu datang ke pak Brojolan meminta maaf,” petugas kepolisian menyarankan demikian, “agar kasusnya semua selesai. Kalian enak, kami juga enak.” Terngiang-ngiang peristiwa di kantor Polsek.

Hawa dingin tiada dirasa oleh Rontak. Nyamuk-nyamuk yang berpesta mengerubuti tubuhnya juga tidak dihirau. Tiba-tiba ia tersenyum. Bangkit, melipat tikarnya, masuk rumah sambil bersenandung lagu “bongkar”-nya Iwan Fals.

Rencana apa yang tengah dipersiapkan oleh Rontak. Entahlah. Ia tidak mengabarkannya padaku.

Yogyakarta, 21 April 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: