1 Komentar

Orang-orang yang Dianggap Tiada

Dunia memang terus bergerak. Perubahan demi perubahan terus berlangsung. Seringkali teramat cepat, dan bila tidak siap, justru kita yang menjadi makhluk asing. Kita, sebagai manusia, beridentitas. Setidaknya nama.  Indonesia telah memasuki babak baru dalam penataan  administrasi kependudukan dengan memberlakukan E-KTP. Identitas yang berlaku secara nasional. Harapan, tidak ada razia dan memulangkan orang dari wilayah satu ke wilayah lain karena status kependudukannya.

Tapi, sayang, tidak semua pemilik nama, bisa memiliki identitas. Jumlahnya pastilah tidak sedikit. Merekalah orang-orang yang tidak beruntung. Sering diperbincangkan, namun belum ada tanda-tanda untuk mengatasinya.

Kepemilikan Nama,  seakan tiada berarti, tatkala dalam mensiasati hidup, harus senantiasa mengembangkan kreativitasnya dengan memanfaatkan berbagai ruang publik yang bisa dijadikan sebagai tempat berlindung. Berlindung dari  hujan dan panas, sebagai tempat persinggahan beristirahat, dan tinggal. Setelah mengarungi lautan kehidupan dengan  mengais remah-remah sisa guna mempertahankan kelangsungan hidup dirinya dan keluarga.

Ketidakberuntungan sebagian besar orang di bumi yang konon sangat kaya raya, tapi tiada terbagi rata, diciptakan stigma bahwa mereka adalah orang-orang pemalas saja.

Bagaimana mungkin mereka adalah para pemalas? Bila tidur hanya hitungan jam, setelahnya sibuk mempersiapkan diri menghadapi pertarungan, berkotor-kotor dalam lumpur atau sampah, terhujani gas-gas beracun dari kendaraan bermotor yang jumlahnya tak terkontrol, bermandikan  keringat setelah menggerakkan segala otak dan otot.

Mereka ada, namun dianggap tiada. Nyatanya ada, dipandang sebagai pengganggu pandangan mata. Pengganggu keindahan kota. Bibit-bibit kriminalitas. Maka, dalam kerja keras yang tiada henti, mereka, orang-orang bernama namun tersia sehingga dianggap tiada guna dan sama saja tanpa nama, seakan menjadi hewan buruan agar binasa.

Ah, ini adalah urusan manusia. Manusia yang hidup dengan rasa dan pikiran. Manusia bukanlah barang yng mudah ditata dan ditunjukkan perkembangannya. Manusia bukan sekedar hitungan angka, sebab satu jiwa tetap bermakna.

Sesungguhnya hidup untuk apa dan siapa? Sesungguhnya bangsa dan negara untuk apa dan siapa? Sesungguhnya para pemimpin ada, untuk apa dan siapa? Kesejahteraan seharusnyalah bisa  dirasakan semua. Maka jangan sampai ada manusia sebagai bagian dari bangsa dan negara ini yang tersia.

Ia ada, dan harus dianggap ada. Jangan sesekali menyatakan tidak pernah ada. Sebab itu berarti mengingkari hakekat kemanusiaannya.

Ocehan pagi hari, 8 Januari 2013 dilanjut senja 26 April 2013

One comment on “Orang-orang yang Dianggap Tiada

  1. Sembilan anak drop out Sekolah bertekad, siapa lagi yang memikirkan dan mempejuangkan perubahan nasib kita? Harus bersatu arisan melakukan perubahan, jadilah mereka urunan piring, wajan, panci yang dimiliki untuk membuat warung makan ditepi jalanan. Satu, dua dan akhirnya tiga warung telah berjalan kelak akan berkembang sembilan warung. Hari itu gerombolan Satpol Pepe menghancurkan harapan, padahal hutang modal pada sebuah Bank baru dicicil dua bulan. Semua gara-gara lomba keindahan kota, padahal walikotanya juga mantan kere tapi munggah bale. Bangsaaaat, Kau penguasa……….!
    Kenapa peristiwa kegagalan berulang dengan mengatas namakan kebijakan, ratusan pengecer kaosku dipasar tradisional bangkrut? Mereka tak mampu membayar pinjaman tagihan nota dariku……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: