1 Komentar

Malam Selasa Kliwon

Ini hari senin. Senin malam artinya malam selasa. Ingatan mengarah pada kenangan tentang malam selasa kliwon, walau malam nanti memang bukan malam selasa kliwon.

Menjelang pertengahan tahun 1980-an, tepatnya tahun 1984, saya mulai tinggal di Yogyakarta, di Jalan Kaliurang KM 11. Sebuah rumah yang dijadikan kantor sebuah NGO, terletak di pinggir jalan. Rumah sendiri, jauh dari tetangga, kanan-kiri adalah sawah.

Tidak seperti sekarang yang melewati tengah malam jalan masih ramai dengan lalu-lalang kendaraan, pada masa itu, selepas maghrib sudah sepi sekali. Angkutan terakhir Yogya-Kaliurang sudah menghilang sekitar pukul lima. Hal yang paling menakutkan bagi saya adalah berjumpa dengan ular. Itu kerap terjadi.

Tahun 1985, bersama kawan-kawan mengontrak di dusun Gentan, KM 10, dan rumah di KM 11 hanya dijadikan sebagai sekretariat saja. Di sini lebih menyenangkan, karena berdekatan dengan tetangga.

Tahun berapa, saya terlupa, ada seorang warga meninggal pada malam Selasa Kliwon. Seorang kawan mengajak saya untuk ikut menjaga kuburannya.

”Ini harus dijaga tujuh malam agar tidak dicuri,”

”Loh?!” saya dengan heran.

”Untuk pesugihan,” jelasnya.

Walau tidak sepanjang tujuh malam, beberapa malam saya ikutan berjaga di kuburan kampung, yang letaknya tidak jauh dari rumah kontrakan. Di areal pemakaman tidak terlihat menakutkan karena beberapa lampu meneranginya. Terpikir, kalau setiap areal pemakaman selalu terang, pastilah kuburan bukan hal yang menakutkan.

Beberapa tikar terhampar. Menunggu, banyak cara orang memanfaatkan waktu. Ada yang bermain kartu, ada yang tiduran, ada pula yang ngobrol berbagai hal.

”Kepercayaannya, bila ada orang yang meninggal pada malam Selasa Kliwon, ada penganut ilmu hitam yang akan mencuri kain kafannya untuk pesugihan. Mereka akan mendatangi makam, berperilaku seperti anjing. Saat menggali makam, mereka menggunakan tangan, dan mencopot kain kafan dengan mulutnya,” kira-kira demikian penjelasan yang saya terima dari seseorang yang lupa pula siapa.

Pengalaman ini pernah dituangkan menjadi cerpen berjudul ”Anjing” yang dipublikasikan di buletin ASPIRE, yang beredar di DIY dan Jawa Tengah. Sayang saya tidak memiliki dokumentasinya lagi.

Ingatan tentang hal ini muncul kembali ketika membaca cerpen Kuntowijaya di SKH Kompas pada tahun 1997. Cerpen berjudul ”Anjing-anjing Menyerbu Kuburan” yang mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas.

Dan hari ini, entah mengapa muncul ingatan terhadap malam Selasa Kliwon. Hal itu pula yang menggerakkan jemari memencet tombol tuts keyboard, menghadap ”sang maha tahu” mbah google, dan bertanya kepadanya.

Mengetik ”Malam Selasa Kliwon”, tercatat 143,000 hasil yang didapatkan untuk segera disambangi. Tentu saja tidak semua harus terbaca, bukan? Selanjutnya membuka tulisan-tulisan yang terkait, dengan hal yang telah tertulis di atas.

(Bersambung)

Re-posting dari SINI

One comment on “Malam Selasa Kliwon

  1. […] tulisan  Sebelumnya: Malam Selasa Kliwon , terdapat beberapa versi tentang ancaman pencurian terhadap kuburan dari orang yang meninggal di […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: