Tinggalkan komentar

Cerpen: Kisah Kasih Kasut yang Kusut

KISAH KASIH KASUT YANG KUSUT

Cerpen Odi Shalahuddin

Morida, Rida, dan Ida, kini wajah itu hadir bergantian dalam kepala. Sesekali wajah ibunya, memberikan senyum, yang terasa bagai godam menghantam dada. Ketiga perempuan itu? Ah, mereka juga warga desa ini, walau berbeda kampung. Semua sudah berkeluarga. Hidupnya kelihatan bahagia. Kasut memang tidak datang waktu pernikahan mereka, tanpa alasan, walau diundang.

Kasut namanya. Bukan alias. Panggilan dan nama lengkap. Memang Kasut. Pendek. Pendek namanya, tapi tidak pendek ukuran tubuhnya. Pun tidak jangkung. Lantaran kurus, jadi terlihat tinggi.

Tinggal di Kampung Apus, seberang kali banjir, yang tak pernah kebanjiran. Di musim penghujan saat ini, bila enggan berjalan jauh melewati jembatan, bisa langsung nyebrang lewat kali, tanpa perlu takut kebawa arus. Aliran airnya kecil, banyak pasir dan bebatuan. Mudah untuk diloncati. Tak tahu bagaimana sejarahnya bisa dinamakan kali banjir. Mungkin dimaksudkan untuk menghindari bahaya banjir. Seperti kepercayaan, yang juga hidup di masa modern ini, sesuatu yang dianggap gossip, dianggap kebohongan, justru kemudian terbukti sebagai kebenaran. Begitukah? Entah.

Kasut umurnya sekitar 35 tahunan. Status bujang. Masih perjaka ting ting. Ia berani bersumpah untuk itu. Berpacaran belum pernah. Tapi senang dengan perempuan, ia berani menjamin, sudah pernah, bahkan berkali-kali. Ia tidak mau menjadi munafik.

Tentang itu, bahkan ingatannya melayang sejak kelas 6 SD, betapa ia selalu terbayang wajah Morida, cucu kesayangan mantan Kades yang masih dihormati oleh warga desa kendati telah lebih dari tujuh sang pengganti Kades datang silih berganti.

Kasut cukup tahu diri. Mendekat saja tak berani. Mencuri pandang berulang kali. Terbayang sampai mimpi. Cintanya ia simpan sendiri. Hingga kini.

Ya, itu bila hendak kau tanya dirinya tentang keaslian sebagai laki-laki. Artinya, walau belum kawin, walau belum pernah berpacaran, ia masih punya cinta, cinta kepada perempuan.

Tinggal memang, bagaimana menunjukkan kejantanannya sebagai laki-laki bila kawin-pun belum pernah dialami? Itulah yang memang tengah mengusik diri, saat ibunya tak pernah berhenti, bertanya tentang pilihan pujaan hati, dan kapan akan dibuat tanda jadi.

“Ibu, pasti bisa tertidur nyenyak apabila bisa menimang cucu darimu Kasut,” ibunya pada suatu senja, di beranda, ketika langsung duduk di sisinya, selesai menghantarkan kopi untuk Kasut.

Kasut terdiam. Soal cucu, ibunya pastilah tak kekurangan. Dari dua kakaknya, sudah ada lima cucu. Dari empat adiknya, hm… sepuluh cucu. Kurang apalagi?

Senja-pun terlewati dalam diam. Ibunya sesekali mencuri pandang ke wajah kasut yang sudah kelihatan kusut, dengan mata menerawang ke barat, sampai gelap menyelimuti.

* * *

Kasut bertekad bulat. Ia harus membangkitkan cinta. Mulai sekarang! Perkataan ibunya terngiang-ngiang. Ibunya yang telah menua. Sudah mendekati angka enam puluh usianya. Tidur nyenyak? Ah, semakin Kasut merasa bersalah.

Selain dengan Morida, yang masih diingatnya hingga kini. Saat masuk ke SMP, ia juga teringat dengan Rida. Kasut tersenyum sendiri. Apakah lantaran namanya hampir sama dengan Morida, maka wajahnya selalu terbayang-bayang pula? Tapi sekali lagi, sikapnya hampir sama. Jangankan menyatakan cinta, mendekat saja tak pernah dilakukannya. Saat pernah berpapasan mata, senyum telah terlontar darinya, Kasut malah jadi panik. Nasib Rida serupa dengan Morida, hanya dihadirkan dalam bayang-bayang dan sesekali terjumpai dalam mimpi-mimpi.

Gila! Kebetulan atau tidak, tapi ia yakin juga Tuhan telah mengaturnya, saat SMA, yang tak tuntas ditempuhnya, ia mengenal Ida. Bernasib sama. Tak berani ia berkata-kata pun hanya untuk bersapa.

Morida, Rida, dan Ida, kini wajah itu hadir bergantian dalam kepala. Sesekali wajah ibunya, memberikan senyum, yang terasa bagai godam menghantam dada. Ketiga perempuan itu? Ah, mereka juga warga desa ini, walau berbeda kampung. Semua sudah berkeluarga. Hidupnya kelihatan bahagia. Kasut memang tidak datang waktu pernikahan mereka, tanpa alasan, walau diundang.

Saat kelas dua SMA, Kasut pergi ke kota, dengan semangat membara, bercita merubah nasib keluarganya. Bapak meninggal, kedua kakaknya menikah dan sibuk dengan urusannya sendiri. Kasihan ibu dengan empat adiknya.

”Biarlah Kasut berhenti sekolah, tapi adik-adik jangan,” demikian Kasut kepada ibunya, yang menyambutnya dengan air mata.

Tapi kota bukanlah surga. Tidak seperti di televisi yang menggambarkan keindahan gedung-gedung menjulang tinggi, atau para pelaku sinetron dengan rumah dan mobil mewah, kurang kerjaan, hanya mengumbar masalah cinta. Hidup seperti itu, tentulah sederhana. Demikian pikir Kasut.

Di kota, lantas kemana? Itulah yang dibingungkan Kasut. Saat turun dari bus, seseorang dengan ramah menawarkan bantuan membawakan tasnya, yang langsung kabur entah kemana. Hanya dengan pakaian yang melekat di tubuh, kasut menyusuri jalan. Entah jalan apa dan di mana?

Gedung-gedung menjulang, kendaraan yang hilir mudik, orang-orang yang semuanya tampak bergegas, tak satupun yang menyapa atau bisa di sapa. Senyum kecut Kasut terlahir bersamaan dengan suara perut yang tidak bisa diajak kompromi, minta diisi.

Ah, tak perlulah bercerita tentang pengalaman yang memang tak hendak dikenangnya. Singkat cerita, Kasut pulang ke desa. Kerja serabutan di sawah yang kekurangan tenaga. Bermain-main dengan lumpur, sapi sewaan untuk membajak. Kasut patut bersyukur, orang harus antri untuk menggunakan tenaganya. Hingga walau tak berlebihan, biaya sekolah empat adiknya bisa terpenuhi. Makan sekeluarga-pun tak pernah senyap dalam sehari-pun. Ia merasa sangat bersyukur tentang itu. Cintanya adalah pada tanah, pada lumpur, pada sapi, pada padi, pada tumbuh-tumbuhan, sang pemberi hidup. Ialah yang memang dimuliakan seharusnya, demikian pikiran Kasut.

Maka, sekarang, saat sang ibu bertanya atau lebih tepatnya mendesak agar ia segera menemukan perempuan yang dicinta, barulah ia teringat tentang masa lalunya.

”Bengong aja, Mas. Kesambet syetan lewat loh,”  seorang perempuan yang memang tak muda lagi, membuatnya terkejut, berjalan pada jalan setapak samping rumahnya.

Malam memang telah datang. Ia menoleh ke kiri, sang ibu sudah tidak ada lagi. Entah kapan ia pergi. Mungkin ke dalam.

”Oh,” Kasut tergagap.

”Nah, kan, bengong,” kata perempuan itu lagi sambil tersenyum menahan laju langkah kakinya. Terlihat dalam remang cuaca lampu. Dialah Si Rosidah, janda kampung tanpa anak, anak bungsu Mbah Syam yang rumahnya tiga petak dari sini. Dua hari setelah pernikahannya, sang suami pergi entah kemana, menggondol motor baru adiknya Rosidah dan perhiasan mertuanya.

”Kamu mau menikah dengan saya, Rosidah,” tiba-tiba keluar kata-kata itu dari Kasut. Membuat dirinya terkejut sendiri. Apalagi Rosidah yang tiba-tiba diam membatu dengan sorot mata yang terlihat tak menentu.

Yogyakarta, 24 Januari 2013, 15:40.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: