Tinggalkan komentar

Seni di Mata Parmin dan Paimin

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com

Catatan:

Menemukan tulisan lama. Lucu juga saat membacanya. Walau berpikir juga, tampaknya masih relevan dengan situasi saat ini. Saat perbenturan nilai dan budaya lokal dengan budaya asing. Di manakah kita berpijak?

Salam

_____________________

“Ngapain sih pakai nyetel yang begituan. Ganti gelombang saja,: Parmin bersungut kepada Paimin.

Paimin tidak mengingahkan. Malah tangannya bermain di atas meja. Tek… tek… – tektektektek – tek. ”Hoooom surem-surem diwangkoro kingking…”

Parmin mengeluh, bangkit dan mengganti gelombang radio ke saluran FM. Seorang wanita dengan suara yang dibuat-buat: ”Hallo kawula muda, inilah lagu dari ”anu” yang bertahan di puncak tangga dan belum ada yang mampu menggoyahkan.”

Wow, ah, ah, ah, gedebak-gedebuk, jreng-jreng-jreng. Parmin menggoyangkan seluruh tubuhnya.

”Ah, dasar selera rendah,” sungut Parmin waktu lagu berganti dengan suara dalang.

”Bising, ganggu telinga,” komentar Paimin pendek.

”Nggak bakat jadi modern loe,”

”Biarin”

Parmin mencoba mengganti gelombang. Tapi tangan Paimin sudah melindungi radio. Parmin terus nyerocos ngejek Paimin.

”Siapa bilang wayang tidak mutu? Kamu kan Cuma ikut-ikutan teman-teman kamu. Kamu mau tahu, di dalam wayang banyak yang bisa kita ambil. Ajaran-ajaran baik yang begitu banyak. Lagu gedebak-gedebuk, sudah buat polusi suara, maksudnya juga tidak jelas,”

”Sudah, sudah, ngomong sama kamu sama saja ngomong sama orang primitif. Tidak mengikuti jaman,” Parmin langsung ngeloyor pergi. Paimin hanya geleng-geleng kepala melihat sikap adiknya.

Tapi tiba-tiba dia tersentak, sikap adiknya adalah sikap-sikap yang tidak berbeda jauh dari teman-temannya dan mungkin bagi kebanyakan pemuda lainnya. Mengapa bisa begitu?

Mengapa mereka jadi berubah sinis terhadap wayang atau bisa dipastikan pula terhadap kesenian-kesenian rakyat lainnya? Dan kenapa pula bisa dengan cepatnya mereka berkesimpulan bahwa dengan mencintai yang berbau luar negeri dan melakukannya mereka akan menjadi manusia modern?

Paimin bertanya-tanya, apa sesungguhnya yang menyebabkan banyak orang lari dari kesenian rakyat. Paimin jadi ingat radio dan televisi. Hampir setiap hari terdengar lagu-lagu berbagai jenis yang tidak ia ketahui perbedaan-perbedaan istilah-istilah yang ada. Dance group yang mengiringi setiap lagu, film-film yang melukiskan kehidupan wah, iklan-iklan yang menawarkan untuk menjadi manusia modern harus memakai ini, memakai itu yang diproduksinya.

Ya, begitu sering acara-acara tersebut muncul, sehingga begitu cepat tergusur dari pikiran untuk menikmati. Entah siapa yang memulai ejekan: kuno, selera rendah, orang primitif dan ejekan yang membuat panas ditunjukkan bagi penggemear ataupun orang yang berkecimpung dalam kesenian rakyat.

”Tapi apakah semua orang sudah meninggalkanannya?”  tanya Paimin dalam hati. Ah, tidak juga. Masih banyak orang yang mencintai kesenian rakyat. Ya, dengan kesempatan yang begitu kecil, yang harus bersusah payah untuk mempertahankan keberadaannya.

Paimin jadi teringat kepada Bapaknya yang menjadi koordinator salah satu kesenian rakyat. Bapak yang mengeluh sulitnya mencari dana. Atau dana yang tiba-tba muncul untuk pementasan dalam rangka menyambut tamu, sehingga pernah bapak berkelakar, ”mudah-mudahan saja banyak tamu dari kota, agar bisa pentas.”

Paimin merasa bingung, banyak orang-orang berteriak mengkhawatirkan kelanjutan kesenian rakyat, banyak orang menggembar-gemborkan betapa pentingnya melestarikan warisan nenek moyang, banyak orang berharap agar pemuda-pemudi turut berpartisipasi untuk melanjutkan kelangsungan kesenian rakyat. Dalam kenyataannya terlampau sulit.

Kita semua bisa melihat jalan yang terseok-seok untuk sekedar mempertahankan keberadaannya, apalagi untuk mengembangkna diri.

Dengan tatapan mata kosong, Paimin berpikir keras untuk membentuk bayang-bayang dalam pikirannya sehingga menjadi sosok yang mempunyai arti sebagai jalan keluar. ”Seharusnya dibiarkan” terlontar kata itu secara tiba-tiba. Ya, bukankah anak kecil dapat menyanyikan lagu cinta karena sering menyaksikan di televisi atau mendengarkan di radio setiap hari?

Paimin merasa optimis kesenian rakyat dapat sejajar dengan kesenian lainnya yang membanjiri dari negeri seberang. Lihatlah dan dengarkan laras gamelan yang begitu kaya, tembang-tembang yang penuh filsafat kehidupan, tari-tarian yang kaya akan gerak, akrobatik yang melebihi sirkus, dan lain sebagainya.

Tapi bagaimana cara membiasakannya? Paimin tambah bingung. Membentuk kelompok-kelompok? Membuat gedung-gedung pertunjukan?

Harapan-harapan, keluh Paimin. Tapi setidak-tidaknya bila di rumah dan di sekolah-sekolah turut berpartisipasi untuk mengembangkan dan menciptakan apresiasi seni tradisional dan memberikan kesempatan penuh, masih akan ada yang mencintai dan berkeininginan untuk mempertahankan dan mengembangkan kesenian rakyat…..

“Harapan pula,” desis Paimin.

(Tulisan yang pernah dimuat di Buletin Petani, Edisi XIII, November 1989)

Sumber foto dari SINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: