Tinggalkan komentar

Bertold Brecht: Jika Hiu Itu Manusia

JIKA HIU ITU MANUSIA

Bertold Brecht, Kalendergeischichten

(dikutip dari Everett Reimer, 1971)

Hiu - Okezone

“Jika hiu itu manusia,” tanya gadis kecil anak induk semang Pak K kepadanya, “apakah mereka akan bersikap lebih ramah kepada ikan-ikan kecil?”

“Tentu saja,” jawab Pak K, “jika hiu itu manusia, mereka akan membangun kotak-kotak yang kukuh untuk tempat ikan-ikan kecil did alam laut. Di dalam kotak akan ditaruh berbagai jenis makanan, tanam-tanaman serta hewan-hewan kecil juga. Ikan hiu akan menjaga agar kotak-kotak itu senantiasa berisi air yang segar, dan menjaga agar kesehatan selalu terjamin. Bila, umpamanya ada seekor ikan kecil yang terluka siripnya, maka segera akan dibalut aga ia jangan sampai mati sebelum saatnya tiba.

Supaya ikan-ikan kecil tidak menjadi murung, secara berkala akan diselenggarakan pesta air yang meriah; karena ikan yang berbahagia rasanya lebih enak daripada ikan yang dirundung duka.

Tentu juga akan ada sekolah-sekolah did alam kotak-kotak itu. Di sana, ikan-ikan akan belajar bagaimana cara berenang menuju mulut ikan hiu. Mata pelajaran seperti geografi juga akan diberikan agar mereka dapat mencari di mana sang hiu itu berada, yang mungkin sedang bermalas-malasan di suatu tempat.

Mata pelajaran utama pastilah pendidikan-moral ikan kecil. Kepada mereka akan diajarkan bahwa hal yang paling mulia, paling indah, ialah apabila ikan kecil bersedia mengorbankan dirinya secara sukarela, dan bahwa mereka semua harus percaya kepada ikan hiu, terutama kepada janji hiu untuk memberikan masa depan yang gilang-gemilang.

Hiu akan mengajarkan bahwa masa depan yang diidam-idamkan itu hanya akan tercapai bila mereka bersedia untuk patuh. Mereka musti menghindari semua kecenderungan yang rendah, materialistis, dan Marxis, dan segera memberitahu kepada hiu jika ada diantara mereka yang menunjukkan tanda-tanda mempunyai kecenderungan seperti itu.

Jika hiu itu manusia, tentu akan ada juga kesenian. Akan ada lukisan-lukisan gigi hiu yang bagus-bagus yang seluruhnya berwarna-warni sangat indah, lukisan mulut dan tenggorokan hiu sebagai arena bermain yang nyaman di mana ikan kecil dapat berguling-guling dan bercengkrama.

Teater-teater di dasar laut akan dinyanyikan pertunjukan-pertunjukan yang mengisahkan ikan-ikan kecil secara heroik berenang dengan penuh semangat masuk ke dalam tenggorokan ikan hiu.

Musik juga begitu merdunya, sehingga suaranya dapat membimbing ikan-ikan kecil dengan penuh hasrat menuju tempat-tempat peribadatan dan dibekali dengan ajaran-ajaran yang luhur, mereka akan berduyun-duyun masuk ke dalam tenggorokan hiu. Pasti akan ada kepercayaan untuk dianut.

Akan diajarkan bahwa hidup yang sesungguhnya baru dimulai di dalam perut hiu.

Jika hiu itu manusia, maka ikan-ikan kecil tidak lagi, sebagaimana keadaan sekarang, berkedudukan sederajat. Beberapa dari mereka akan diberi kedudukan di kantor-kantor dan diberi jabatan lebih tinggi daripada lainnya.

Ikan-ikan yang lebih besar malah akan diijinkan untuk memangsa yang lebih kecil. Itu akan sangat menyenangkan bagi para hiu, karena dengan begitu mereka akan lebih sering memperoleh kudapan yang lebih gemuk untuk dilahap.

Hal paling penting bagi ikan-ikan kecil, yaitu bagi mereka yang berkeduudkan di kantor-kantor, mereka harus selalu menjaga pengadaan ikan-ikan kecil untuk didik menjadi guru, pejabat, insinyur perancang kotak, dan sebagainya. Singkat kata, akan ada kebudayaan di dalam laut jika hiu itu manusia.

***

Sumber: leaflet Yayasan SAMIN, tanpa tahun (publish sekitar tahun 1989)

Sumber foto dari SINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: