Tinggalkan komentar

Membangun Kebahagiaan Sebagai Bangsa

Kwartarini

Beberapa hari lalu, tepatnya 10 April 2013, saya menghadiri salah satu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Satu Nama Yogyakarta yang tengah merayakan ulang tahunnya ke 15.

Kegiatan tersebut adalah Round Table Discussion mengenai “Gross National Happiness: Paradigma Baru Pembangunan”. Acara ini menghadirkan para pembicara yakni Kwartarini Wahyu Yuniarti, MMedSc, Ph.D, Hira Jamtani dan Mohammad Sobary MA. Acara berlangsung di sekretariat Yayasan Satu Nama. Di sela acara, para peserta juga dihibur oleh Sujud Kendang, pengamen yang telah puluhan tahun malang melintang di Yogyakarta dengan alat Kendang dan lagu-lagu parodinya.

Sujud Kendang

Sujud Kendang

Tema ini menarik perhatian, mengingat selama ini kita hanya mengenal GDP/GNP sebagai tolak ukur bagi kemajuan suatu Negara yang diadopsi oleh hampir seluruh Negara, termasuk Indonesia.

Pada masa Orde Baru, kebijakan pembangunan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi yang mengadopsi teori Rostow (ekonom Amerika Serikat yang dikenal sebagai Bapak Teori Pembangunan dan Pertumbuhan), telah diaplikasikan oleh Soeharto melalui Pembangunan Lima Tahun (Pelita) menuju pembangunan jangka panjang Indonesia.

Tahapan berdasarkan teori Rostow adalah: masyarakat tradisional, prakondisi tinggal landas, masyarakat tinggal landas, menuju kedewasaan dan konsumsi tinggi.

Ongkos yang dibayarkan untuk mengejar kemajuan dalam bidang ekonomi sering terasa terlalu tinggi dibandingkan dengan kemajuan yang dicapai. Pemanjaan terhadap ekonomi, terjadi eksploitasi lingkungan dan ketertindasan manusia.

Negara kecil bernama Bhutan telah menawarkan alternatif model pembangunan dengan konsep Gross National Happiness (GNH), yang menyapa manusia bukan hanya dari satu sisi saja.

GNH diterjemahkan ke dalam empat pilar: good governance, pengembangan sosio-ekonomi berkelanjutan,  pelestarian budaya, dan konservasi lingkungan; yang mencakup 9 domain GNH: Taraf Hidup (Living Standard), Kenyamanan Psikhologis (Psychological Wellbeing), Kesehatan (Health), Pendidikan (Education), Pemanfaatan Waktu (Time Use), Keragaman dan Ketahanan Budaya (Cultural Diversity and Resilience), Pemerintahan yang Baik (Good Governance), Daya Hidup Komunitas (Community Vitality), Keragaman dan Ketahanan Ekologis (Ecological Diversity and Resilience).

Para pembicara lebih menyoroti dan menyampaikan pandangan-pandangannya tentang pemaknaan kebahagiaan.

Kwartarini, menunjukkan bahwa seseorang atau seklompok orang dipengaruhi oleh perilaku yang diturunkan. Mengkaitkan dengan proses penjajahan yang lama berlangsung, maka karakter yang muncul adalah karakter sebagai budak.

Ia juga mengkritisi tentang sikap kita yang selalu berorientasi ke Barat, sedangkan Barat sendiri sudah belajar dan mempraktekkan sesuatu yang berlangsung di Timur. Dicontohkan ketika barat mulai mempraktekkan tentang pengasuhan kepada orangtua di rumah, Indonesia justru mengembangkan panti jompo yang meniru Barat.

Ia mengusulkan semua sekolah harus memiliki sekolah orangtua. Hal ini penting, menurutnya sebagai tempat untuk memotong slave character. Ditekankan pula untuk membangun keyakinan diri saat berhadapan dengan bangsa lain.

Hira Jamtani

Hira Jamtani

“Salah satu indeks kebahagiaan, Ketika makhluk hidup bisa menikmati kehidupannya secara selaras dengan alam sekitarnya bersama makhluk-makhluk hidup lainnya yang ada, Bumi punya keseimbangan dan keseimbangan bisa terjaga saat semua makhluk bisa menjalankan fungsinya masing-masing”  demikian dikatakan oleh Hira Jamtani yang dikenal sebagai aktivis lingkungan.

Mengapa Bhutan sebuah negera kecil bisa mengembangkan GNH? Hal ini dikatakan oleh Hira Jamtani  karena mereka masih bisa berpikir menjaga keharmonisan antar sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhan ataupun energi yang tak terbatas yang ada di sana.

Hira melanjutkan baru mendapatkan informasi sekitar tiga minggu yang lalu bahwa Bhutan sebentar lagi juga akan menjadi negara yang 100% organik. Menurutnya, ia tidak membayangkan bahwa perusahan-perusahaan pestisida pasti tidak akan berbahagia.

Mohammad Sobary, budayawan yang pernah menjadi pimpinan LKBN Antara pada era Gus Dur menyatakan bahwa bahagia itu adalah konsep yang sangat kontekstual. Ukuran kebahagiaan suatu masyarakat di suatu daerah, tidak bisa menjadi ukuran bagi suatu kebahagiaan di daerah lainnya. Maka akan muncul problem bila kita ingin merumuskan makna bahagia dan indikator pembangunan yang mencapai kebahagiaan di tingkat nasional.

“Walau kita sudah merdeka, keterjajahan masih ada pada kita apalagi bila kita berbicara tentang dimensi psikologi hidup pribadi dan kelompok, tentang dimensi rohaniah, dan juga kesadaran ideologi,” kata Sobary.

Yogyakarta, 15 April 2013

Mohammad Sobary

Mohammad Sobary

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: