2 Komentar

Aku Memburu Pintu Rindu

Foto Sumali Ibnu Chamid

Foto Sumali Ibnu Chamid

Aku termangu. Membisu. Mata entah kemana tertuju. Pikiran seolah menjadi pemburu sedang senyatanya tengah diburu. Melayang-layang mencari pintu. Mencari tempat yang tepat untuk lampiaskan rindu. Sulit tentukan pilihan, saat pintu lebih dari seribu. Aku tak mau tersesat dalam kebenaran semu!

Suara-suara berseru. Melambai mendayu. Sosok ribuan bidadari bergaun biru. Tebar senyum, penuh pesona, bersenandung beragam lagu. Seakan merayu. Membuatku tersipu.  “Di sinilah tempatmu,”

Aku terpaku. Ah, bukan itu! Lalu terus melaju. Menyusuri hutan rimba dan gunung batu, mengarungi lautan bertemu para hiu. Menahan hempasan angin yang tak henti menderu. Bersama lapar dan dahaga yang menyatu. : “Ayo,terus maju! Cari sampai ketemu!”

Terus berjalan sang waktu. Irama semesta yang tak pernah terganggu. Hitungan detik, menit, jam, hari, hingga tak terasa sewindu.Terus berputar tiada meragu. Berwindu akhirnya berlalu. Putaran serupa:  Kini, pun sejak dahulu. Hingga ke depan, sampai peradaban baru.  Aku masih saja mencari pintu!

“Engkau hanya habiskan waktu,” suara menahan laju.

Menoleh kanan-kiri, mata menyapu. Suara dari mana terasa menganggu?

”Mencari tanpa meniru, perjalanan memang berliku, bagaimana engkau anggap diriku, hanya menghabiskan  waktu?” protes diri

”Engkau mencari dan terus berlalu. Selalu begitu,”

“Salahkah diriku?”

“Engkau terlalu kaku. Seperti kuda pacu. Berlari, berputar, dan kembali tanpa hirau dengan sesuatu,”.

”Maksudmu?”

”Hanya berputar pada masa lalu, tak mungkin engkau temukan pintu,”

”Tidak, aku selalu melangkah maju,”

”Itu hanya rasamu,”

”Sudah berwindu, telah berubah sang waktu,”

”Benar.  Menua usia, hanya itu. Sedang pikirmu, sama seperti dulu,”

”Bukankah baik konsisten pada rindu,”

”konsisten memang perlu, sejauh tak buta mata hati membatu,”

”Salahkah berburu pintu, mencari tempat lampiaskan rindu?”

”Tentu tidak, engkau pasti tahu,”

”Lalu?”

”Masalahmu, pikir dan gerakmu hanya itu,”

”Lantaran memang belum ketemu,”

”tidakkah engkau malu?”

”Mengapa harus malu?”

”Kecintaanmu, mencari pintu, lampiaskan rindu, membuat asing dengan sekelilingmu. Engkau asyik sendiri membangun dunia yang engkau ramu. Keindahan dan keajaiban sekaligus borok dengan beragam bau, lepas dari hidupmu, selama berwindu”

”Ah, engkau yang hanya bersuara, tampilkan wujudmu. Mengapa peduli dengan diriku?”

Terdengar tawa yang jauh dari merdu, bersahutan bagai gelombang memburu, mengetuk dada dan hatiku. Terasa sangat mengganggu. Semakin kencang melaju, bagai letusan peluru dari senjata mesin para serdadu. Tanpa rasa malu, aku menangis tersedu-sedu.

Yogyakarta, 11 April 2012

(Odi Shalahuddin)

2 comments on “Aku Memburu Pintu Rindu

  1. Bung Odi, kalau cerpen ini aku bacakan di Tembi pada pertengahan bulan Desember ini, bolehkah???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: