Tinggalkan komentar

Tidak Boleh Jadi Pejabat Oleh Istri

Tidak Boleh Jadi Pejabat Oleh Istri

Pemilu hampir tiba. Perhelatan lima tahunan yang menimbulkan berbagai perasaan bagi segenap insan di negeri ini.

Wakil rakyat yang terpilih, tentu akan berdoa dan bekerja keras agar bisa terdaftar sebagai calon, dan bisa terpilih lagi. Bila perlu – dan tampaknya memang urgent – berkunjung ke beberapa paranormal ampuh. “Belum semua janji-janji saya dalam pemilu kemarin bisa terlunasi. Jadi butuh waktu lima tahun lagi,”

Orang yang tergiur dengan posisi sebagai wakil rakyat, sama pula. “Ini panggilan untuk mendarma-baktikan diri pada ibu pertiwi,”

Para tokoh masyarakat yang memiliki pengaruh kuat, tapi tidak memiliki ambisi untuk menjadi wakil rakyat, juga harus dipusingkan dengan kedatangan para tamu dari berbagai partai yang menginginkan dirinya bersedia dicalonkan. “Setidaknya berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tetap calon walau tidak menginginkan jadi wakil rakyat. Tidak perlu khawatir pula dengan biaya kampanye, nanti kita dukung sepenuhnya,”

Para makelar massa, pasti lebih laris lagi. Kerja keras, saling sikut, saling klaim, dan saling meminta kucuran dana untuk konsolidasi dan membuat ruang pertemuan kelompok masyarakat dengan sang calon.

Diantara ribuan orang yang lagi sibuk, sebut sajalah si Daga, aktivis kemasyarakatan yang selama ini masuk dalam barisan golongan putih, mulai tergosok dan gerah, mau ikut-ikutan pula.

”Kalau modal mulut, Bung sudah teruji mampu menghimpun dan menggerakkan orang. Mengapa tidak Bung kembangkan menjadi konstituen yang akan menghantarkan ke gedung rakyat. Ayolah, bukan saatnya berada di luar sistem. Perubahan bisa lebih cepat bila Bung berada dalam sistem,” Sastroweng seniornya waktu di kampus membujuknya.

”Sebenarnya rakyat gak banyak berubah nasibnya. Cuma Kang Sastroweng dkk yang berubah, lebih rapi dan wangi, pastilah rajin mandi dan sering pergi ke salon. Juga nggak perlu berdesak-desakan dalam bus kota,” canda Daga

Sastroweng tersenyum menanggapinya. ”Ya, kita kan harus beradaptasi dengan lingkungan kita, Bung,”

”Ayo, Bung! Berpolitik nyata. Partisipasi dalam ruang demokrasi,” Ningsih, adik kelasnya yang menjadi bendahara Partai di tingkat propinsi, ikutan membujuk dalam pertemuan reuni para aktivis seangkatan.

Nah, Daga lama-lama teracuni pula. Apalagi beberapa kawannya sudah menyatakan siap menjadi bandar yang akan memodali kampanyenya. Jadi tidak perlu berpusing ria memikirkan cara cari uang.

***

”Apa?! Tidak, tidak boleh! Aku tidak setuju,” istrinya berteriak lantang tatkala Daga menyampaikan hasratnya untuk ikutan dalam pemilu mendatang.

Bujukan yang selama ini didengar dan mempengaruhi, terolah dan menjadi argumen bagi Daga. ”Kita bisa memainkan peranan penting dalam perubahan yang nyata bagi negeri ini,”

”Omong kosong! Lha, kawan-kawanmu, aktivis yang biasa di jalan dulu, kemana suaranya sekarang? Malah banyak yang kena kasus,”

”Loh, justru itu, perlu peneguhan ulang. Perlu wajah-wajah baru untuk menunjukkan konsistensinya,”

”Dulu juga pada bilang begitu,”

”Jadi….”

”Gak boleh. Jadi politisi sekarang bahaya. Apalagi kamu juga bukan orang bersih. Coba kalau foto-mu lagi mabuk di cafe disebarkan? Atau nanti terjebak pada kasus korupsi. Atau nanti ketahuan punya beberapa istri simpanan. Atau nanti kalaupun dirimu teguh, terbunuh dalam kecelakaan lalu-lintas. Atau… ah, sudahlah, pokoknya aku tidak setuju!”

”Lha, pikiranmu yang jelek-jelek saja,”

”Harus. Apalagi nanti kalau benar-benar terjadi, istri lagi yang jadi korban. Korupsi karena desakan istri. Gak mau ah… Apalagi pergaulannya pastilah hanya basa-basi. Tidak murni. Cuma mencari kesempatan untuk menjatuhkan lawan. Teman sejati tidak akan kelihatan. Bisa monyong nanti bibirku,”

”Tapi…”

”Sudahlah. Enak hidup begini. Gak perlu khawatir masuk koran atau infotainment. Politisi sudah jadi selebritis, jadi penting untuk mencari gosip-gosipnya,”

”Bu…”

”Gak mau….!!!”

Yogyakarta, 19 Maret 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: