Tinggalkan komentar

Istimewa, Penanganan Anak Jalanan di Daerah Istimewa Yogyakarta

Istimewa, Penanganan Anak Jalanan di Daerah Istimewa Yogyakarta

Dinsos Sleman

4 Maret yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara TOT untuk Tim Penjangkauan yang berlangsung di Aula Lantai 3, kantor Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Kabupaten Sleman.  Acara yang dibuka oleh Drs. Junadi selaku Kasi Rehabilitasi Tuna Sosial menghadirkan tiga orang narasumber yakni Subakir (Dinas Sosial Propinsi DIY), Nyadi Kasmoredjo (LPA DIY), dan saya sendiri.

Istilah ”penjangkauan” digunakan dalam Perda No. 6 tahun 2011 di Propinsi DIY yang memiliki pengertian sebagai serangkaian kegiatan mengidentifikasi kebutuhan anak yang hidup di jalan guna menyusun rencana pemenuhan hak anak yang hidup di jalan. Tujuan upaya penjangkauan guna memberikan pemenuhan hak dan mewujudkan re-integrasi sosial anak yang hidup di jalan.

Pada periode sebelumnya, tentu kita mengenal istilah ”penertiban” atau ”razia”, yang ditujukan salah satunya kepada anak jalanan. Pelaksana adalah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan atau secara sendiri-sendiri atau bersamaan dengan pihak Kepolisian. Penanganan semacam inilah yang seringkali memunculkan persoalan mengingat penertiban atau razia senantiasa sarat dengan tindakan kekerasan.

”Di Yogyakarta sekarang berbeda. Kita tidak menggunakan razia lagi tapi menggunakan pendekatan yang lebih baik yakni penjangkauan. Ini dilakukan oleh sebuah tim bernama Tim Perlindungan Anak,. Di lapangan kita tidak menggunakan seragam. Ya, berpakaian biasa  dan membangun hubungan perkawanan dengan anak jalanan,” jelas Subakir.

Praktek Pendekatan

Dikatakan lebih lanjut, walaupun istilah yang digunakan adalah perlindungan, bukan berarti membiarkan anak-anak berada di jalanan. Tujuan akhirnya adalah mengentaskan anak-anak dari jalanan.

Nyadi memberikan penjelasan tentang tata cara penjangkauan yang telah diatur dalam Peraturan Gubernur DIY Nomor 31 tahun 2012. Ia juga menceritakan berbagai pengalaman di lapangan.

Saya sendiri dalam acara tersebut memberikan apresiasi yang sangat baik terhadap Perda anak jalanan ini. Ini tentunya merupakan terobosan yang sangat berarti bagi anak-anak, khususnya anak jalanan, di mana pendekatan yang digunakan mengacu kepada hak-hak anak. ”Ini merupakan terobosan yang sangat istimewa di propinsi yang istimewa, pada saat wilayah-wilayah lain melahirkan peraturan-peraturan yang masih mengkriminalisasikan kegiatan anak jalanan bahkan juga mengkriminalisasi pemberi uang bagi anak jalanan, DIY justru kebalikannya. Di sini tidak mengkriminalisasi, bahkan memiliki semangat untuk melindungi dan memenuhi hak-hak anak bagi anak jalanan,”

Sebelum acara berakhir, Subakir menampilkan gambar-gambar tentang sikap yang bisa dilakukan oleh tim penjangkauan. Selanjutnya dilakukan praktek yang dilakukan oleh dua pasang. Satu orang berperan sebagia tim penjangkau dan satunya lagi berperan sebagai anak jalanan.

Ya, memang sangat disadari, pendekatan yang digunakan memang membutuhkan sumber daya yang banyak, sumber dana yang besar dan waktu yang cukup panjang. Tapi, membangun manusia, tentu berbeda dengan bangunan, bukan?

Yogyakarta, 8 Maret 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: