Tinggalkan komentar

Cerpen: Saat Aku Bertemu Dirimu Dalam Bayang yang Memudar

HL di Kompasiana

Ini aku. Seperti biasa, pada malam, menggelayut angin, memandang bulan dan bintang. Pun tiada tampak, saat tertutup awan, aku tetap meyakini bisa melihat dan menjelajahinya.

Malam. Setiap malam. Ya, setiap malam. Seringkali bahkan saat gelap hampir memudar oleh mentari yang beranjak naik. Ah, engkau bisa saja. Tapi benarlah adanya. Pengangguran! Ya, hanya pengangguran yang bisa menikmati hal semacam ini.

Begitulah. Jujur kuakui saja, agar terhindarkan konfrontasi tiada guna diantara kita. Bukan apa-apa. Bukan berarti perdebatan menjadi haram bagi kita. Pertanyaan mengemuka, apa yang bisa kita dapatkan dari perdebatan tentang malam? Saat aku menikmati, saat engkau menikmati, bukankah kita bermain dalam imaji masing-masing?

Jadi biarkan saja. Seperti diriku membiarkan perjalanan dari malam ke malam, dengan perasaan dan imajinasi beragam. Sehingga lepas beban, melayang, melanglang buana, semesta raya, walau kadang terantuk oleh ranting pepohonan yang mengering tiba-tiba. Atau berbasah kuyub dalam siraman embun sebelum mengkristal. Mengada-ada? Biar saja..!

Kini, pada malam ini, pada malam bulan seharusnya telanjang bulat, aku tetap menatap langit menembus butiran-butiran air, menyibaknya agar bulan dapat bisa terlihat, lalu membangun bayang. Ah, seperti pada masa kecil dulu. Tentang kisah seorang nenek, yang bisa tergambar dari bumi pada purnama. Atau kisah lain yang bertolak belakang, tentang kisah seorang putri. Putri dan nenek, bisa tampak tergantung imajinasi kita. Sama halnya pada sebuah gambar seorang nenek renta namun bisa terlihat pula seperti seorang gadis cantik berambut panjang.

Ah, tentang purnama. Teringat masa kanak-kanak pula. Saat ruang-ruang terbuka, masih bisa menjadi arena bermain para warga. Siang yang berkepanjangan, toleransi orangtua pada anak. Ya, hanya bisa didapatkan pada malam bulan purnama.

Tiba-tiba saja, imajiku berhenti. Pada sosok yang hadir. Dirimu!

Ya, engkaulah itu, perempuan kecil dengan rambut dikepang dua. Aku sering jahil menarik salah satunya, saat berjalan menuju TK di sebrang kampung. Atau bila hendak mengagetkanmu, menarik keduanya, dan berteriak ”Oh, ya…!” lalu meringkik, tertawa terbahak, sedang engkau meringis kesakitan. Meronta, berusaha melepaskan, lalu aku berlari dari kejaranmu. Ah, rasanya itu sering terulang, namun tetap saja kita masih bisa berjalan bersama saat menuju ke sekolah dan juga saat pulang ke rumah.

Ya, engkaulah itu, yang juga turut bermain dalam tanah lapang ini, saat purnama. Hingga terasa lelah dalam gembira, sampai para orangtua beranjak dan mengajak anak-anaknya pulang ke rumah.

Begitupun saat beranjak ke Sekolah Dasar, kita masih satu sekolah, masih seiring sejalan. Penampilan yang kurasa tidak berubah dari dirimu. Rambut tetap terkepang dua. Jahilku memang berkurang, tidak sering lagi menarik-narik rambutmu.

Ah, tiba-tiba saja aku tertawa. Mengapa dirimu yang justru hadir saat ini? Ya, mengapa? Sedang sudah puluhan tahun kita tiada bertemu. Tak kudengar lagi kabarmu, beberapa waktu selepas Sekolah Dasar. Ya, mengapa kamu yang hadir malam ini? Pada bulan yang tertutupi gerimis.

Tawaku yang tiba-tiba terhenti. Ya, di mana kamu? Lama aku memandang langit tanpa wajah yang beraturan malam ini. Suara angin yang memainkan dedaunan dari pepohonan di kebun sebelah rumah.

Wajahku menegang. Dua puluh lima tahun lalu. Ah, waktu terasa cepat berlalu. Bila kuingat sikapku pada masa lalu, benar-benar aku merasa malu. Ah, tidak cukup, bukan hanya malu, tapi memalukan! Bisa lebih dari itu, apa kata yang bisa mewakili!

Sore itu, engkau datang. Memelukku erat dengan isak tangis lepas. Aku yang gelagapan, bingung dengan yang terjadi. Tapi jujur sajalah, baru kurasakan ada getaran aneh mengalir dalam tubuhku.

”Mengapa? Seharusnya engkau senang menjadi juara satu, dan pasti engkau bisa diterima di SMP Negeri kecamatan ini,” kataku saat itu.

Engkau tetap menangis. Malah membuatku jadi takut. Kutepuk-tepuk pundakmu, meminta engkau melepaskan pelukanmu. Lalu kutarik engkau duduk di bawah pohon. Rambutmu berantakan. Air mata telah membasahi wajahmu. Mata memerah dan sembab.

”Kenapa?”

Engkau diam saja. Menatapku, lalu menunduk, dengan isak tangis tertahan. Tiba-tiba saja engkau bangkit, lalu berlari meninggalkan diriku.

”Hei!”

Benar-benar aku bingung. Apa yang terjadi padamu? Entah. Tapi keesokan harinya, aku sudah tidak bisa menjumpai dirimu lagi. Engkau telah pergi, bersama keluargamu. Tiba-tiba!

Sampai suatu hari, tanpa sengaja aku mendengar ibu-ibu yang tengah berbelanja di warung Mbok Yah, memperbincangkan tentang dirimu dan keluargamu.

”Biar saja, memang layak diusir, telah memberi aib pada kampung ini,”

”Tapi, dia yang jadi korban,”

”Coba kalau ini terdengar ke tetangga kampung, kita juga malu kan?”

”Eh, tapi ceritanya bagaimana sih,”

“Iyem, diperkosa,”

“Loh, pelakunya?”

“Ssssttt, masak gak tahu sih?”

“Sudah ah, jangan diteruskan,”

“Hm, takut…ya…”

“Eh, tapi siapa yang berani hayo?”

“Iya, sih… Siapa sih yang berani dengan Pak Narwo…”

”Oh, Pak Narwo… Ya, hampir semua warga tergantung hidupnya dari dia,”

”Oh, jadi Pak Nar…..”

”Sssssstttt….!”

Perbincangan para ibu masih saja terus berlangsung. Aku langsung ngacir ke pinggir kali dekat rumah Pak Broto. Di situlah anak-anak warga kampung ini biasa bermain. Lantas dengan semangat menggebu-gebu aku menceritakan tentang apa yang aku dengar.

Ya, ya, itulah aku. Telah menceritakan peristiwa yang menimpamu kepada kawan-kawan lain. Sungguh memalukan! Lama kemudian aku baru tersadar, saat engkau datang menangis dan memelukku erat. Ya, aku baru tersadar, bahwa dirimu hendak menceritakan peristiwa pahit yang telah menimpamu.

Dirimu dan keluargamu, telah pergi. Terusir! Atas nama baik kampung, engkau yang telah menjadi korban, justru dikorbankan kembali. Lalu Pak Narwo? Ah, memang siapa yang berani dengan dirinya. Ialah yang memiliki hampir 80% tanah di kampung ini yang digarap oleh para warga.

Dirimu, ya, dirimu yang hadir dan menghentikan perjalanan imajinasiku menikmati malam purnama ini. Perasaan bergejolak dalam dada, entah apa namanya, terlahirkan, meletup, menendang ke atas hingga sampai kepala. Panas!

Sosok dirimu. Sosok Pak Narwo yang telah menua dan sekarang tengah terbaring sakit di rumahnya. Bergantian hadir. Entah apa yang menggerakkan diriku, masuk ke dalam rumah, mengambil pedang yang biasa tersimpan dalam lemari.

Semarang, 28 Januari 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: