1 Komentar

Jangan Panggil Aku China !

Oliv

“Jangan panggil aku China!
Panggil Aku Fang Yin
Fang Yin”

Sambil mengibaskan kipasnya, Fang Yin dengan mengenakan pakaian tradisional China menyatakan secara tegas. Ya, Fang Yin telah tinggal di Amerika, di Los Angeles tepatnya, setelah Mei yang legam bergelimang kerusuhan, dan ia menjadi salah satu korbannya.

“Bagaimana mungkin kamu dan kalian semua bisa perkosa aku sambil meneriakkan kebesaran Tuhan?! Pernahkah kalian membayangkan seandainya aku ini anakmu, saudaramu, atau bahkan ibumu!” gugat Fang Yin.

Itulah sepenggal adegan ke empat dari pementasan teater monoplay ”Sapu Tangan Fang Yin”, dengan naskah yang ditulis oleh Indra Tranggono dan Denny JA, yang didasarkan dari puisi esai karya Denny JA.

Pementasan yang merupakan produksi kedua dari Dapoer Seni Djogja (DSD) ini berlangsung di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, 18-19 Januari 2013.

Saya merasa beruntung bisa menyaksikan pementasan ini bersama kedua anak saya (sayang istri tidak bisa ikut karena harus dirawat di Rumah Sakit lantaran keletihan), setelah gagal menonton produksi pertama DSD, ”Negaraku Sedang Demam”, dua tahun lalu atau tepatnya Januari 2010.

Pementasan malam pertama yang juga disaksikan oleh Aburizal Bakri, Ketua Umum Partai Golkar yang tengah berada di Yogyakarta, ini mengisahkan tentang peristiwa kerusuhan Mei 1998, yang telah memakan banyak korban. Tentu kita masih teringat tentang ratusan orang yang mati terbakar di berbagai pusat perbelanjaan, tentang orang-orang yang hilang atau tepatnya dihilangkan, dan tentang perkosaan massal yang menimpa perempuan-perempuan Tionghoa.

Benar bahwa peristiwa Mei  1998 akhirnya berhasil menurunkan rejim otoriter Soeharto, mengakhiri kejayaan Orde Baru yang kemudian melahirkan era Reformasi. Namun peristiwa kelam tersebut masih menyimpan banyak hal ”gelap” yang belum terungkap, termasuk tidak adanya tindakan penangkapan terhadap para pelaku perkosaan.

Melawan lupa! Itulah yang menjadi salah satu penyemangat bagi DSD untuk menggelar pementasan ”Sapu Tangan Fang Yin”.Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Indra Tranggono, salah seorang dari tim sutradara,  bersama Toto Raharjo dan Isti Nugroho dalam siaran persnya.

”Teater tak pernah steril. Ia mempunya tanggung jawab moral untuk menyuarakan berbagai tuntutan keadilan publik, terutama yang berposisi sebagai korban. Dengan kekuatan tematik dan simboliknya, teater bisa menjadi bagian dari gerakan kebudayaan melawan lupa atas berbagai kasus yang mengorbankan kebenaran dan kemanusiaan,” demikian dinyatakannya.

Durasi lebih dari dua jam, tidak begitu terasa meletihkan. Kemasan pementasan yang dibumbui dengan ilustrasi peristiwa dalam bentuk tarian dan musik bisa membuat penonton tidak beranjak dari tempat duduknya.

Terlebih, para pemain dalam pementasan ini juga memiliki kemampuan akting yang baik, dan mampu membawa kita ke dalam ruang persoalan yang ditampilkan dengan beragam rasa dan suasananya.

Pementasan yang dipersembahkan oleh Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi ini menampilkan Olivia Zalianti sebagai Fang Yin, Joko Kamto, Novi Budianto, Yulisza Syatiani, Eko Winardi, Wira Adritama, Bambang Susiawan dan Monica Anggi Puspita.

Catatan: Tulisan ini pernah diposting di Kompasiana

One comment on “Jangan Panggil Aku China !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: