Tinggalkan komentar

Membangkitkan Sejarah yang Ditenggelamkan untuk Melawan Lupa

Olivia Zalianty yang berperan sebagai Fang Yin

Olivia Zalianty yang berperan sebagai Fang Yin

“Bagaimana mungkin kamu dan kalian semua bisa perkosa aku sambil meneriakkan kebesaran Tuhan?! Pernahkah kalian membayangkan seandainya aku ini anakmu, saudaramu, atau bahkan ibumu!”

Pernyataan atau tepatnya sebuah gugatan atas peristiwa yang mampu menggetarkan pendengarnya, membangkitkan kebisuan yang dalam.

Djoko Kamto memerankan Zulfikar

Djoko Kamto memerankan Zulfikar

Tentu dapat terbayangkan kengerian di kepala kita tatkala seorang perempuan, menjadi kebrutalan nafsu syetan dari segerombolan orang yang patut disebut sebagai gerombolan serigala. Terlebih bila tidak hanya satu perempuan, melainkan puluhan atau bahkan ratusan perempuan yang menjadi korbannya.

Sebagai bagian dari bangsa dan negara yang selama ini terus menggaungkan kebanggaan tentang bangsa yang agung dan beradab, kerukunan yang penuh toleransi, maka peristiwa demi peristiwa berbau luka dan darah bahkan hilangnya nyawa yang terus mengemuka sepanjang perjalanan, masih patutkah terus memaksakan diri menjaga kebanggaan dan senantiasa menjadi bahan pembelajaran?

Memang, banyak peristiwa ditenggelamkan, agar tak terbaca, agar tak tersaksikan, agar tak terasakan. Namun, bau busuk, disembunyikan tetap saja akan terasa baunya. Peristiwa Mei 1998, adalah salah satunya.

OlivJatuhnya rejim orde baru dan lahirnya era baru yang disebut sebagai era reformasi, kembali mengulang sejarah kelam penuh darah dalam proses peralihan kekuasaan. Kerusuhan yang terjadi pada Mei 1998, dirasakan sebagai peristiwa yang dirancang. Pusat-pusat pertokoan  terbakar dengan ratusan nyawa melayang dengan tubuh yang terbakar pula. Kita juga tentunya masih teringat tentang hilangnya para aktivis, yang tercatat hingga kini, 13 orang diantaranya masih tidak diketahui keberadaan dan statusnya.

Bisik-bisik, coba diangkat ke muka, tentang perkosaan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap para perempuan keturunan Tionghoa, akhirnya menjadi senyap kembali tanpa satu orang pun yang diadili.

Tim Pencari Fakta Gabungan mencatat, 78 orang perempuan etnis Cina menjadi korban perkosaan dan 85 orang mengalami kekerasan seksual. Ada pun korban yang meninggal akibat kerusuhan tercatat 1,217 orang.

Perkosaan terhadap perempuan keturunan Tionghoa, peristiwa itulah yang diangkat oleh Denny JA ke dalam puisi essai yang kemudian bersama Indra Tranggono dikembangkan menjadi naskah.

Sapu Tangan Fang Yin”, demikian judulnya, yang diusung menjadi pementasan teater monoplay oleh Dapoer Seni Djogja (DSD) pada tanggal 18-19 Januari 2013 bertempat di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta.

Fangyin_6Pementasan ini, merupakan produksi kedua dari DSD, setelah sebelumnya pada Januari 2010 sukses dalam pementasan teater monoplay dengan lakon ”Negara Sedang Demam” yang dipentaskan di beberapa kota.

Melawan lupa! Itulah yang menjadi salah satu penyemangat bagi DSD untuk menggelar pementasan ”Sapu Tangan Fang Yin”.Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Indra Tranggono, salah seorang dari tim sutradara,  bersama Toto Raharjo dan Isti Nugroho dalam siaran persnya.

”Teater tak pernah steril. Ia mempunya tanggung jawab moral untuk menyuarakan berbagai tuntutan keadilan publik, terutama yang berposisi sebagai korban. Dengan kekuatan tematik dan simboliknya, teater bisa menjadi bagian dari gerakan kebudayaan melawan lupa atas berbagai kasus yang mengorbankan kebenaran dan kemanusiaan,” demikian dinyatakannya.

* * *

Sang Narator yang dimainkan oleh Monica Anggi Puspita

Sang Narator yang dimainkan oleh Monica Anggi Puspita

 

“Jangan panggil aku Cina!
Panggil Aku Fang Yin
Fang Yin”

Sebutan Cina memang berbeda dengan sebutan Tionghoa. Cina bisa berarti bencana. Denny JA dalam puisi-essai-nya  itu menggunakan dua sebutan untuk merujuk pada kelompok etnis yang sama. Ia memberikan penjelasan: Tionghoa diekspresikan sebagai ucapan netral. Sedangkan Cina lebih merupakan ”umpatan negatif” yang dilontarkan masa dalam kisa hura-hara.

Eko Winardi

Eko Winardi

Walaupun dinyatakan sebagai karya fiksi, kisah yang diangkat adalah fakta yang pernah ada. Pada siaran persnya, Indra Tranggono mengatakan bahwa unsur fiksi tampil dalam cerita, plot dan tokoh. Adapun unsur fakta tampil dalam data sosial yang didapat dari riset. ”Naskah ini merupakan eksperimen yang menarik, di mana unsur fiksi dan fakta melebur dalam kisah,” ujar Indro.

”Demokrasi prosedural terbukti gagal menjawab persoalan publik, karena demokrasi hanya jadi alat untuk merebut kekuasaan,” tambah Isti Nugroho yang menyoroti bahwa publik telah lama kehilangan teater sebagai medium kultural untuk menciptakan dan menyuarakan gagasan-gagasan kritis.

Apa yang dikatakan Isti mengingatkan pada masa kejayaan teater di tahun 1970-1980-an, hal mana teater sebagai media menyuarakan gagasan-gagasan kritis menjadi sangat dominan. Di Yogya, sebutlah diantaranya oleh Bengkel Teater dan berlanjut pada Teater Dinasti.

* * *

”Sapu tangan Fang Yin” mengisahkan tentang perjalanan  hidup Fang Yin yang menjadi korban perkosaan dari kerusuhan Mei 1998. Hal ini mendorong keluarga Fang Yin meninggalkan Jakarta menuju Los Angeles. Dibantu oleh psikolog Prof. Lee, Papi, Paman Gow dan Ling-ling, secara perlahan trauma berhasil disingkirkan dan Fang Yin tumbuh menjadi pribadi yang kuat.

Kisah percintaan menjadi bumbu pula dalam kisah ini. Hubungan Fang Yin kandas dengan Zulfikar yang akhirnya menikah dengan sahabat Fang Yin sendiri. Secara emosional, Fang Yin merasa terikat dengan Zulfikar. Sapu tangan putih pemberian Zulfikar menjadi tanda mata yang mengikatnya. Cinta itu pula, yang menjadi jalan bagi Fang Yin untuk membebaskan diri dari terkaman trauma masa lalu.

* * *

Wira Adritama

Wira Adritama

Menonton pertunjukan dengan durasi lebih dari dua jam, memang dirasa terlalu panjang. Namun dengan kemampuan permainan yang baik dari para pemain, diiringi ilustrasi gerak tari yang menarik, setidaknya berhasil membuat penonton tidak beranjak hingga pementasan usai.

Olivia Zalianty yang berperan sebagai Fang Yin sebelum pementasan menyatakan bahwa ini merupakan tantangan berat baginya. Memerankan Fang Yin tak hanya dituntut akting dan penjiwaan yang bagus. ”Tokoh ini sangat luar biasa. Butuh studi psikologi” katanya.

Didukung oleh para aktor senior Jogja yakni: Djoko Kamto, Novi Budianto, Bambang Susiawan, Eko Winardi dan Wiro Adritama, didukung pula oleh para pemain dari Jakarta. Selain Olivia Zalianty, tercatat ada Yulisza Syatiani yang aktif berteater dan kerap memainkan monolog, juga ada Monica Anggi Puspita yang pernah bermain dalam lakon ”Pengadilan Pekik” karya Isti Nugroho.

Olivia Zalianty, saat dihubungi melalui telpon, menyatakan tidak puas dengan permainnya di hari pertama. Bisa dikatakan ia mengaku gagal. Walau memberi catatan bahwa tidak boleh ada alasan, ia mengemukakan hal itu karena keletihan yang masih menderanya

Namun, hal itu diperbaiki pada pementasan hari kedua. ”Kebetulan ibuku turut menonton dua pertunjukan itu. Pada hari kedua, ibu sampai menangis saat menonton,” katanya.

Pementasan ini tentu saja bisa berhasil berkat adanya dukungan dari Pang Warman dan Clink Sugiarto selaku penata artistik, Widi Wede sebagai penata musik, Agung Tri Haryanto sebagai Penata Tari, Clink Sugiarto sebagai penata Cahaya, dan Dani Brain sebagai Penata Rias dan Busana.

Pementasan ini juga bisa terlaksana berkat dukungan dari Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi.

Yogya, 22 Januari 2013

Terkait dengan pementasan ini, ada dua tulisan lain yang saya posting di Kompasiana:

  1. Jangan Panggil Aku China atau Klik di SINI
  2. Olivia Zalianty di Antara Wushu dan Teater

Foto lainnya:

Olivia_3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: