Tinggalkan komentar

Hantu Kekerasan Seksual Membayangi Anak-anak

Awal tahun 2013, dibuka dengan mengemukanya peristiwa dugaan kekerasan seksual pada anak, yang menimpa RI  (11 tahun) kelas 5 SD, anak bungsu dari enam bersaudara yang tinggal di sebuah lapak pemulung di daerah Cakung, Jakarta.

Menurut keterangan dari ibunya, dalam dua bulan terakhir  RI sering mengalami kejang dan suhu tubuhnya meningkat, sehingga pada tanggal 29 Desember 2012 ia dibawa ke ICU Rumah Sakit Persahabatan. Saat dokter melakukan penanganan pertama, ditemukan luka lama tak tertangani pada area kemaluan bocah malang tersebut.

Kabar berita duka pada hari Minggu (6/1/13), RI menghembuskan nafas terakhirnya.Peristiwa yang dialami oleh RI telah menjadi perhatian masyarakat luas. Kepolisian sempat menyatakan kesulitan untuk mengungkap kasus RI. Tapi penyelidikan atas kasus ini masih terus berlangsung.

Pemberitaan pagi tadi (11/1) di Kompas.com (lihat di SINI) setelah melakukan pemeriksaan terhadap 19 orang saksi yang telah mengerucut kepada dua saksi kunci, pihak kepolisian juga memutuskan menempuh penyelidikan berbasis scientific identification, yang melibatkan sejumlah pakar antara lain pakar kejiwaan, psikologi forensik dari Polda Metro Jaya, Dokter Obstetri dan Ginekologi (Ahli kebidanan dan penyakit kandungan) RSUP Persahabatan dan Ahli Urologi dari RS Polri Bhayangkara Raden Said Sukanto.  Penyelidikan macam ini pernah dilakukan pada saat mengusut kasus Ryan, yang kerap disebut sebagai “Sang Penjaga” asal Jombang yang telah melakukan serangkaian pembunuhan mutilasi.

Tentu kita berharap bahwa kasus dugaan kekerasan seksual yang menimpa RI dapat segera terungkap, pelakunya bisa mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan keji yang telah dilakukan.

Kasus RI, adalah salah satu cermin kasus kekerasan seksual terhadap anak yang berdasarkan hasil pemantauan ataupun catatan dari organisasi perlindungan anak tidak menunjukkan penurunan, bahkan cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Maria Ulfa Anshor, ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan kepada ANTARA, bahwa tahun 2012, kasus tertinggi adalah kasus perkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak yang mencapai 30% dari kasus anak lainnya. Pada tahun sebelumnya, kasus tertinggi adalah kasus anak yang berkonflik dengan hukum (lihat di SINI)

Perlindungan Anak

Diyakini bahwa berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak telah berlangsung sepanjang perjalanan sejarah kehidupan manusia. Namun, perhatian pada kejahatan seksual terhadap anak, baru mengemuka pada tahun 1970-1980-an, sebagai sesuatu yang dianggap merusak bagi anak-anak yang tidak bisa lagi diterima oleh masyarakat secara keseluruhan, sehingga bisa menjadi isu publik.

Para aktivis hak anak sering menggunakan istilah ‘kejahatan seksual terhadap anak” dalam kasus-kasus pelecehan, pencabulan, perkosaan, dan bentuk kekerasan atau eksploitasi seksual lainnya. Hal ini untuk lebih memberikan bobot kriminal atas tindakan semacam itu. Tindak kekerasan dan eskploitasi seksual harus dikriminalisasikan dan para pelaku harus mendapatkan hukuman namun menjamin agar anak yang menjadi korban tidak dihukum.

Perlindungan dari kejahatan seksual di Indonesia diatur dalam KUHP Bab XIV mengenai Kejahatan terhadap Kesusilaan. Ini mengatur tentang perkosaan (Pasal 285) dan pencabulan (pasal 287, 290, 292, 293 ayat 1 dan 294 ayat 1), pelacuran (pasal 296 dan 506), perdagangan anak untuk tujuan seksual ( pasal 297, 263 ayat 1 dan pasal 277 ayat 1), dan pornografi anak ( Pasal 283 ).

Khusus untuk anak, pengaturan perlindungan anak dari kejahatan seksual diatur dalam Undang-undang Perlindungan Anak (UUPA) pasal 81 (perkosaan), 82 (pencabulan), dan 88 (eksploitasi seksual).

Ada persoalan tentang penanganan kasus-kasus dugaan perkosaan. Sejauh ini, syarat dakwaan mengarah pada ada atau tidaknya tindakan penetrasi penis-vaginal yang dilakukan dengan kekerasan yang lebih bersifat fisik. Dengan demikian, pengertian tentang perkosaan menjadi sangat terbatas. Bila tidak terbukti, maka dakwaan bisa mengarah kepada kasus pencabulan anak, dengan ancaman hukuman yang lebih rendah.

Menarik misalnya mengacu kepada peraturan perundangan di Inggris. Di bawah Undang-undang Pelanggaran Seksual 2003, yang mulai diberlakukan sejak April 2004, pemerkosaan di Inggris dan Wales telah diperluas artinya dari hubungan vaginal atau anal tanpa persetujuan pihak yang lain kini menjadi penetrasi penis ke dalam vagina, anus ataupun mulut orang lain tanpa persetujuan orang tersebut. Perubahan ini juga mencakup masa hukumannya, sehingga kini ancaman hukuman untuk kasus pemerkosaan maksimum adalah hukuman seumur hidup (lihat di SINI).

Terkait dengan penggunaan aturan yang digunakan, pada kasus-kasus di mana anak menjadi korban, selayaknyalah digunakan UU Perlindungan Anak, yang memberikan hukuman lebih berat, yakni ada hukuman minimal (setidaknya tiga tahun) dan atau denda. Ini lebih baik dibandingkan KUHP yang tidak memberikan batasan hukuman minimal, sehingga pelaku bisa dihukum dengan ringan.

Hantu-hantu

Kekerasan dan eksploitasi seksual benar-benar mengancam anak-anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Pada anak laki-laki, tentunya kita juga sering mendengar, membaca atau menonton informasi tentang kasus-kasus sodomi. Oleh karenanya, perhatian terhadap anak laki-laki juga patut diperhitungkan.

Berbagai penelitian dan pengalaman program menunjukkan bahwa para pelaku kekerasan dan eksploitasi seksual justru adalah orang-orang yang telah dikenal oleh korban, bahkan merupakan orang-orang dekat, seperti anggota keluarga sendiri.

Mencegah, tentu lebih baik. Maka, membangun kewaspadaan anak-anak perlu dilakukan dengan memberikan informasi-informasi tentang ancaman kekerasan dan eksploitasi seksual, serta memberikan pengetahuan praktis apabila diduga ada peristiwa yang dialami oleh sang anak atau kawan-kawannya.

Kepada orang dewasa, demikian pula, bagaimana bisa menahan hasrat seksualnya dengan tidak mengorbankan kehidupan anak-anak.

Merusak kehidupan anak-anak dengan menjadikannya sebagai korban kekerasan seksual tentu bisa dilakukan dengan waktu yang singkat, tapi untuk melakukan penanganan dan pemulihan bagi anak, pastilah membutuhkan waktu yang panjang, biaya yang besar, dan sumber-sumber daya lain yang tidak sedikit.

Maka, mari kita tidak menjadi hantu bagi anak-anak yang ada di sekitar kita1

12 Januari 2013

Tulisan ini juga diposting di

Poster, sebagai media kampanye

Poster, sebagai media kampanye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: