Tinggalkan komentar

Menuju Mbay, Ibukota Nagekeo (4)

Menuju Mbay, Ibukota Nagekeo (4)

Kamarnya lumayan bersih

Kamarnya lumayan bersih

Tubuh terasa letih. Perjalanan yang panjang. Terlebih lagi sebelum berangkat ke Mbay, saya juga baru mengikuti beberapa kegiatan di kota lain. Setiba di Yogya, malamnya langsung disibukkan dengan acara syukuran menempati rumah yang alhamdullillah dihadiri oleh warga satu RW dan para sahabat. Sekitar pukul 02.00 baru bisa tertidur dan pukul lima pagi sudah bergerak ke Bandara. Jadi, untuk saat ini hal yang paling menggoda adalah menikmati berebah di atas kasur dan berharap mimpi yang indah. Begitulah, langsung terlelap.

Pagi, 8 Oktober 2012, kawanku mengirimkan sms. ”Acara tidak jadi pagi, Mas. Nanti siang, karena kawan-kawan masih pada di desa,”

Ok, tak mengapalah. Jadi ada waktu untuk mengecek bahan-bahan presentasi dan melengkapi bagian-bagian yang diperlukan.

Sekitar pukul 12.00, mendapat kabar bahwa kawanku tengah mengantar istrinya yang tengah sakit ke puskesmas. Disampaikan bahwa pertemuan akan dimulai pukul 14.00. Waktu yang tersedia, dan perut yang mulai bernyanyi membuatku bergerak berjalan kaki menuju pasar kota yang berada tidak jauh dari hotel. Tidak sampai satu kilometerlah. Pasti di sana lebih mudah mencari rumah makan.

Pasar dengan kios-kios terbuka semacam pasar-pasar tradisional yang kita kenal. Kios permanen jumlahnya tidak banyak dan hanya berada di pinggiran jalan. Padahal inilah pasar di tengah kota, di Mbay, Ibukota Kabupaten Nagekeo. Pasar yang berada dekat Lapangan Berdikari. Segaris dengan pasar ada kantor SKPD, kantor kecamatan Assessa dan Gedung DPRD Kabupaten.  Gedung perkantoran yang masih sederhana. Bangunan kecil satu lantai dengan halaman yang luas, dan berpagar bambu.

Pasar ini hanya ramai pada hari Sabtu. Pada saat itulah orang-orang dari berbagai pelosok desa tidak akan meninggalkan kesempatan ke Pasar, termasuk para pendatang yang bekerja di Mbay, untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari selama satu minggu.

Di sebelah utara pasar, ada sebuah mini market yang selalu ramai pengunjung. Maklum, ini mini market satu-satunya yang ada di Nagekeo. “Pernah, selama satu minggu pemilik mini market liburan ke Bali. Saat buka lagi, penuh pembeli yang antri. Termasuk saya dan istri,” cerita salah seorang kawanku.

Di sebelah selatan, adalah terminal yang tidak begitu ramai. Bahkan dengan areal parkir seperti kita lihat di pertokoan, tampaknya kalah ramai. Inilah terminal di mana kita bisa mendapatkan angkutan umum yang akan menghantarkan kita ke berbagai wilayah di Flores.

Kondisi ini bisa dimaklumi. Kabupaten Nagekeo memang merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Ngada yang diputuskan berdasarkan UU No. 2 tahun 2007. Peresmian kabupaten ini dilakukan pada tanggal 22 Mei 2007, oleh pejabat Mendagri Widodo AS.

Kabupaten Nagekeo, dengan pusat pemerintahan berada di Mbay, memiliki luas wilayah 1.386 km persegi yang terbagi ke dalam tujuh kecamatan yang terdiri dari 90 desa dan kelurahan.

Jadi, memang kabupaten ini tengah berbenah. Pembangun jalan dan gedung-gedung perkantoran untuk pusat pemerintahan tengah dilakukan.

Ah, semakin lapar rasanya. Aku segera memasuki rumah makan “Tulungagung” di sisi utara sebelah timur pasar. Ingin ikutan makan? Ayo….

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: