Tinggalkan komentar

Museum Tuol Sleng: Saksi Sejarah Hitam Kemanusiaan (2)

Bangunan A dan Bangunan B dari Museum Tuel Sleng Phnom Penh

Bangunan A dan Bangunan B dari Museum Tuel Sleng Phnom Penh

Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (8)

Museum Tuel Sleng, terdiri dari empat bangunan utama terpisah yang masing-masing berlantai tiga, dan beberapa bangunan kecil yang berada diantara Bangunan A dan B  dengan Bangunan  C dan D. Luas areal museum ini 400 meter X 600 meter.

Dari jalan raya, di tengah areal tersebut, ada pintu gerbang ber cat hitam, yang pada saat kami datang, masih terkunci. Kami memasuki museum melalui pintu sebelah barat.

Di belakang plan ini ada 14 kuburan tanpa nama dari korban kekejaman rejim Pol Pot

Di belakang plan ini ada 14 kuburan tanpa nama dari korban kekejaman rejim Pol Pot

Pertama melewati pos penjagaan, di halaman Blok A dan B, kita langsung disambut dengan pemandangan 14 kuburan tanpa nama.  Keterangan yang terpampang dalam papan menyatakan bahwa makam ini adalah para korban terakhir yang ditemukan sebelum para agen S-21 melarikan diri.

Museum yang awalnya adalah bangunan sekolah, dijadikan sebagai  Security Office 21 atau S-21 pada tanggal 17 April 1975, saat Khmer Merah berhasil menjatuhkan kekuasaan Lon Nol dan mendirikan Republik Demokratik Kamboja. Di bawah kekuasaan Saloth Sar atau lebih dikenal dengan nama Pol Pot, yang menjadi Perdana Menteri pada 13 Mei 1976, kebijakannya yang berhaluan sosialis, diterafkan secara otoriter.

Rejim Pol Pot sangat kejam terhadap oposisi dan sikap kritis. Pada masa pemerintahannya, ratusan ribu atau bahkan melebihi angka sejuta jiwa, telah menjadi korban penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan. Para politisi, guru, akademisi, pejabat, dan sebagainya menjadi korban. Tidak saja para orang dewasa, anak-anak termasuk bayi juga menjadi korban dibunuh secara kejam di hadapan keluarganya, agar hilang generasi dan tidak ada yang membalas dendam.

S-21, adalah satu tempat yang dikenal sebagai tempat penahanan, penyiksaan dan pembantaian manusia. Tempat lainnya yang juga berhubungan adalah yang dikenal dengan nama ”Killing Field”. Setelah dari S-21, mereka dibawa ke Killing Field untuk dibunuh secara massal.

Mengingat waktu yang terbatas, kami segera memasuki Bangunan A, menyaksikan ruang-ruang yang ada. Tidak seluruh ruang kami masuki, hanya di lantai 1 dan 2 saja. Di sini terlihat ranjang-ranjang dan peralatan yang digunakan untuk penyiksaan. Di beberapa ruang, terpampang juga foto korban.

Salah satu ruang tahanan dan tempat penyiksaan

Salah satu ruang tahanan dan tempat penyiksaan

Ruang atas

Lorong di lantai 2 Bangunan A

Lorong di lantai 2 Bangunan A

Selanjutnya dari Bangunan A, kami menuju bangunan B. Di halaman, terdapat tiang gantungan yang digunakan sebagai tempat penyiksaan bagi para tahanan. Di Bangunan B, saya hanya sempat memasuki lantai satu saja, yang berisi foto-foto para korban, dan juga ada alat-alat penyiksaan yang pernah digunakan. Selanjutnya memasuki beberapa bangunan berlantai satu.

Gambaran tentang penyiksaan yang terjadi

Gambaran tentang penyiksaan yang terjadi

Diantara foto-foto para korban

Diantara foto-foto para korban

Alat-alat penyiksaan

Alat-alat penyiksaan

Sayang, kami tidak sempat memasuki bangunan C dan Bangunan D, lantaran waktu telah menunjukkan kami sudah terlambat untuk masuk kembali ke tempat acara.

Bangunan C dan D

Bangunan C dan D

Waktu kurang dari satu jam selama berada di sana, memang terasa kurang untuk menghayati peristiwa yang pernah terjadi. Namun, pada waktu yang singkat, perasaan bisa tergetar. Sulit terbayangkan bahwa ada orang-orang yang mampu melakukan kekejaman yang luar biasa, dengan korban yang berjumlah puluhan ribu. Iblis manakah yang merasuki diri para pelakunya?

Para penguasa saat kekejaman terjadi

Para penguasa saat kekejaman terjadi

Peristiwa tersebut memang telah lama berlangsung, namun kiranya kita bisa meyakini bahwa tidak mudah untuk melupakannya. Apalagi bagi para korban yang masih hidup dan orang-orang yang telah kehilangan anggota keluarga atau sosok-sosok yang dicintainya.

Bercermin, tentu bukan untuk menjaga amarah dendam. Melainkan menjaga agar peristiwa serupa tidak akan terjadi lagi. Kamboja, tidak berusaha menghilangkan sebagian sejarah kelamnya ke hadapan dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita tahu, telah tertorehkan sejarah kelam dalam beberapa rangkaian peristiwa, yang hingga saat ini, masih pula tersamar kebenaran sejatinya. Mengapa?

Tulisan sebelumnya:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: