1 Komentar

Museum Tuol Sleng: Cermin Sejarah Hitam Kemanusiaan (1)

DSCN3684

Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (7)

 Adakah bangsa dan Negara tanpa sejarah berdarah? Bagi negara-negara Asia-Afrika, yang pernah mengalami masa-masa penjajahan, tentu teramat banyak kisah-kisah perlawanan yang kemudian menjadi kisah-kisah kepahlawanan yang heroik, yang patut dijaga sejarahnya untuk menanamkan semangat nasionalisme. Sejarah berdarah yang tampaknya bisa dibenarkan bagi suatu bangsa atau Negara untuk senantiasa diajarkan kepada anak-anak mereka.

Lantas, adakah bangsa dan Negara tanpa sejarah berdarah dari pertikaian sesama anak bangsa? Tampaknya hal ini juga dialami oleh sebagian atau bahkan seluruh bangsa dan Negara. Kita sering mendengar dan menyaksikan perang saudara yang berkepanjangan, pertikaian antar suku, agama, ras dan antar golongan yang mengakibatkan darah membanjir. Ya, itu banyak terjadi, pun hingga kini.

Indonesia, tak luput dari sejarah hitam. Sejarah mencatat peristiwa 1965-1966 yang pada akhirnya membawa Soeharto kepada tampuk kekuasaan, rangkaian peristiwa di Aceh dan Timor-Timur (yang kini telah merdeka menjadi Timor Leste), dan yang masih berlangsung di Papua. Kerusuhan di Sampang, dan Ambon. Peristiwa 13 Mei 1998 di Jakarta menjelang jatuhnya Soeharto. Puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan nyawa yang dipertaruhkan, dengan berbagai kisah duka mengerikan berada di dalamnya.

Pada 11 November 2012, di sela acara, saat istirahat makan siang, di lantai empat sebuah kantor Organisasi Non Pemerintah di Phnom Penh, terlihat sebuah bangunan di depan gedung itu. “Itu museum Genosida Tuol Sleng,” salah seorang kawan menunjuk.

“Ayo, kita ke sana, walau cuma sebentar,” saya mengajak beberapa kawan..

Lantas beberapa kawan yang tertarik, akhirnya berempat, segera turun dan menuju museum yang sangat terkenal dengan kisah kekejaman dan kengerian yang terjadi di Kamboja pada masa kekuasaan Pol Pot.

Depan museumPada saat masuk, kebetulan bersama dengan serombongan pengunjung, sehingga bisa lolos masuk ke dalam. Namun kemudian, tampaknya seorang petugas bisa melihat bahwa kami bukan bagian dalam rombongan mengingat banyak berada di bagian depan dan asyik sendiri, sehingga petugas tersebut meminta kami untuk membayar tiket masuk: dua dollar.

Keterbatasan waktu menggunakan waktu luang yang tidak sampai genap satu jam memang membuat kita terburu-buru, tidak bisa menjelajahi, mencermati dan menghayati isi seluruh ruang yang ada di sana, namun kesan kita semua, merinding dan membuat perasaan tergetar akan sejarah kemanusiaan yang teramat mengerikan !

Museum yang terletak di St. 113, Sankat beoung Keng Kang III, menjadi tempat penahanan, interogasi, penyiksaan dan pembunuhan terhadap ribuan orang yang dianggap sebagai musuh penguasa saat itu, Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot. Pada tanggal 17 April 1975, mereka menggunakan bangunan sekolah menengah atas bernama Ponhea Yat yang kemudian berubah menjadi TuolSyayPreyHigh School pada masa kekuasaan Lon Nol.

Sejarah Kamboja, memang tidak lepas dari penguasaan asing dan konflik yang berkepanjangan. Sejak tahun 1954, selama tiga abad daerah Khmer (Kamboja) dikuasai oleh Kerajaan Thai dan Vietnam secara bergantian. Pada tahun Pada tahun 1863, Raja Norodom yang dilantik oleh Thai, mencari perlindungan dan kemudian membuat perjanjian dengan Perancis yang memberi hak kontrol propinsi Battambang dan Siem Reap. Pada tahun 1906, kedua daerah ini diberikan kepada Kamboja melalui perjanjian perbatasan oleh perancis dan Thai. Kemudian Kamboja dijadikan daerah Protektorat oleh Perancis dari tahun 1863 sampai dengan 1953, sebagai daerah dari Koloni Indochina. Setelah penjajahan Jepang pada 1940-an, akhirnya Kamboja meraih kemerdekaannya dari Perancis pada 9 November 1953. Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional dibawah kepemimpinan Raja Norodom Sihanouk.

Ternyata, keberhasilan meraih kemerdekaan, belum bisa memberikan kehidupan yang nyaman bagi bangsa itu untuk melakukan program pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan. Pada saat Norodom Sihanouk berada di Moskow pada tahun 1970, Jendral Lon Nol, seorang panglima kepercayaannya dan Pangeran Sisowath Sirik Mata mentri pendidikan yang masih saudara sepupunya yang beraliansi dengan AS, menyingkirkan Norodom Sihanouk dari kekuasaannya. Setelah kudeta yang berhasil, sistem kerajaan dihapus dan diganti dengan mendirikan Republik Khmer yang pro Amerika.

Norodom melarikan diri ke Beijing dan melakukan perlawanan untuk mendapatkan kembali kekuasaannya, kemudian beraliansi  dengan gerombolan Khmer Merah pimpinan Pol Pot. Pada masa ini terjadi perang saudara.

Salah satu foto yang terpajangRepublik Khmer bisa dijatuhkan dan kekuasaan berganti kepada Khmer Merah pada April 1975. Pol Pot lalu merubah kembali bentuk Negara menjadi Republik Demokratik Kamboja. Norodom Sihanouk diangkat sebagai Kepala Negara, tanpa diangkat sebagai raja, dan hanya menjadi simbol belaka. Kekuasaan dipegang oleh Pol Pot, yang melakukan kekejian luar biasa di dalam membangun dan menjaga kekuasaannya. Musuh-musuh politik ditangkap, ditahan, dipenjara, dan dibunuh secara sewenang-wenang. Sekitar dua juta orang telah menjadi korban.

Genosida yang dilangsungkan di Kamboja, mendorong Vietnam untuk melakukan invasi pada November 1978. pada tahun 1989 perdamaian mulai terjadi antara kedua belah pihak. Namun kedamaian belum bisa dinikmati. Masih terjadi usaha kudeta terhadap kekuasaan Norodom pada tahun 1997, namun bisa digagalkan. Pemilu pada tahun 1999, bisa menjadi titik awal bagi Kamboja untuk mulai membangun negeri ini.

Nah, berdasarkan sejarah di atas, museum ini dibangun untuk mengenang dan memperingati periode kekuasaan otoriter yang sangat kejam, menjadi sejarah hitam bagi negeri Kamboja  yang berlangsung pada periode 1975-1978.

Bangunan sekolah yang dijadikan sebagai markas untuk menghabisi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh politik, yang dikenal sebagai kantor 21 atau disebut dengan kata sandi S-21, menjadi saksi bisu yang mampu berbicara.

Selebaran tentang museum ini, yang didapatkan saat membayar tiket menyebutkan pada penelitian atas catatan penjara S-21 menyebutkan jumlah orang yang ditahan dari 1975 sampai Juni 1978 sebanyak 154 tahanan (1975), 2,250 tahanan (1976), 2,350 tahanan (1977) dan 5,765 tahanan (1978). Data ini tidak memasukkan anak-anak yang terbunuh. Diperkirakan jumlah korban mencapai 20,000.

Tahanan-tahanan di sini, sebagian juga dipindahkan untuk dibantai dengan kejam ke wilayah yang dikenal dengan nama ”killing field” yang berlokasi di desa Choeng Ek, Khan Dakor, sekitar 15 kilometer sebelah tenggara kota Phnom Penh. Sayang memang saya tidak berkesempatan ke tempat tersebut, yang merupakan tempat kekejaman serupa yang terjadi pada masa rejim Pol Pot.

(Bersambung)

Tulisan sebelumnya:

Iklan

One comment on “Museum Tuol Sleng: Cermin Sejarah Hitam Kemanusiaan (1)

  1. […] Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (7): Museum Tuol Sleng: Saksi Sejarah Hitam Kemanusiaan (1) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: