Tinggalkan komentar

Wajah Anak-anak Itu

Anak Lembata_1

Catatan Perjalanan ke Lembata (3)

Bila berkunjung ke suatu wilayah, biasanya ada waktu-waktu luang di tengah acara yang bisa digunakan untuk menjelajahi beberapa tempat di wilayah tersebut. Tapi kali ini, sama sekali dibuat tak berkutik.

Tidak ada angkutan umum, pangkalan ojek-pun tidak terlihat di seputaran hotel. Para peserta juga tidak menginap di hotel. Keuntungannya, waktu malah bisa digunakan untuk beristirahat. Hawa panas yang setiap hari dirasakan, dan menurut beberapa peserta di atas 30 derajat celcius, menyebabkan pilihan lebih banyak di dalam kamar. Akhirnya, jadi kebanyakan tidur!

Selama pelatihan berlangsung, dua kali menyempatkan diri ke Kantor Plan, untuk menumpang akses internet. Kembali ke hotel yang jaraknya sekitar tiga kilometer dengan berjalan kaki, anggap sajalah sebagai olahraga.

Anak Lembata_3Pada hari Jum’at (29/11), ada praktek lapangan. Dipilih hanya satu desa saja, yakni desa Maruana. Peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama melakukan ujicoba wawancara kuesioner dengan orang dewasa, dan kelompok kedua melakukan wawancara dan kelompok diskusi terarah dengan anak.

Sesuai kesepakatan, para peserta langsung berkumpul di SD yang ada di desa Maruana pada pukul 09.00. Saya dan Rika sudah bersiap-siap sejak pukul 08.00 di hotel. Tapi sayang, sampai menjelang pukul 09.00, jemputan juga tak kunjunga datang. Atau jangan-jangan saya yang salah? Tapi tidak juga, karena pihak hotel juga sudah mempersiapkan nasi kotak dan minuman untuk para peserta yang tentunya akan dibawa. Untuk memastikan saya kontak rekan di Plan, yang dikatakan bahwa jemputan sudah meluncur.

Sampai di Sekolah yang disepakati, semua sudah lengkap berkumpul. Briefing sebentar, masing-masing kelompok lalu menjalankan tugasnya masing-masing.

Di SD, peserta yang melakukan wawancara dengan anak, mengambil tempat di ruang terbuka dan saling terpisah. Saya sendiri, mencoba membangun komunikasi dengan beberapa anak, lalu pergi ka bagian belakang sekolah. Ada beberapa kelompok yang tengah praktek masak.

Setelah melihat-lihat dan berbincang, saya meminta ijin untuk memotret. Sikap yang terbuka, mereka menyatakan setuju, bahkan aktif meminta untuk di foto, dan beberapa kali terjadi keributan karena saling berebut.

Anak Lembata_2”Wah, kalau rebutan, hasilnya malah jelek. Coba ayo, bersama-sama, biar kompak dan fotonya bisa kelihatan semua,”

Setelah berkeliling dan berdialog dengan anak-anak, saya kembali ke bagian depan sekolah. Tampak beberapa peserta pelatihan tengah mempersiapkan diri untuk melakukan kelompok diskusi terarah dengan anak.

Walaupun ada beberapa catatan penting, praktek lapangan setidaknya bisa membuka pemahaman tentang persoalan-persoalan yang akan dihadapi saat penelitian sebenarnya akan dilangsungkan.

Pada perbincangan informal dan juga pada saat evaluasi atas praktek lapangan, terungkap beberapa persoalan anak seperti; menjadi korban pelecehan seksual oleh salah seorang anggota keluarga, korban perkosaan oleh tetangga, kehidupan anak dalam keluarga, dan sebagainya.

”Kecenderungannya para orangtua menutupi persoalan yang dianggap sensitif. Tapi anak-anak bisa terbuka untuk mengungkapkan informasinya,” kata seorang peserta mengambil kesimpulan dari pengalaman prakteknya.

Wajah anak-anak yang ceria, selayaknyalah dipertahankan. Biarkan mereka selalu tersenyum setiap menyapa dunia, dan menikmati perjalanan kehidupannya dengan gairah yang bisa meningkatkan kapasitasnya, tetap dalam dunia anak: belajar dan bermain!

Anak Lembata_6

Peserta DKT Anak

DKT_2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: