Tinggalkan komentar

Lembata (2)

PELATIHAN ANALISA SITUASI HAK ANAK (ASHA)

Anak-anak di salah satu SD di Lembata

Anak-anak di salah satu SD di Lembata

Linus Making, Child Protection Officer Plan Indonesia PU Lembata

Linus Making, Child Protection Officer Plan Indonesia PU Lembata

Keesokan hari, menjelang dimulainya pelatihan, Linus Making, personil dari Plan yang bertanggung jawab atas pelatihan terkait dengan posisinya sebagai Child Protection Officer (CPO) telah datang. Wajahnya masih terlihat pucat dan jalannya seperti menahan rasa sakit.

”Kemarin hanya mencari obat saja. Ya, kalau kumat, kaki saja tidak bisa digerakkan,” katanya memberi penjelasan.

Rencana, pembukaan akan dilakukan pada pukul 10.00. Namun mengingat seluruh peserta sudah hadir, termasuk juga Program Unit Manager Plan Indonesia Program Unit Lembata, Muhammad Thamrin, diputuskan untuk memajukan acara. Jadi sekitar pukul 09.00 pembukaan dilakukan.

“Saya berharap bahwa pelatihan ini benar-benar bisa membuka wawasan dan kemampuan kita untuk melaksanakan Analisa Situasi Perlindungan Anak (ASPA), sebagai upaya untuk membangun sistem Perlindungan anak di setiap desa,” demikian disampaikan oleh Muhammad Thamrin pada saat memberikan sambutan dalam pembukaan acara pelatihan.

Muhammad Thamrin, Program Unit Manager

Muhammad Thamrin, Program Unit Manager

Oh, ya, saya belum menginformasikan tentang pelatihan ini ya. Pelatihan yang diselenggarakan adalah Pelatihan bagi Fasilitator Analisa Situasi Hak Anak. Acara ini dilangsungkan pada tanggal 23-30 November 2012, bertempat di Hotel Palm Indah, Loweleba, Kabupaten Lembata. Ada 24 orang peserta yang berasal dari organisasi mitra Plan, yakni Forum Peduli Anak Lembata (Forpal) dan para CTA Plan sendiri.

ASHA, merupakan langkah awal dari kerangka kerja yang dikembangkan oleh Plan Indonesia untuk membangun Sistem Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat. Kegiatan ini diawali dari pilot proyek yang dilaksanakan di tiga wilayah yakni Rembang (Jawa Tengah), Surabaya (Jawa Timur) dan Timor Tengah utara (NTT) pada tahun 2008-2010.

Hasil dari pelaksanaan proyek uji-coba tersebut dinilai berhasil membangun institusi desa yang mencerminkan kerja kolaborasi antara pemerintah desa dengan berbagai unsur organisasi masyarakat, termasuk perwakilan anak ke dalam institusi yang disebut Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD). Keberhasilan ini  telah mendorong Plan Indonesia memutuskan untuk mengembangkan pembentukan KPAD di seluruh desa yang menjadi wilayah kerja Plan Indonesia.

Sebagian peserta Pelatihan ASPA

Sebagian peserta Pelatihan ASPA

Pada saat ini sudah ada ratusan desa yang telah memiliki KPAD dan berjalan secara baik seperti di Kabupaten Kebumen, Rembang, Grobogan, Surabaya, Kefamenanu, Soe, Dompu, Sikka, dan Lembata sendiri yang difasilitasi oleh Plan Indonesia dengan seluruh program unit-nya. Bahkan di Kebumen, Pemerintah Kabupaten telah mereplikasikan pembentukan institusi perlindungan anak desa ini menjadi salah satu program kerja mereka. Sudah puluhan KPAD yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen. Informasi yang saya terima dari seorang rekan di Plan Indonesia, ada pula kabupaten yang tidak menjadi wilayah kerja, sangat tertarik dan bermaksud mengembangkan KPAD di wilayah mereka. Langkah awal telah melakukan studi banding ke salah satu kabupaten yang menjadi wilayah kerja Plan.

Analisa Situasi Hak Anak (ASHA) dirancang sebagai langkah awal untuk mengidentifikasi persoalan anak, situasi dan mekanisme perlindungan anak yang ada dalam masyarakat dan juga memetakan lembaga-lembaga rujukan yang ada di tingkat kecamatan dan kabupaten dalam penanganan kasus anak. Berdasarkan uji coba dalam proyek rintisan, kemudian Plan mulai memfokuskan pada isu perlindungan dengan mengacu kepada pasal 19 Konvensi Hak Anak dan pasal 59 Undang-undang Perlindungan Anak. Seiring dengan itu, dalam suatu pertemuan yang melibatkan para child protection Officer, diputuskan adanya perubahan nama menjadi Analisa Situasi Perlindungan Anak (ASPA).

Pelaksanaan ASHA/ASPA, melibatkan masyarakat desa sebagai enumerator atau anggota peneliti. Proses keterlibatan ini diharapkan dapat berpengaruh pada kesadaran mengenari realitas anak yang ada di desa mereka sehingga tercipta tantangan untuk bersama-sama mengatasi persoalan dan meningkatkan kualitas kehidupan anak-anak di desanya melalui kerja kolaboratif dalam satu institusi bernama KPAD.

“Hasil dari ASHA/ASPA digunakan menjadi dasar bagi masyarakat untuk membentuk KPAD, menjadi acuan untuk pengembangan program mereka, dan lebih jauh lagi bisa digunakan sebagai bahan untuk melakukan advokasi,” demikian dikatakan oleh Odi Shalahuddin.

Plan Indonesia Program Unit Lembata yang telah enam tahun bekerja di kabupaten ini, telah melaksanakan berbagai program yang terkait dengan kepentingan anak-anak di 82 desa di lima kecamatan.

“Sebelumnya kami telah mengujicobakan ASPA di lima desa yang ditindaklanjuti dengan pembentukan KPAD. Sekarang kami merencanakan akan melakukan di 25 desa lagi,” dikatakan oleh Linus Making, Child Protection Officer, yang bertanggung jawab atas kegiatan ini.

Proses pelatihan berisi materi mengenai latar belakang dan tujuan ASPA, prosedur dan tahapan-tahapan pelaksanaan, metode-metode yang digunakan, kode etik dan kebijakan perlindungan anak.

Selain pelatihan di kelas, juga dilakukan praktek lapangan yang dilakukan di desa Muruona, Kecamatan Ileape. Peserta dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama melakukan wawancara dengan masyarakat dewasa, dan kelompok kedua melakukan wawancara kepada anak-anak, serta praktek kelompok diskusi terarah dengan anak yang dipusatkan di SD Inpres Muruona.

Tentu saja diharapkan bahwa pelatihan ini bisa memberikan pengetahuan dan ketrampilan dasar bagi fasilitator untuk diterafkan dan dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi wilayah masing-masing, serta tidak mengabaikan keterlibatan dari anggota masyarakat sendiri.

Memang, bermula dari mengungkap masalah, membangkitkan kesadaran bahwa masalah tersebut adalah masalah bersama, maka kerja kolaboratif dapat dilakukan untuk menjaga dan menjamin perlindungan anak di tingkat basis oleh masyarakatnya sendiri.

Sejahteralah anak lembata, sejahteralah anak Indonesia, sejahteralah anak dunia !

Lembata, 29 November 2012

(Tulisan ini dikembangkand ari versi sebelumnya)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: