1 Komentar

Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (6)

MONUMEN KEMERDEKAAN 

Independent Monumen di Phnom Penh

Independent Monumen di Phnom Penh

Saya harus menunggu sekitar empat jam untuk mendapatkan kamar lantaran waktu chek-in pukul 12.00, dan kebetulan di kamar yang akan digunakan, masih ada penghuni hotel yang baru akan chek-out siang ini.

Rasa kantuk mulai menyerang setelah semalaman tidak tidur. Terbayang sudah untuk berbasuh, ganti pakaian, mandi dan menikmati tidur. Bisa lebih bebas mengingat tadi diumumkan bahwa briefing yang direncanakan sore ini diundur besok pagi lantaran anggota delegasi yang lain rata-rata baru akan tiba malam hari.

Saat menunggu sendirian, setelah rekan perjalanan mendapatkan kamar terlebih dahulu, seorang petugas hotel mempersilahkan saya menggunakan kamar lain untuk sementara beristirahat. Tentu saja kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Maka, begitu masuk kamar, kamar mandi menjadi tujuan pertama. Namun belum selesai mandi, terdengar ketukan di pintu kamar. Jadi cepat-cepatlah menuntaskan.

Dikatakan oleh petugas hotel bahwa kamar telah siap. Lalu saya diantarkan ke bangunan hotel lain yang berjarak sekitar dua ratus meter. Jadi, hotel yang memiliki empat bengunan terpisah ini, menyebabkan kami juga terpisah-pisah.

Sesuai rencana yang lama menggantung: Inilah saat berebah!

***

Sekitar tiga jam, bisa tertidur pulas. Saat bangun terasa tubuh lebih segar. Kali ini, cukuplah berbasuh muka, ke luar kamar dengan membawa kamera, lalu menuju ke tempat penginapan rekan, mengajaknya jalan keluar memanfaatkan waktu kosong untuk menghhafal jalan di sekitar penginapan. Memang ada sasaran pertama, yang sebelumnya sempat terlihat ketika perjalanan dari Bandara menuju hotel: Monumen Kemerdekaan!

Kami memutuskan berjalan kaki saja. Tidak lupa, sebelum pergi kami mengambil brosur berisi peta kota Phnom Penh dan informasi lainnya. Pasti bisa dibutuhkan nanti.

Terlihat peserta upacara di seputaran Monumen Kemerdekaan

Terlihat peserta upacara di seputaran Monumen Kemerdekaan

Dari St. 278 Boeung Kengkang, kami berjalan lurus sekitar 150 meter hingga tiba di pertigaan Jln. Pasteur. Beberapa pengemudi Tuk Tuk aktif menawarkan diri, tapi kami menolak. Rencana, memang sengaja berjalan kaki saja.

Kami lalu berbelok ke arah kiri, dan sekitar 100 meter sudah bertemu dengan perempatan. Jalan ke kanan dihalangi pembatas besi, dan tertutup untuk kendaraan bermotor. Tampak terlihat aparat keamanan berjaga-jaga. Inilah jalan 268 atau jalan Preah Suramarit Blvd.

Dari perempatan jalan sudah terlihat Monumen Kemerdekaan, yang dibangun sebagai tanda peringatan kemerdekaan yang berhasil diraih oleh Kamboja saat di bawah kepemimpinan Norodom Sihanouk. Kamboja merdeka pada tanggal 9 November 1953  dari Perancis yang telah menjadikan wilayah yang awalnya bernama Kampuchea sebagai wilayah protektoratnya.

Pada saat itu tengah ada upacara kenegaraan. Terlihat barisan-barisan pasukan yang mengelilingi monumen kemerdekaan. Jalan tertutup untuk kendaraan, tapi pastilah tidak untuk pejalan kaki. Kami pun menyusuri trotoar untuk mendekat ke tempat upacara. Tapi, sekitar dua ratus meter sebelum monumen tersebut, kami telah diingatkan oleh aparat keamanan untuk tidak mendekat. Sehingga kami hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.

2”Upacara terakhir peringatan Hari Kemerdekaan,” demikian dikatakan oleh salah seorang petugas ketika di tanya.

Beberapa saat baru berhenti dan berdiri di tempat itu, angin kencang datang. Terlihat putaran-putaran kecil seperti hendak membangun pusaran angin lesus. Sepenggal pelangi terlihat di langit. Suara kilat bersahutan.

”Wah, semoga saja pertanda baik ya, menyambut kedatangan kita,” Nasa, kawan perjalanan berkomentar.

Butiran air hujan mulai menyapa. Kami bergegas, kembali ke perempatan, hujan semakin menderas masih disertai angin kencang saat kami sudah berteduh di sebuah warung pinggir jalan. Tampaknya upacara langsung bubar. Terlihat rombongan-rombongan para peserta upacara sebagian mencoba mencari tempat berteduh, sebagian lagi berhujan-hujanan. Hujan deras disertai angin kencang berlangsung cukup lama, sekitar satu jam lebih.

Berteduh

Berteduh

Saat hujan mulai reda, kami memutuskan kembali menuju ke Monumen Kemerdekaan, yang terletak di bundaran di tengah perempatan antara Norodom Boulevard dengan Sihanouk Boulevard.

Monumen yang didesain oleh arsitek dari Kamboja ini  didirikan pada tahun 1958 dan diresmikan pada 9 November 1962. Bentuk bangunan seperti menara setinggi 20 meter dengan bentuk menyerupai bunga teratai, menjadi pusat upacara dalam setiap peringatan Hari Kemerdekaan Kamboja.

Memang hanya tugu, tapi ia tentu bisa sangat bermakna. Bangsa manakah yang tidak akan bersuka-cita bila mendapatkan kemerdekaan apalagi bila dalam sejarahnya selalu berada dalam kekuasaan bangsa Asing?

Mencermati sejarah Kamboja, bisa dikatakan sebagai negeri yang selalu dirundung malang. Berdasarkan sumber Wikipidea, dikatakan bahwa peradaban Kamboja terjadi pada abad 1 Masehi. Negara Funan dan Chenla bersatu untuk membangun Kamboja pada abad ke 3-5. namun kekuasaan dua negara ini runtuh saat Kerajaan Khmer dibangun dan  berkuasa pada abad ke 9 sampai abad ke 13.

Anasa WIjaya dari LBH Yogyakarta, kawan perjalanan

Anasa WIjaya dari LBH Yogyakarta, kawan perjalanan

Pada tahun 1594, daerah Khmer dikuasai oleh Thai dan Vietnam. Selama tiga abad berikutnya, dikuasai oleh kedua negara tersebut secara bergiliran. Pada tahun 1863, Raja Norodom yang dilantik oleh Thai, mencari perlindungan dan kemudian membuat perjanjian dengan Perancis yang memberi hak kontrol propinsi Battambang dan Siem Reap. Pada tahun 1906, kedua daerah ini diberikan kepada Kamboja melalui perjanjian perbatasan oleh perancis dan Thai. Kemudian Kamboja dijadikan daerah Protektorat oleh Perancis dari tahun 1863 sampai dengan 1953, sebagai daerah dari Koloni Indochina. Setelah penjajahan Jepang pada 1940-an, akhirnya Kamboja meraih kemerdekaannya dari Perancis pada 9 November 2953. Kamboja menjadi sebuah kerajaan konstitusional dibawah kepemimpinan Raja Norodom Sihanouk.

1

Kemerdekaan, belum memberi keleluasaan dan ketenangan bagi bangsa Kamboja. Jendral Lon Nol dan Pangeran Sirik Mata yang beraliansi dengan AS, menyingkirkan Norodom Sihanouk dari kekuasaannya. Norodom beraliansi dengan gerombolan Khmer Merah untuk merebut tahtanya, yang mengakibatkan perang saudara timbul di Kamboja.

Kemenangan Khmer Merah pada tahun 1975, menjadi petaka pula bagi Kamboja. Selama berkuasa pada tahun 1975-1979, sekitar dua juta orang tewas terbunuh dengan kejam oleh penguasa. Pada tahun 1997, masih terjadi kudeta yang tidak berhasil.

Saat ini, saatnya berbenah bagi Kamboja. Proses pembangunan tengah berlangsung di mana-mana.

Ya, kemerdekaan memang teramat mahal harganya. Monumen Kemerdekaan setidaknya bisa menjadi tugu peringatan untuk memaknai lebih dalam hakekat kemerdekaan.

Kami memasuki areal Monumen tersebut untuk berfoto-foto, sampai akhirnya datang petugas yang mengingatkan agar kami tidak memasuki wilayah tersebut. Jadi harus berada di luar pembatas, yang pada saat itu terbuka. Tapi beruntunglah sudah sempat mengambil beberapa gambar.

Setelahnya kami menuju ke Timur, ada sebuah taman yang memanjang dan tertata rapi. Tempat ini banyak digunakan oleh orang-orang yang bersantai kala sore, dan juga menjadi tempat bagi berolahraga.

Tidak terasa, gelap mulai menyapa, lampu-lampu di Monumen Kemerdekaan telah menyala, sehingga terlihat indah dipandang. Apalagi ketika air mancur mulai dihidupkan dengan pergantian beberapa warna.

Berkali-kali kami mengambil gambar, selanjutnya berjalan kaki menyusuri Norodom Boulevard, tanpa tujuan pasti. Kalau letih, pastilah ada tuk tuk yang mudah didapatkan untuk menghantarkan kembali ke hotel.

(bersambung)

Iklan

One comment on “Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: