1 Komentar

Catatan Hari Anak Internasional: Apa Kabarmu Anak Dunia?

Biarkan anak belajar tanpa dibayangi ancaman kekerasan dan hukuman fisik

Hari Anak Universal atau Hari Anak Internasional, ada dua tanggal yang biasa diperingati di berbagai negara. Termasuk  hari ini, 20 November. Tanggal peringatan  tampaknya dikaitkan dengan pengesahan Deklarasi Hak Anak oleh oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa pada tanggal 20 November 1959 dan  diadopsinya Konvensi Hak Anak (KHA) melalui resolusi PBB nomor 44/25, pada tanggal 20 November 1989.

Peringatan Hari Anak internasional lainnya adalah pada tanggal 1 Juni.   Tanggal ini ditetapkan  dalam Konvensi International Women Democratic Federation di Moskow, 1949.  Untuk pertama kalinya, 51 negara memperingati hari anak internasional tersebut pada tahun 1950. Penetapan hari anak merupakan  bagian dari upaya Perlindungan anak terhadap kelangsungan hidup, kesehatan, pendidikan dan peningkatan kehidupan.

Baiklah, bila kita mengacu kepada pengesahan KHA, yang keterikatannya lebih tinggi yakni terikat secara hukum dan politis dibandingkan  deklarasi yang lebih bersifat moral, maka perubahan kehidupan seperti apa yang telah terjadi setelah 24 tahun KHA tersebut disahkan?

Diakui, bahwa dengan disahkannya sebuah kesepakatan internasional, peraturan perundangan dan kebijakan, tentu tidak serta merta melahirkan perubahan. Tapi dengan adanya ketentuan-ketentuan yang terumuskan secara legal dan mengikat untuk dilaksanakan, maka ada arah atau tujuan yang hendak dicapai bersama dengan standar nilai minimal yang sama.

Saat ini, tentu kita masih merasakan kegeraman atau bahkan kemarahan yang luar biasa atas sikap Israel beberapa hari belakangan ini yang menggempur jalur Gaza yang mengakibatkan korban dari masyarakat sipil, termasuk anak-anak!

Perang. Akibat peperangan yang menempatkan anak-anak (dan kaum Perempuan) sebagai korban yang paling terkena dampaknya, inilah yang pada awalnya melahirkan kesadaran dan semangat untuk memberikan Perlindungan terhadap anak-anak.

Adalah Eglantyne Jebb, seorang aktivis Perempuan, yang kemudian mendirikan Save the Children, untuk pertama kalinya merumuskan pernyataan tentang hak anak pada tahun 1923, yang kemudian disahkan sebagai Deklarasi Hak Anak oleh Liga Bangsa-bangsa pada tahun 1924.

Berkembang kemudian, nasib buruk anak-anak tidak hanya menimpa pada masa-masa peperangan. Pada masa damai-pun, kenyataannya, masih dijumpai anak-anak bernasib buruk dan senantiasa dibayang-bayangi ancaman berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi.

Studi PBB mengenai kekerasan terhadap anak yang dirilis pada tahun 2006, dan kini menjadi rujukan bagi berbagai negara untuk melakukan upaya pencegahan dan penanganannya, memberikan gambaran umum mengenai situasi anak yang dirilis oleh berbagai organisasi PBB, antara lain:

  • WHO memperkirakan, melalui penggunaan data tingkat negara yang terbatas sifatnya, bahwa hampir 53.000 anak meninggal di dunia pada tahun 2002 karena pembunuhan (homisida).
  •  Laporan mengenai berbagai negara-negara berkembang, the Global School-based Health Survey baru-baru ini menemukan bahwa antara 20 dan  65 persen anak-anak usia sekolah melaporkan telah ditakut-takuti secara verbal  atau secara fisik dalam waktu 30 hari terakhir. Bullying (penggertakan/ plonco) juga umum dijumpai di negara-negara industri.
  •  WHO memperkirakan bahwa 150 juta anak perempuan dan 73 juta anak laki-laki yang berusia di bawah 18 tahun mengalami hubungan seks paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya yang melibatkan kontak fisik selama tahun 2002.
  •  Menurut  satu perkiraan WHO, antara 100 sampai 140 juta anak-anak gadis dan perempuan dewasa di dunia telah mengalami beberapa bentuk pemotongan/ mutilasi genital. Perkiraan UNICEF yang diterbitkan pada tahun 2005 mengesankan bahwa di kawasan Sub-Sahara Afrika, Mesir dan Sudan, 3 juta anak gadis dan perempuan dewasa menjalani pemotongan / mutilasi genital setiap tahun.
  • Baru-baru ini, perkiraan ILO mengindikasikan bahwa, pada tahun 2004, 218 juta anak-anak terlibat dalam perburuhan anak, 126 juta di antaranya bekerja di lingkungan kerja yang membahayakan. Perkiraan dari tahun 2000 menunjukkan bahwa 5,7 juta dipaksa pekerja dalam pekerjaan ijon, 1,8 juta dalam pelacuran dan pornografi, dan 1,2 juta menjadi korban perdagangan manusia. Kendatipun demikian, dibandingkan dengan perkiraan yang dipublikasikan pada tahun 2002, insidensi pekerja anak telah turun 11 persen, sementara anak-anak yang ditemukan bekerja di bidang-bidang yang membahayakan turun 25 persen.

Gambaran umum di atas adalah sebagian dari situasi yang masih dialami oleh anak-anak dunia, termasuk sebagian anak-anak Indonesia, yang hingga kini masih berlangsung.

Memang, perayaan tahunan tidak akan membawa pengaruh apapun terhadap perubahan apabila hanya menjadi perayaan semata-mata. Namun perayaan tetap penting dan bermakna apabila dijadikan sebagai titik untuk merefleksikan situasi hak anak dunia dan merefleksikan langkah-langkah yang telah dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kehidupan anak-anak yang lebih baik.

Anak-anak, sebagai subyek, dalam hal ini, juga harus mampu berperan sebagai aktor perubahan bagi kehidupan mereka sendiri. Sesuatu yang bukan mengada-ada, mengingat anak-anaklah yang lebih mengetahui tentang situasi kehidupan mereka sendiri. Keterlibatan dan partisipasi anak dalam perubahan sosial, menjadi bagian dari hak mereka untuk menyampaikan pandangan yang terkandung dalam Konvensi Hak Anak.

Anak bisa berperan tampil ke muka, berhadapan dengan orang dewasa dan membangkitkan kesadaran yang menjadi landasan untuk mengambil kebijakan. Untuk ini, saya sangat terkesan dengan Severn Suzuki, saat berumur 12 tahun dengan pidatonya yang sangat luar biasa dan mampu memberikan pengaruh terhadap para pemimpin-pemimpin dunia pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit).

Pidatonya membuat sekjend PBB menyatakan dalam pidato pembukaannya: “Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun ”

Anak, juga bisa berperan membela kepentingan anak-anak lainnya yang senasib. Teringat kepada Iqbal Masih, sosok yang banyak menginspirasi saya untuk meyakini bahwa anak-anak mampu menjadi aktor perubahan sosial. Iqbal Masih, adalah pejuang anak yang berhasil membebaskan 3000 ribu buruh anak terpasung di negerinya, Pakistan. Ia yang pada umur lima tahun dijual oleh orangtuanya menjadi buruh pabrik karpet, berhasil keluar dari situasinya ketika berhasil kabur untuk kedua kalinya. Ia bertemu dan terlibat kerjasama dengan sebuah NGO bernama Bonded Labor Liberation Front, untuk membebaskan buruh anak. Pada umur 11 tahun, ia telah berbicara tentang situasi buruh anak di negerinya pada konferensi-konferensi internasional di luar negeri. Sayang, pada umur 12 tahun, Iqbal yang kelahiran 1983, tewas ditembak orang yang mengendari motor dengan shotgun.

Anak, yang menjadi korban, tapi kehidupannya menggerakan orang untuk melakukan sesuatu. Rosario Baluyot, seorang anak jalanan di Philipina yang dijerumuskan ke prostitusi, mengalami nasib buruk saat seorang dokter dari Austria memasukkan vibrator ke alat kelaminnya dan pecah di dalam. Ia jatuh sakit tanpa perawatan, diusir oleh mucikarinya, dan kembali ke jalanan dengan sakit yang tak tertahan. Seorang pekerja sosial yang bertemu dengannya,  mencoba membantu. Tapi sakit bertahun, tak mampu ditahannya. Rosario tewas dalam usia muda, 11 tahun. Sosok inilah yang menggerakkan kaum Perempuan di Philipina untuk mendesak pemerintah melahirkan peraturan perundangan yang memberikan hukuman berat kepada para pelaku kekerasan seksual. Hukuman mati kembali diberlakukan, walau sesungguhnya itu bertentangan dengan Konvensi Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Philipina.

Kisah Rosario, terkesan bagi saya, sehingga memiliki obsesi untuk menulis tentangnya, dan pada akhirnya berhasil membuat lirik yang kemudian dijadikan lagu oleh seorang sahabat “Wak Yok” (bisa di dengarkan di SINI)

Di Indonesia, telah banyak anak-anak menjadi korban. Ia hadir, dan terus menghilang dari ingatan. Tentu kita tidak berharap anak-anak akan terus berkepanjangan menjadi korban. Kita berharap anak-anak yang mampu melihat realitas hidup dan lingkungannya serta mampu mengartikulasikan pandangan-pandangannya, dapat hadir dan berperan penuh dalam segenap proses perubahan.

Anak-anak Indonesia dan anak-anak dunia!
Peringatan Hari Anak ini, biarlah terus bergema,
Menggelayut di dada, mendorong kerja-kerja
Bagi perubahan kehidupan yang lebih baik…

20 November 2012

Catatan: Tulisan ini terposting juga di Kompasiana, lihat di SINI

Iklan

One comment on “Catatan Hari Anak Internasional: Apa Kabarmu Anak Dunia?

  1. Anak kambing punya rumah, namanya kandang kambing
    Anak ayam punya rumah, namanya kandang ayam
    Anak Rohingya tak punya, kandangnya dari platik bekas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: