2 Komentar

Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (3)

Tiba di Phnom Penh

Bandar Udara Internasional Phnom Penh

Tidak terasa sudah mendarat di Phnom Penh, sekitar pukul delapan pada 11 November 2012. Waktu di sini, tidak berbeda dengan waktu di Jakarta. Perjalanan dua jam lebih dari Kuala Lumpur. Tapi sebagian besar bisa terlewatkan dengan tidur mengingat semalam bertahan dengan mata terbuka.

Bandara yang awalnya bernama Bandar Udara Internasional Pochentong yang mulai beroperasi sejak tahun  1995 dan selain menjadi bandara sipil juga dipergunakan sebagai bandara militer, merupakan bandara terbesar di Kamboja. Tapi, sebagai bandara internasional  tampaknya masih kalah luas dan kalah bagus pula dengan LCCT di Kuala Lumpur tapi sedikit lebih luas dibandingkan bandara Adisucipto Yogyakarta.  Jadi, janganlah dibandingkan dengan bandara internasional negara lain, sebagai misal dengan  bandara Soekarno-Hatta (Soetta) Jakarta atau KLIA Kuala Lumpur atau juga Suvarnabhumi Bangkok. Pastilah berbeda jauh.

Foto sang pengemudi tuk tuk sayangnya tidak jelas ya.. he.he.h.e.he

Bandara yang kecil, tapi terlihat bersih, justru bisa menguntungkan para penumpang seperti saya agar tidak merasa gagap untuk mencari jalan ke luar. He.he.h.e.h.e

Proses  tidaklah berbelit-belit. Sejak Juli 2011, memang tidak diperlukan visa bagi penumpang yang berasal dari Negara-negara ASEAN. Setelah memberikan isian dari form yang sudah disediakan, memberikan sidik jari dan memperlihatkan paspor, yang mana membutuhkan waktu tidak lebih dari lima menit, usai sudah urusan imigrasi.

Tiba di halaman depan bandara, terlihat jalan umum. Jadi letaknya sangat dekat sekali dengan jalan raya. Tidak ada batas. Beberapa taksi terlihat terparkir di bandara. Tapi yang menarik perhatian adalah angkutan bernama “tuk-tuk”. Angkutan ini  mirip seperti andong atau delman, hanya kudanya saja yang diganti dengan motor roda dua. Bila saja ada jenis kendaraan semacam ini di Indonesia, maka pasti namanya akan berupa singkatan seperti “Antor” untuk menyebut Andong bermotor atau “Deltor” Delman bermotor. Sama halnya ketika angkutan becak dilekatkan kendaraan bermotor maka disebut sebagai Bentor (becak Bermotor), bukan?

Saya jadi teringat kendaraan bernama Tuk tuk yang berada di Bangkok. Tapi terlihat ada perbedaan. Bila di Bangkok, kendaraan roda duanya tidak utuh, melainkan hanya separo, seperti Tossa atau Viar.

Hal yang menarik adalah bahwa kendaraan semacam tuk tuk bisa bergerak bebas di dalam halaman bandara. Bahkan seperti ada jalur khusus bagi kendaraan ini. Hal yang pasti tidak dimungkinkan terjadi di Indonesia.  Malah bisa jadi menjadi sasaran untuk diburu.

Seorang pengemudi Tuk-tuk agresif sekali menawarkan angkutannya. “Enam dollar,” katanya ketika dijawab tujuan tempat kami. Kami berusaha menolak sambil melihat-lihat suasana terlebih dahulu. Tapi setelah berbincang dengan kawan perjalanan, kami sepakat untuk menggunakan tuk-tuk saja. Bisa lebih menikmati suasana perjalanan dengan santai, demikian pikiran kami.

Pengemudi Tuk tuk mendekati lagi, “Bila naik taksi 10 dollar, naik tuk tuk saja, delapan dollar,” katanya memberikan harga yang lebih mahal.

Kami mencoba mengingatkan tawaran sebelumnya. Akhirnya dia setuju dengan harga kembali ke awal. Enam dollar. Kami pun menunggu sang pengemudi mengambil tuk tuknya yang katanya terparkir di luar halaman bandara. Setelah itu berhenti di tempat kami menunggu. Tak perlu menunggu lama, kami segera naik. Nah, karena ini ada lah pengalaman pertama, maka kami meminta tolong kepada sang pengemudi untuk mengabadikannya ke dalam jepretan kamera. Selanjutnya bergerak menuju tujuan.

Lalu-lintas padat, pasti bukan hal yang aneh bagi sebuah kota yang menjadi ibukota negara. Tapi kepadatan yang masih wajar, sama sekali kami tidak merasakan ada kemacetan berlebihan.  Di beberapa ruas jalan, terutama pada perempatan-perempatan jalan memang agak tersendat.  Ini lantaran sangat jarang perempatan yang memiliki traffick light. Jadi masing-masing pengemudi harus menyesuaikan dan berbagi jalan. Untuk hal ini, saya kira, para pengemudi patut diacungin jempol dibandingkan pengemudi di negara kita yang cenderung main serobot saja.

Oh, ya, beberapa kali kami menjadi gugup, terutama saat kendaraan yang kami tumpangi hendak berbelok arah. Hal ini disebabkan arus  kendaraan berbeda dengan di Indonesia. Mereka menggunakan lajur jalan sebelah kanan.

Bangunan-bangunan di sepanjang jalan, kecenderungannya berbentuk seperti ruko-ruko. Ada beberapa pembangunan gedung-gedung baru yang belum selesai.  Terlihat ada pawai keagamaan dengan menggunakan pakaian tertentu, dan di bagian depan menggunakan kostum yang bisa dikatakan seperti ondel-ondel betawi. Ada pasar-pasar tradisional yang terlihat padat dengan kerumunan orang.

Ya, kota ini atau tepatnya negeri ini memang tengah berbenah, melakukan pembangunan-pembangunan, setelah melewati masa suram yang sangat panjang.

Kamboja atau kita dulu mengenalnya sebagai Kampuchea adalah sebuah Negara kerajaan yang menjadi wilayah protektorat Perancis pada periode 1863-1953. Kamboja meraih kemerdekaannya pada tanggal 9 November 1953 sebagai sebuah kerajaan Konstitusional di bawah kepemimpinan Norodom Sihanouk.

Kedukaan atas wafatnya mantan raja Norodom Sihanouk tergambar dari poster-poster yang tertempel hampir di seluruh sudut kota

Kemerdekaan yang mereka raih, delapan tahun setelah Indonesia merdeka. Sebagai negara yang baru merdeka, belum berjalan dengan baik, sudah disusul dengan adanya kudeta, yang melahirkan perlawanan, terjadi penguasaan baru, namun kehidupan menjadi lebih buruk, karena terjadinya pembantaian manusia yang dinilai berlawanan. Perlawanan yang terjadi mengakibatkan adanya perang saudara. Baru di akhir tahun 1990-an mereka mulai bisa membangun negerinya sendiri.

Saat kami tiba, berarti dua hari sebelumnya Kamboja baru saja merayakan peringatan Hari Kemerdekaannya. Peringatan yang mungkin agak berbeda, lantaran diselimuti duka atas meninggalnya Norodom Sihanouk pada tanggal 15 Oktober 2012 di China pada usianya yang ke 89 tahun akibat penyakit jantung. Melalui pemberitaan berbagai media massa, jenazah Norodom Sihanouk yang dipulangkan pada tanggal 17 Oktober disambut oleh sekitar seratus ribu rakyat Kamboja yang menyampaikan rasa dukanya. Jenazah Sihanouk disemayamkan di istana Phnom Phen selama tiga bulan dan selanjutnya akan dikremasi pada pekan pertama Pebruari 2013.

Suasana duka memang sangat kentara. Di berbagai ruang di sepanjang jalan kotaPhnom Penh, foto-foto Sihanouk berukuran besar selalu terlihat disertai bunga dan seperangkat peralatan doa.

Sepanjang perjalanan, ada yang menarik perhatian saya, yakni  terlihat anak-anak yang bekerja di beberapa tempat pencucian motor atau mobil, dan semrawutnya kabel listrik di hampir semua tempat.

Lihat saja rumitnya kabel

Kurang lebih setengah jam, kami akhirnya tiba di hotel yang telah ditentukan oleh pengundang kami. Sebuah hotel kecil berbentuk ruko. Di sini ada juga yang menarik perhatian saya, yakni sebuah selebaran yang dilaminating berisi informasi tentang Safechildren Hotel Policy. Hal ini mengingatkan kepada konferensi internasional yang saya ikuti di Bali tahun lalu tentang Child Sex Tourism.

Petugas hotel dengan ramah mengantarkan kami ke restaurant yang terletak di bangunan yang berbeda, berjarak sekitar dua ratus meter. Di sana, ada beberapa kawan yang telah hadir, dan juga pengundang yang menyambut ramah. Setelah berbincang, segera melakukan reimbursement atas biaya perjalanan termasuk juga keperluan selama di Phnom Penh. Asyik juga….

Sayangnya, kami baru bisa chek-in siang hari, dan harus menunggu sekitar empat jam, dan itu tentu merupakan hal yang menyebalkan, bukan? Menunggu..! Ah…

Iklan

2 comments on “Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: