2 Komentar

Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (2)

Bermalam di Malaysia

Medan Selera, semakin larut semakin ramai orang menggunakan tempat ini untuk menunggu perjalanan berikutnya..

Seperti tulisan sebelumnya, kami memutuskan untuk tidak mencari penginapan, melainkan bermalam saja di Bandara LCCT. Tampaknya terlihat aman dan nyaman. Di berbagai ruang terlihat ramai orang, yang juga menghabiskan malam untuk melakukan atau melanjutkan perjalanan esok pagi.

Saya sendiri merasa tidak berada di wilayah yang asing. Bisa dikatakan, hampir sebagian besar orang-orang yang ada adalah orang-orang Indonesia, terutama Jawa. Ini jelas terindentifikasi dari bahasa yang digunakan: Bahasa Jawa.

Ingin tidur takut keterusan. Begadang menjadi pilihan terbaik. Anasa, kawan seperjalanan saya yang bekerja di LBH Yogyakarta, sudah saya minta untuk istirahat dan tidur saja. Tapi ia juga memilih begadang sambil menikmati buku bacaannya. Sedangkan saya banyak berada di luar ruangan food court Medan Selera. Apalagi kalau bukan menghujamkan “racun” asap bernama rokok kretek.

Di luar, di sisi kanan pintu masuk, ada tiga orang Indonesia yang semuanya berasal dari Jawa Timur. Satu orang mengantarkan kawannya yang pulang ke Indonesia. “Pengalaman pertama, jadi saya antarkan,” katanya seraya menjelaskan bahwa Ia bermalam menunggu transportasi pagi. Ia mengaku bekerja sebagai buruh bangunan.

Sedangkan dua orang lainnya, memang ingin kembali ke Indonesia. Mereka telah bekerja selama dua tahun di perkebunan kelapa sawit. “Sebulan, setelah itu kembali ke sini,” kata salah satunya.

“Ya, kita menggarap sekitar 500 ha bersama 18 orang lainnya yang semua berasal dari Indonesia,” ujar orang yang lainnya.

Dari tempat tinggal dan tempat kerjanya di Malaysia, mereka menempuh perjalanan sekitar lima jam menuju bandara. Jadwal penerbangan pagi, sekitar pukul tujuh. Jadi memang lebih baik menunggu di Bandara.

Perbincangan memang lebih banyak terkait dengan pengalaman kerja mereka selama di Malaysia. Banyak suka-duka yang telah dialami. Mereka, adalah bagian dari 1,9 juta TKI yang berada di Malaysia. Itulah data yang dilansir oleh BNP2TKI status Juli 2012. Pada tahun-tahun sebelum terjadi moratorium pada bulan Juni 2009, jumlah TKI di Malaysia mencapai 2,76 juta jiwa.

Merekalah  yang dikenal sebagai pahlawan devisa. Pahlawan yang sering mendapatkan perlakuan buruk, tidak hanya ketika bekerja, namun juga saat kepulangan. Bukankah kita sering mendengar para TKI menjadi sasaran empuk pemerasan oknum-oknum di bandara Jakarta?

Selain itu, Malaysia juga dikenal menjadi daerah tujuan bagi perdagangan manusia. Telah banyak terungkap kasus-kasus perdagangan anak dan perempuan untuk tujuan eksploitasi seksual atau dijerumuskan ke prostitusi.

Malam semakin larut. Berbatang-batang rokok telah terhabiskan. Tak terasa pula, dini hari telah menjelang. Sekitar pukul empat pagi, kami bergegas meninggalkan “Medan Selera” memasuki ruang keberangkatan atau disebut ruang Perlepasan antarabangsa.

Suasana bandara sudah sangat ramai. Selesai chek-in, kami memasuki ruang tunggu. Pukul 06.45 panggilan boarding terdengar. Keluar dari pintu T-8, menyusuri jalan yang lumayan jauh. Memang tidak menyenangkan. Berbeda dengan berbagai bandara yang ada di Indonesia, perjalanan yang tidak begitu jauh saja akan diantar atau dijemput dengan bus. Tapi sudahlah. Ya, dinikmati saja.

Perjalanan kurang dari dua jam: Kuala Lumpur – Phnom Penh.

(Bersambung)

Iklan

2 comments on “Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: