2 Komentar

Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (1)

Saya itu memang penakut. Sejak dulu, bila ada undangan menghadiri suatu acara di luar negeri, pastilah akan mengelak dan cenderung meminta rekan lain untuk menghadirinya. Hal yang menjadi persoalan adalah soal kemampuan berbahasa Inggris. Mengatasi persoalan yang telah diketahui, masih juga tidak bisa diatasi lantaran memang malas untuk belajar. Jadi, ya, salah sendiri.

Pengalaman pertama ke luar negeri adalah ke Kuala Lumpur, kalau tidak salah pada tahun 2005. Saya berani dengan bayangan bahwa tidak akan menemui kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan orang lain. Bukankah bahasa tidak jauh berbeda? Sedangkan untuk acaranya sendiri, pastilah harus pasif.

Tentang keberanian itu, semua kawan dekat tertawa. “Beraninya hanya ke Malaysia,” komentar senada dari beberapa kawan.

Pada tahun 2010, ada kesempatan datang untuk mengikuti pelatihan di Nepal. Walaupun saya menyatakan tidak bisa berbahasa Inggris secara aktif, lembaga yang memberikan dukungan untuk acara ini menyatakan akan ditemani seorang kawan yang bisa membantu menterjemahkan. Pada kesempatan itulah saya berani ke Nepal.  Pada perjalanan tersebut memiliki kesampatan transit dan bermalam di Bangkok. (lihat catatan perjalanan di SINI dan di SINI)

Maka ketika menerima undangan untuk menghadiri suatu acara di Phnom Penh, saya agak ragu-ragu untuk menerimanya. Walaupun acara serupa pernah saya ikuti saat berlangsung di Jakarta setahun yang lalu. Sayangnya, semua kawan telah memiliki acara pada jadwal yang sama. Beruntung, ada rekan lain dari Yogya, yang kemudian juga menerima undangan. Maka, merasa akan ada kawan perjalanan, maka saya memberanikan diri untuk memenuhi undangan tersebut.

Kemudian setelah memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut, saya segera berkomunikasi dengan beberapa rekan kerja di beberapa wilayah untuk mengatur ulang jadwal. Sayang, ada satu acara yang sama sekali tidak bisa digeser lagi karena sudah mengalami penundaan dua kali, yakni acara di Pontianak. Maka dengan sangat menyesal saya menyampaikan kepada rekan di sana tidak bisa hadir dan berharap ada kesempatan di lain waktu (mohon maaf ya sobar Roganda).

Persiapan yang dilakukan adalah memesan tiket. Setelah menunda-nunda, mencari alternatif agar pembayaran bisa dilakukan setelah acara, akhirnya bisa mendapatkan penerbangan murah dengan Air Asia. Sebenarnya ketika mengkomunikasikan kepada pengundang untuk menggunakan Malaysia Airline yang perbedaan harganya hampir mencapai 200 dollar, mereka telah menyetujui. Tapi tidak masalah karena mendapatkan yang termurah (walau kemudian menyesal juga saat kepulangan mengalami hal yang mengesalkan).

Melalui agen perjalanan, saya meminta tolong agar diurus juga chek-in melalui web. Semuanya lancar-lancar saja, hingga tibalah waktu berangkat.

10 November 2012, penerbangan pukul 17.20.  Menjelang sampai di Bandara Adi Sucipto, baru tersadar belum membeli persediaan rokok. Maklum, saya termasuk perokok berat, walau beberapa bulan terakhir sudah berkurang menjadi dua-tiga bungkus seharinya. He.he.h.e.h.e

Saya pernah mengalami kehabisan stok rokok dua hari sebelum kepulangan, dan sulit untuk mencari kretek. Sedangkan rokok putih, saya sama sekali tidak bisa menikmatinya dan pastilah terbatuk-batuk. Sehingga bisa terbayangkan – bila anda perokok –dipaksa menahan diri selama itu, pastilah terasa menyiksa. Sehingga begitu tiba di Jakarta, masuk ke café kopi, menikmati kopi, membeli rokok  dan lima batang terhabiskan tanpa terhenti (kemaruk ya, istilah jawanya).

Tepat pukul lima, saatnya boarding, saya memberanikan diri untuk singgah terlebih dahulu ke sebuah mini market. Membeli rokok sebanyak perkiraan cukuplah untuk perjalanan selama delapan hari. Secara  tergesa,  beruntung tidak terlalu terlambat. Beberapa saat masuk ke bandara, tibalah waktu boarding. Saya mengontak kawan seperjalanan yang sudah sejak pukul empat sudah berada di Bandara.

Oh, ya ada yang terlupa. Belum menukar mata uang. Kawan seperjalanan, menyatakan telah membawa  walau tidak terlalu banyak. Saya pikir cukuplah kita-kira untuk keperluan hingga sampai di tempat acara diselenggarakan berdasarkan informasi yang didapatkan mengenai transportasi dari bandara tujuan hingga ke hotel.

Tiba di Kuala Lumpur, sekitar jam delapan kurang. Awalnya saya menceritakan kepada rekan perjalanan yang juga baru pertama kali melakukan perjalanan ke luar negeri bahwa bandara di KL bisa membingungkan. Bandar udaranya lebih besar dibandingkan Soekarno Hatta. Ketika turun, kita akan memasuki gedung seperti mall, lalu menggunakan aerotrain hingga tiba di depan bandara, untuk selanjutnya memilih berbagai alternatif angkutan menuju kota Kuala Lumpur.

Tapi, kali ini tidak demikian. Turun dari pesawat, kami harus berjalan kaki lumayan jauh, memasuki ruang pemeriksaan imigrasi, turun ke bagian pengambilan bagasi, lalu berjalan sedikit sudah berada di halaman depan bandara. Saya mencoba mengingat-ingat, jangan-jangan ingatan saya yang salah.

Pertanyaan yang kemudian terjawab dalam perbincangan dengan seorang TKI yang baru saja mengantarkan kawannya yang pulang ke Indonesia. “Oh, di sini bandara untuk penerbangan murah,”

Jadi memang berbeda lokasinya. Bandara ini bernama LCCT yang merupakan kependekan dari Low Cost Carrier Terminal. Wilayah yang sebelumnya menjadi tempat untuk pesawat-pesawat kargo, yang sekarang digunakan untuk penerbangan pesawat dengan harga murah, yakni Air Asia.

Di sini kami harus bermalam menunggu jadwal penerbangan berikutnya esok pagi. Setelah berdiskusi dengan kawan perjalanan, kami memutuskan untuk menunggu saja di bandara, tidak perlu mencari penginapan, yang biayanya akan ditanggung oleh pihak pengundang. Pertimbangannya, bila mencari hotel yang jauh, ada kekhawatiran terlambat. Selain itu, melihat situasi di bandara ini, banyak orang yang juga bermalam.

Setelah lama berputar-putar keliling di seputaran bandar, saya menukarkan mata uang ke ringgit untuk keperluan biaya makan selama transit. Ada nama yang menarik perhatian kami untuk mendatanginya, yakni “Medan Selera”. Tidak salah pilihan ini, karena di tempat itulah menjadi tempat orang-orang menunggu penerbangan selanjutnya, termasuk tempat yang digunakan untuk bermalam.

Hal menyenangkan, di luar ruangan, terlihat banyak orang merokok, setelah sebelumnya selalu menyaksikan poster-poster atau stiker yang menunjukkan larangan untuk merokok di berbagai ruang (kendati banyak dijumpai, justru di depan stiker-stiker itulah banyak orang merokok).

Di tempat ini, juga ada fasilitas wifi gratis kendati dibatasi penggunaannya hanya tiga jam. Tapi lumayanlah, sambil menunggu, saya sempat menulis dua tulisan yang terposting di blog keroyokan  tentang aksi hari pahlawan di Yogyakarta yang sempat lihat saat keberangkatan yang saya nilai tidak simpatik dan pemaknaan tentang kepahlawanan.

Phnom Penh, 14 November 2012

Iklan

2 comments on “Catatan Perjalanan ke Phnom Penh (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: