Tinggalkan komentar

Menjaga Mulut Sebagai Gerbang Diri

Manusia dan hewan punya mulut. Fungsinya, bisa sama. Syukurnya manusia memiliki  akal, dan mampu membuat proyeksi dan perencanaan masa depan. Sedangkan hewan tidak.  Ini yang menjadi inti perbedaan antara manusia dan hewan.

Bila diandaikan sebuah rumah, mulut bisa dikatakan sebagai pintu gerbang. Melalui mulut inilah, berbagai macam makanan dan minuman akan masuk. Pembagian tugas yang sempurna antara gigi, lidah dan kelenjar ludah, menjadikan kita bisa menikmati sesuatu sebagai kelezatan atau sebaliknya.

Manusia memang aneh. Pengetahuan tidak seiring dengan tindakan. Begitu juga dalam hal ini. Makanan dan minuman yang tidak menyehatkan, bahkan sengaja dibiarkan masuk, bahkan kadang dengan kebanggaan. Lebih dari itu, juga bisa dengan sengaja memasukkan sesuatu yang bisa merenggut nyawa: minum racun!

Sebagai pintu gerbang rumah, biasanya manusia berusaha keras untuk membangunnya menjadi sesuatu yang sangat indah dan kokoh, dengan pernik-pernik hiasan yang mampu mengundang orang untuk melirik atau berhenti sejenak guna menikmatinya. Ya, pintu gerbang biasanya diperuntukkan bagi orang lain, lantaran sang pemilik pastilah tidak bisa memandangnya dari dalam.

Pun begitu dengan mulut. Bibir sebagai gapura, memainkan peranan penting. Bila manusia murah senyum yang tentu berbeda dengan senyum murahan, pastilah bisa membuat orang lain tersejukkan hatinya. Bisa menggerakkan orang lain untuk bersikap dan mengambil tindakan yang menguntungkan bagi diri kita. Misalnya mengajak kerjasama bisnis. Bukankah menyenangkan dan membahagiakan?

Selain sebagai pintu masuk, mulut sebagai pintu gerbang juga menjadi jalan keluar. Kenormalan pada umumnya adalah suara. Kata-kata. Bicara kita. Hal tidak normal, ketika ada penolakan atas sesuatu yang kita masukkan, menjadi: muntah.

Cara bicara, intonasi, disertai ekspresi wajah, dan apa yang disampaikan, akan menumbuhkan kesan dan penilaian orang lain terhadap diri kita. Penilaian ini akan bertahan selama kita mampu menunjukkan konsistensi dalam bicara, yang seimbang dengan perbuatan atau tindakan. Bila dengan senyum dan sikap ramah engkau menyatakan suka dengan kebersihan, namun terlihat wajah yang kumal dengan rambut acak-acakan tak pernah keramas apalagi tubuh jarang tersirami air, pastilah engkau hanya menjadi bahan tertawaan. Bisa ditunjukkans ecara langsung di hadapanmu, atau orang akan menahan diri, dan tertumpahkan di ruang lain dalam pergunjingan sehari-hari.

Sebagai orang biasa, maka berbahagialah engkau, karena ruang jangkauan menjadi terbatas. Tapi bila engkau adalah seorang yang dikenal sebagai selebritis, pengusaha atau penguasa, yang sering dimunculkan di layer televisi yang tersaksikan oleh jutaan orang, maka pintu gerbangmu juga akan menjadi sorotan. Orang mungkin tidak peduli dengan apa yang masuk ked alam mulutmu, tapi bisa sangat peduli dengan apa yang keluar dari mulutmu.

Jadi, mulut bisa menjadi bagian penting dalam kehadiranmu di hadapan orang lain. Maka jagalah dan peliharalah baik-baik. Tidak perlu banyak asesoris dari luar yang dilekatkan, cukup mengolahnya dengan rasa tulus yang menjauhkan diri dari kepura-puraan.

Catatan pagi sebelum beranjak pergi

Di tanggal 18 September 2012

Catatan:

Pernah diposting di Kompasiana. Ilustrasi dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: