Tinggalkan komentar

Cerpen: Saat Peluru Menembus Tubuhnya

SAAT PELURU MENEMBUS TUBUHNYA

Kisah-kisah tentang kehebatannya dalam bertarung semakin sering terdengar. “Tidak takut dengan orang yang lebih tua. Kemarin, ia habis menghajar kelompoknya Sarit karena datang ke sini mabuk dan memintai uang pada anak-anak. Sampai ampun-ampun,” cerita seorang anak.

Sebut sajalah Item. Bila engkau bertanya tentang nama sebenarnya, kuyakin orang-orang terdekat-nya pun tidak tahu. Bahkan, aku sendiri berpikir, jangan-jangan dia sendiri juga sudah lupa dengan nama sebenarnya.

Itu bukanlah hal yang aneh. Banyak orang-orang yang kukenal, termasuk Item dan orang-orang di sekitarnya, selalu menggunakan nama samaran. Beberapa kali bertemu, sebelum akrab, bisa terjadi selalu nama baru yang dikatakan ketika kita bertanya. Selain itu, biasa terjadi pula, orang lebih dikenal dengan nama julukan yang diberikan oleh kawan-kawannya.

Item, termasuk salah satunya. Ia dipanggil Item lantaran kulit-nya memang hitam. Pertama kali aku berjumpa dengannya, umurnya kuperkirakan masih 12 tahun. Kini sekitar 16 tahun. Berarti sudah empat tahun aku mengenalnya.

Ia termasuk sosok yang pendiam. Tidak banyak berbicara, pun kala berbincang berdua. Dengan siapapun. Jawabannya selalu pendek-pendek. Namun, semua orang tahu, ia memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kawan-kawannya. Bila ada salah satu kawannya yang bermasalah dengan orang di luar komunitas ini, salah atau benar, ia akan membela kawannya.

”Darah dingin. Kemarin Kio yang mencoba memeras Simin, dihajar habis-habisan. Teman-teman Kio yang mau membantu, ikut dihajar pula,” cerita seorang anak dengan berapi-api. Lalu anak itu bercerita banyak yang aku sendiri tidak tahu apakah diberi bumbu sekedarnya atau terlalu banyak. Sangat jelas anak ini terkagum-kagum dengan Item, sebagai sosok jagoan yang mampu melindungi dia dan kawan-kawan.

Saat bertemu dengannya, saat kutanya, ia hanya tersenyum saja. “Biasalah, Mas. Namanya juga dunia jalanan,”

Item, bertubuh gempal, dengan rambut keriting yang selalu tercukur pendek. Pakaiannya selalu bersih. Penampilannya meski tidak rapi sekali, tapi lebih baik dibandingkan kawan-kawannya yang lain.

“Anak jalanan apakah harus kumuh?” ia balik bertanya saat kuberikan komentar tentang penampilannya yang berbeda dengan kawan-kawannya.

Seorang kawan, pendamping para anak jalanan, saat berdiskusi denganku mengusulkan agar Item sebaiknya dimasukkan ke perguruan bela diri atau sasana tinju. “Biar tersalur bakatnya. Bisa menjadi petarung hebat dia,” komentar kawan yang mengusulkan.

Item tidak menolak. Kawanku lalu mengajaknya berkeliling mencari tempat yang bisa menampungnya.

“Sudah dapat, tapi perlu beberapa waktu, karena pelatihnya memiliki kesibukan,” kabar kawanku.

Waktu yang terus berjalan. Kisah-kisah tentang kehebatannya dalam bertarung semakin sering terdengar. “Tidak takut dengan orang yang lebih tua. Kemarin, ia habis menghajar kelompoknya Sarit karena datang ke sini mabuk dan memintai uang pada anak-anak. Sampai ampun-ampun,” cerita seorang anak.

***

Ada satu kesempatan, aku bisa berbincang berdua dengannya, di rumah belajar. Saat itu, siang, anak-anak yang lain baru berangkat ke berbagai lokasi kegiatan untuk mendapatkan uang.

“Lagi malas, Mas” katanya saat berebah di lantai ruang tengah. Ia mematikan rokoknya yang masih panjang, mencoba bangkit, tapi aku mencegahnya.

“Biar, santai saja,”

Tapi ia tetap bangkit dan duduk berhadapan dengannya. Awalnya pembicaraan terasa kaku, tapi pada akhirnya bisa pula berbicara panjang-lebar.

Ia mengaku anak seorang tentara. Pada umur lima tahun ia kabur dari rumah hingga sampai ke kota ini. Ia tidak mau menceritakan alasannya. Sejak kabur, ia sama sekali tidak berusaha untuk pulang. “Saya pernah ketemu Pakde, dipaksa pulang. Pas di bus, Pakdhe tertidur, saya langsung turun dan balik ke sini lagi. Katanya sih masih mencari-cari,”

Ia punya dua orang adik perempuan. Ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga saja. “Saya selalu kangen Ibu,” katanya dengan mata menerawang ke langit-langit. Lama ia terdiam. Matanya terlihat berkaca-kaca. Aku membiarkan dirinya larut dalam kenangan dan harapan. Ia mengusap air mata yang hampir jatuh.

“Hm, cengeng ya, Mas” katanya.

Aku menggeleng.

“Jalanan memang keras, ya, Mas. Kalau gak berani bertarung, cuma dikerjain orang terus,” katanya tiba-tiba. “Saya itu tidak suka kalau ada kawan saya diganggu. Apalagi kalau masih kecil,”

“Tidak pernah takut?”

“Takut juga percuma. Lebih baik pede aja,” sahutnya.

“Mereka juga senasib loh,”

“Tapi, Mas, senasib ya jangan mengganggu anak yang senasib. Yang penting saya tidak pernah mulai duluan,”

Pembicaraan yang membuka ruang dialog untuk melangkah lebih dalam. Saat itu kami berbicara tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh anak jalanan, ancaman-ancaman yang dihadapi, dan perlunya kebersamaan. Ia tampak mendengarkan, tapi aku tidak yakin apakah ia setuju ataupun tidak.

Beberapa minggu aku tidak pernah mendengar Item bertarung. Apakah karena pembicaraan tempo hari dengannya atau karena memang tidak ada yang memancing kemarahannya.

Sampai suatu hari, kudengar ia menghajar habis-habisan seorang anak jalanan dari wilayah lain. Setelahnya, ia tidak pernah kelihatan lagi. Beberapa kali kudengar kawan-kawan dari anak tersebut melakukan penyerangan pembalasan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Wilayah kembali aman.

”Pentolannya dipateni Item,” informasi yang kami terima. Tapi kemana si Item? Tidak ada satupun yang mengaku mengetahui keberadaannya.

Lebih setahun kemudian, baru beberapa anak mulai bercerita. Item kini telah menjadi penguasa di wilayah Segrak, salah satu kawasan rawan di kota ini. Luar biasa, padahal yang kutahu, di tempat itu banyak bercokol para preman yang dikenal di kota ini. Item yang masih anak-anak menjadi salah satu penguasa di sana? Bukankah luar biasa?

”Diajak tarung satu-satu, semuanya kalah dengan si Item,”

”Tapi sayang, si Item jarang membuat ulah, tapi anak buahnya sering pakai nama dia buat memeras orang-orang. Apalagi Simin, yang kini jadi orang kepercayaannya. Berubah sombong dan sok jagoan dia,”

”Simin?” tanyaku sambil mengingat sosoknya yang lucu dan dikenal sangat penakut sehingga banyak menjadi sasaran kejahilan kawan-kawannya.

”Ya, Simin,”

***

”Item mati, Item mati, Item mati ditembak polisi” kabar itu tersebar cepat. Kami semua tercekat.

”Ia dikhianati oleh Simin, yang memanfaatkannya. Di belakang Item, Simin menjadi bandar narkoba, dan menyimpannya di kediaman Item. Saat Simin hendak ditangkap, Item mencoba membelanya,”

Aku menghela nafas, membayangkan sosok Item, yang semakin jelas di benak, seakan tersenyum kepadaku.

Yogyakarta, 15 September 2012

Sumber ilustrasi gambar dari SINI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: