5 Komentar

Surat untuk Pacar #6

Surat ini adalah surat kedua yang kukirimkan kepada pacarku pada masa itu yang kini telah menjadi istri, ibu dari dua anakku yang telah tumbuh besar. Namun ini adalah postingan ke enam dari Surat untuk Pacar.

Yogyakarta, 15 Januari 1990

Sobatku: Sulandari

Hari ini, aku terima surat dari kamu. Kebetulan lagi tidak ada kegiatan jadi bisa langsung membalas. Sebab mulai besok sampai akhir Januari mungkin penuh dengan acara. Aku tidak tahu, kenapa jarak Bantul-Sleman bisa memakan waktu 10 hari (suratmu tertanggal 5 Januari 1990).

Aku cukup senang dengan tawaran untuk berdialog. Terus-terang aku juga membutuhkan teman dialog.

Pendapatmu tentang kebebasan yang sepenuhnya, tidak mungkin akan didapatkan orang, karena adanya keterikatan terhadap Tuhan. Aku setuju. Tapi keterikatan bukan saja terhadap Tuhan (Walaupun hal ini adalah yang paling mendasar), kita tetap terikat dengan manusia lain, dengan seisi alam. Dari Tuhan kita dapatkan ajaran-ajaran yang termuat dalam kitab suci, hubungan antar manusia kita terikat oleh norma hukum dan norma-norma lainnya, terhadap alam kita banyak tergantung sehingga berusaha menjaga keseimbangan agar dapat tercapai manfaat yang sebesar-besarnya. Tapi kita adalah manusia! Yang berdiri dengan keangkuhan dan kebesaran! Sifat dasar manusia, positif dan negatif. Dan yang negatif selalu mendorong lebih kuat. Sehingga kita dapatkan kehendak manusia yang berlebihan. Sehingga lupa terhadap Tuhan sebagai pencipta, sehingga ingin lebih besar dari manusia lainnya dengan kekuasaan dan kekuatan yang selalu dikejar, sehingga mengeruk alam dengan rakusnya tanpa memperdulikan keseimbangan lagi.

Kebebasan yang bagaimana? Hal ini relatif. Seperti baik dan buruk, seperti cantik dan jelek. Jadi darimana kita memandangnya. Dan setiap orang pasti mempunyai perbedaan persepsi walaupun mungkin ada satu kesamaan yang dimiliki. Kebebasan menurut saya adalah kesadaran. Kesadaran dimana kita menempatkan diri dan berprilaku.

Saya dapat mengerti beratnya orang yang dihadapi dua pilihan. Sayapun seringkali mengalami. Tapi bila berhadapan dengan orangtua, saya tidak pernah mengalami. Hubungan saya dengan ibu seperti hubungan antara teman. Mengenai cita-cita sayapun bingung untuk menjadi apa kelak. Karena selama ini saya telah menghancurkan diri untuk tidak mempunyai cita-cita (cita-cita yang dimaksud adalah yang berhubungan dengan materi. Bukankah begitu anggapan orang selama ini?) Cita-cita saya sesungguhnya bagaimana yang saya miliki. Abstrak? Ya, begitulah. Walaupun saya tidak menolak kenyataan bahwa terkadang saya juga dihantui dengan pikiran ini, menjadi itu, rumah besar, dan memiliki benda-benda mewah. Adakah kebahagiaan? Entah. Sikap seperti yang saya miliki tidak menjadi masalah dengan orangtua saya. Mungkin merupakan hal yang kebetulan bila di dalam rumah kami semua, anak-anaknya selalu diberi kesempatan untuk berpendapat. Pun adik saya yang masih duduk di kelas II SD. Mengenai pilihan yang bertentangan dengan orangtua dan keinginan kita sendiri, bila itu yang kamu hadapi, saya tak akan memberikan komentar. Kamu pasti mampu menyelesaikan. Tentu saja dengan pemikiran yang jernih. Hanya perlu diingat, niat baik tidak selalu menghasilkan yang baik bagi orang lain, perbuatan baik tidak selalu dilihat baik oleh orang lain.

Seperti saya yang juga masih sulit untuk memilih, apakah akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau tidak. Di satu pihak sistem pendidikan kita belum berarti apa-apa bagi hidup, di pihak lain, masyarakat akan memandang sebelah mata bagi seseorang yang hanya masih lulusan SMA. Sampai sekarang, saya masih belum memutuskan, walaupun saya sadari bahwa saya telah mengecewakan ibu saya pada tahun kemarin hanya dengan mendaftarkan di satu PT saja.

Bagi saya, orang yang menyadari apa yang diperbuat dan berani mem-pertanggung-jawabkannya itulah yang disebut kedewasaan. Kedewasaan tidak perlu dicari, sebab dia akan datang sendiri selaras dengan  pikiran yang semakin berkembang. Kita tidak bisa menilai diri kita sendiri apakah kita sudah dewasa. Orang lainlah yang bisa menilai. Saya dapat memastikan, kamu pasti lebih dewasa dibanding teman-teman kamu.

Orang lahir untuk mati. Kehidupan sendiri adalah sebuah jembata. Melewati sebuah jembatan ada yang memakai kendaraan bermotor, sepeda atua jalan kaki. Ada yang jalan tergesa memandang lurus ke depan, ada yang menikmati pemandangan dan berhenti sejenak. Ada yang kosong ada yang berpikir. Menurut kamu sendiri, apa yang kamu cari dalam kehidupan ini?

Ah, saya rasa tulisan ini sudah membosankan. Setelah itu bisa kamu buat menjadi robekan-robekan kecil, atau dibakar sehingga menjadi abu. Lenyap. Hilang. Dan ocehan yang tidak bermakna dari seorang yang hanya bisa bicara tidak membebani pikiran. Bila itu yang kamu ingini.

Maaf, bila tulisan ini saya ketik bukan karena saya tidak menghargai kamu, tapi karena sudah kebiasaan disamping tulisan saya yang tidak bisa dibaca. Wajar kalau kamu marah seperti saya yang kecewa bila mendapat surat tanpa tandatangan.

Oh, ya, mungkin bulan depan saya sudah pindah rumah ke Bantul, mengenai tempatnya belum pasti karena masih mencari yang cocok.

Satu permintaan, bila kamu belum bosan nulis surat, hilangkan kata kak, dan segala macam yang tidak perlu agar tidak ada jarah sehingga bisa melepaskan semua kemarahat, pendapat dan cerita.

Salam buat kamu dan teman-teman semua dari saya dan teman-teman di sana.

Odi Esha.

Iklan

5 comments on “Surat untuk Pacar #6

  1. Wah sayang sekali, sekarang jarang sekali yang menggunakan surat untuk saling berkomunikasi seperti dulu. Jasa surat sekarang hanya biasa dipakai untuk tagihan-tagihan keperluan rumah tangga.

    Padahal kebahagiaan menerima surat lewat pos lebih mengena ketimbang menerima surat elektronok di jaman sekarang.

    Dan tentunya akan lebih mengena lagi kalau menulis surat dengan tangan, seperti saya dulu. Ah jadi kangen untuk berkirim surat.

    Salam 🙂

  2. wah.., suratnya diketik rapi begitu ya, senang sekali saya ikut membacanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: