1 Komentar

Menyoal Kekerasan dan Penghukuman Fisik di Sekolah (1)

Biarkan anak belajar tanpa dibayangi ancaman kekerasan dan hukuman fisik

Untuk kesekian kali, kasus dugaan penghukuman fisik kembali terjadi. Ini dialami oleh seorang anak perempuan berumur delapan (8) tahun yang duduk di kelas tiga SD di kawasan Jakarta Utara. Pelakunya adalah salah seorang guru di sekolah tersebut.

Peristiwanya terjadi di akhir Agustus. Korban mengaku dipukul karena dianggap tidak mengerjakan PR. Kepada Kompas.com (di SINI) korban menyatakan bahwa   ia mengerjakan PR, namun karena hari itu tidak ada pelajaran IPA, jadi ketinggalan di rumah. Setelah PR dikembalikan kepada siswa, ia mendapatkan nilai nol meskipun sejumlah jawabannya benar. Angka nol itu ditulis sangat besar di halaman buku  dan dibuat seolah menyerupai gambar wajah orang dengan dua mata dan hidung mirip angka enam. Di bawah nilai itu ditulis, “Tolong di ulang kembali di rumah!”

Dituturkan olehnya, selain dia, teman-temannya juga kerap menjadi korban kekerasan ibu gurunya. Ia mengatakan, ada siswa kelas IV yang ditampar pipinya hingga berdarah. Buku milik Ajeng, temannya, juga dirobek oleh guru yang sama. Ajeng juga dipukul dan bukunya dilempar. Hukuman itu diberikan karena Ajeng dianggap mencampur catatan dan latihan dalam satu buku. “Ajeng disetrap sama bukunya dirobek. Ajeng juga dipukul kepalanya,” ujarnya.

Akibat peristiwa tersebut, orangtua korban melaporkan ke sekolah namun tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Otoritas sekolah mengatakan akan membina semua guru.

Ibu korban menggalang dukungan dengan meminta tandatangan dari anak-anak lain yang pernah menjadi korban. Pada tanggal 5 September, bersama empat orangtua anak yang menjadi korban mereka melaporkan kasus kekerasan dan penghukuman fisik dari sang guru kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). (beritanya lihat di SINI)

Persoalan bisa dikatakan berkembang, tatkala Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhammad Nuh, menilai bahwa hukuman fisik dari guru ke siswa sah-sah saja untuk diberikan. Walau ia memberikan catatan, hukuman fisik itu harus mendidik dan menjadi jalan terakhir untuk memberi pemahaman kepada peserta didik (lihat di SINI)

Selanjutnya dikatakan bahwa hukuman, misalnya fisik, itu kan pelajaran juga, selama tidak dalam bentuk berlebihan. Bagaimanapun juga guru perlu dilindungi. Jangan sedikit-sedikit mengadu ke komnas, saya pikir itu lost energy. Seharusnya kan bisa balance.

Penilaian dari Mendikbud tersebut, walau mungkin tidak bermaksud buruk dengan mengharapkan ada keseimbangan, namun bisa dimaknai sebagai sikap pembelaan terhadap suatu tindakan yang pada saat ini sudah masuk kategori kriminal. Tentu saja ini sangat berbahaya, terlebih dinyatakan oleh orang nomor satu di dunia pendidikan.

Penilaian ini juga mengingatkan saya kepada penilaian dari seorang aktivis hak anak, yang juga mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, saat berlangsung ”Konsultasi Nasional ACWC dalam Memerangi Segala Bentuk Kekerasan terhadap Anak” yang kebetulan saya berkesempatan menghadirinya pada 6 Desember 2011,di Kuta, Bali.

Dikatakannya bahwa pada banyak kasus kekerasan anak di sekolah, ada kecenderungan ini ditutup-tutupi. Ia kemukakan bahwa Indonesia telah memiliki UU No. 23 tahun 2004. Pada UU ini, kekerasan yang dilakukan oleh ayah atau ibu di dalam rumah saja bisa dijerat dengan UU tersebut. Namun, lanjutnya “Kita tahu sampai sekarang bahwa kalau ada kekerasan dilakukan oleh guru di sekolah  bahkan sampai pada tindakan yang bersifat paling abusive, ada kecenderungan guru, kepala sekolah dan jajarannya,  itu menutupi, seolah-olah menjadi masalah domestik, bahkan jauh lebih domestik dari kasus yang terjadi di rumah tangga yang telah diaddress oleh UU KDRT,”

(Bersambung)

Iklan

One comment on “Menyoal Kekerasan dan Penghukuman Fisik di Sekolah (1)

  1. Saya dulu sekolah di kampung. Kekerasan fisik kadang terjadi juga, tapi sebatas dijewer, dicubit pusar, atau lari keliling lapangan. Namun, tidak ada yang sampai berdarah atau luka. Itu pun perlahan hilang seiring waktu. Heran juga kalo kekerasan fisik di sekolah sekarang ini justru terjadi di Jakarta. Efek semakin susahnya hidup kali ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: