2 Komentar

Presiden Kembali Menciderai Anak-anak di Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2012

Kehidupan anak yang bahagia dalam gambar kelompok yang dihasilkan dalam workshop Anak di Kebumen

Pada momentum Hari Anak, seharusnya, anak-anak yang berbicara, para orang dewasa termasuk para pemimpin negeri, mendengarkan dan memberikan respon dan komitmen terhadap pandangan-pandangan anak.

Setidaknya tiga tahun terakhir, puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) selalu meninggalkan cidera pada anak-anak Indonesia. Hal ini justru dilakukan oleh para pemimpin negeri ini, termasuk oleh Presiden SBY. 

Tragedi hari anak, demikian para aktivis menyebut saat peringatan HAN di tahun 2010. Apa pasal? Pada saat itu, acara pembacaan “Suara Anak Indonesia” yang akan disampaikan oleh dua anak perwakilan peserta Kongres Anak Indonesia, menjelang pembukaan sekitar pukul 08.00 tiba-tiba dibatalkan. Padahal mereka telah mengikuti gladi resik.

Perintah dari istana, demikian informasi yang disampaikan. Kemudian diinformasikan pula bahwa hal ini terkait dengan waktu yang terbatas. Belum hilang kejengkelan atau kemarahan anak-anak dan para aktivis anak, disusul berita adanya penoyoran terhadap anak yang menjadi salah seorang peserta dengan pelaku yang diduga sebagai anggota Paspampres (lihat di SINI dan di SINI).

Pembacaan “Suara Anak Indonesia” biasa dilakukan di puncak Peringatan HAN, di hadapan presiden, sejak tahun 2000. Pernyataan ini dihasilkan dari Kongres Anak Indonesia yang biasa dilakukan beberapa hari menjelang hingga tanggal peringatan HAN.

Hal serupa terjadi lagi pada tahun 2011. Agenda pembacaan “Suara Anak Indonesia” kembali dihilangkan dari agenda peringatan HAN. Panitia dan peserta Kongres Anak Indonesia yang mendengar informasi tersebut memberikan pernyataan untuk tidak hadir dalam Peringatan HAN dan merayakan sendiri di lokasi kongres yang berlangsung di Bandung. (Serangkaian postingan saya mengenai hal ini dapat dilihat di SINI)

Pada tahun ini, peringatan HAN 2012 yang berlangsung pada tanggal 29 Agustus 2012 di Teater IMAX Keong Mas, TMII, Jakarta, yang melibatkan sekitar 500-an anak dari berbagai wilayah di Indonesia sebagai peserta dan dihadiri oleh Presiden SBY dan para petinggi negeri ini diantaranya Ketua MPR, Ketua DPR, Ketua DPD, Kapolri dan beberapa Menteri, kembali melahirkan peristiwa yang menciderai anak dan menimbulkan reaksi dari berbagai kalangan.

Peristiwa yang terjadi adalah pada saat berpidato, SBY sempat berhenti beberapa saat dan melakukan teguran kepada anak-anak yang tertidur. Tindakan SBY sangat disayangkan, seolah-olah ia tengah berada di hadapan para bawahannya dan tidak memiliki sensitivitas terhadap dunia anak.

Berbagai media online, jurnalisme warga dan jejaring sosial semacam FB dan twitter dipenuhi oleh tanggapan dan kritik terhadap tindakan SBY terhadap anak-anak. Bahkan Komnas PA bermaksud mengirimkan surat protes kepada SBY.

Mencermati kasus tersebut dengan mengkaitkan peristiwa-peristiwa sebelumnya, memang terjadi kontradiksi antara komitmen dan kebijakan yang berlaku dengan praktik-praktik dari pengelola negara.

Pada konteks ini, hak anak untuk menyampaikan pandangan sebagaimana terkandung dalam pasal 12 Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990 tertanggal 25 Agustus, setidaknya telah diabaikan. Penghilangan agenda pembacaan “Suara Anak Indonesia” yang dihasilkan dari Kongres Anak Indonesia yang dihadiri oleh anak-anak perwakilan dari seluruh Propinsi di Indonesia, bisa menjadi salah satu bukti. Suara Anak Indonesia justru dihilangkan pada Hari Anak.

Pada momentum Hari Anak, seharusnya, anak-anak yang berbicara, para orang dewasa termasuk para pemimpin negeri, mendengarkan dan memberikan respon dan komitmen terhadap pandangan-pandangan anak. Selayaknyalah, pidato-pidato justru dihindari, terlebih bila membebankan anak dengan bahasa yang tidak mudah dipahami dan syarat dengan ajaran-ajaran yang pada kenyataannya tidak bisa dilaksanakan dengan baik oleh para orang dewasa.

Bagaimana melaksanakan ketentuan yang memberikan hak anak untuk menyampaikan pandangan, atau dikenal dengan sebutan partisipasi anak, agarbenar-benar bisa menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Janganlah peraturan perundangan ataupun kebijakan hanya sekedar menjadi rumusan kata-kata yang hanya tersimpan di laci meja dan dipenuhi debu-debu.  Bukankah sudah ada terobosan radikal bila melihat sudah ada kebijakan Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengenai Kabupaten/kota layak anak (lihat Permeneg PP&PA  No. 2 dan 3 tahun 2009; Nomor 11, 12, 13, & 14 tahun 2011), juga tentang kebijakan partisipasi anak dalam pembangunan (Permeneg PP & PA Nomor 3 & 4 tahun 2011).

Kemajuan di tingkat peraturan perundangan, sudah selayaknyalah ditindaklanjuti dengan praktik-praktik pengelolaan Negara sehingga anak-anak benar bisa menikmati hak-hak mereka.

Momentum peringatan Hari Anak bisa digunakan untuk kepentingan ini. Berharap pada tahun-tahun berikutnya, SBY atau presiden terpilih nantinya, mulai melakukan perubahan dengan mengajak para pemimpin negeri untuk mendengarkan anak-anak menyampaian persoalan-persoalan yang dihadapi dan harapan-harapan terhadap perubahan yang lebih baik bagi kehidupan anak-anak Indonesia.

Setelahnya, bagaimana para pemimpin negeri ini memberikan komitmen dan menindaklanjuti dengan kebijakan dan program yang dijalankan secara benar sehingga kehidupan anak-anak Indonesia benar-benar bisa lebih baik dengan terjaga dan terpenuhinya hak-hak anak. Ini juga akan menunjukkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Yogyakarta, 30-31 Agustus 2012

Catatan: Tulisan ini dikembangkan dari postingan di Kompasiana

Iklan

2 comments on “Presiden Kembali Menciderai Anak-anak di Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2012

  1. […] Menteri PK Sampaikan Orasi Ilmiah Pada Wisuda UnandaMantan Kakanwil Kemenag Sulsel Belum Datangi KejatiKPU Sulsel Setuju Pendaftaran Cagub BersamaanJPU Diharap Menuntut Bebas MirandaNilai Ekspor Sulsel Turun 20,49%,Impor Naik 17,58 %.Reformasi Tanpa TransformasiPresiden Kembali Menciderai Anak-anak di Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2012 […]

  2. […] Keluarkan Lava Pijar, Gunung Anak Krakatau Berstatus WaspadaPolri Jadikan Teguran SBY sebagai MotivasiPresiden Kembali Menciderai Anak-anak di Puncak Peringatan Hari Anak Nasional 2012 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: