1 Komentar

Memaksa Para Pejabat Mendengar Suara Anak

Anak tengah mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang didengarkan oleh perwakilan dari dinas-dinas Kabupaten dalam Sarasehan HAN 2012 di Kebumen

Saya sangat yakin, dan anda bisa membuktikannya sendiri bahwa anak-anak bisa memahami realitas diri dan lingkungannya. Anak-anak bukanlah barang mati. Ia bisa merekam segenap peristiwa dan mengambil pelajaran dari kehidupan.

Sebenarnya saya tidak begitu suka terlibat dalam hiruk-pikuk memperingati Hari Anak. Sebagian dari para aktivis anak, memang memiliki alasan tersendiri untuk tidak terlibat. Namun, ketika suatu hari seorang sahabat datang dan meminta saya untuk menjadi moderator sarasehan untuk memperingati Hari Anak Nasional 2012 di Kebumen yang akan menghadirkan para pemangku kepentingan dan perwakilan anak-anak dari berbagai desa di Kebumen, saya menerima dengan memberikan persyaratan.

Pandangan salah satu peserta workshop tentang Makna HAN

Mengingat acara untuk memperingati hari anak, maka anak-anaklah yang harusnya lebih dominan, menjadi subyek yang menyampaikan pandangan, dan para pemangku kepentingan mendengarkan suara-suara anak. Jadi anak-anak mempresentasikan situasi, persoalan dan pandangan perubahan yang dihasilkan dari diskusi diantara mereka terlebih dahulu. baru kemudian, para pemangku kepentingan memberikan respon dan komitmen untuk menjawab permintaan ataupun rekomendasi-rekomendasi yang disampaikan oleh anak-anak, sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsi intansi mereka.

Nah, agar anak-anak tidak mewakili dirinya sendiri, melainkan mewakili anak-anak yang lain, maka diperlukan workshop anak untuk mengidentifikasi persoalan, tantangan yang ada, harapan dan bayangan tentang kehidupan anak yang lebih baik. Proses ini sekaligus sebagai pembelajaran bagi anak untuk saling bertukar pengalaman, pengetahuan dan pandangan, serta membangun kesadaran kolektif.

Persyaratan itu  bukanlah hal yang mengada-ada. Belajar dari pengalaman , banyak kegiatan anak-anak yang menghadirkan para pejabat atau tokoh-tokoh masyarakat, pada kenyataannya, anak-anak berada pada posisi pasif, yaitu hanya mendengar “wejangan-wejangan” yang seringkali bersifat normatif dan membosankan. Acara anak, justru menjadi acara untuk menjejali anak-anak secara sepihak dengan berbagai kepentingan orang dewasa.

Syukurlah, sahabat saya itu menerima persyaratan yang diajukan.

Saya sangat yakin, dan anda bisa membuktikannya sendiri bahwa anak-anak bisa memahami realitas diri dan lingkungannya. Anak-anak bukanlah barang mati. Ia bisa merekam segenap peristiwa dan mengambil pelajaran dari kehidupan. Maka, anak-anak, pastilah lebih bisa memahami masalahnya sendiri, dan mendorong atau menyuarakan aspirasi mereka kepada para pemangku kepentingan yang berkewajiban untuk menjaga, melindungi dan memenuhi kebutuhan dan hak-hak anak.

Waktu yang ditentukan-pun tiba. Hari Minggu, tanggal  5 Agustus 2012, sekitar 72 anak dari delapan kecamatan telah hadir. Mereka diantar oleh para pendamping dewasa. Pada saat pembukaan semua bisa berada dalam ruangan, namun ketika workshop dimulai, maka para orang dewasa, kecuali fasilitator, perekam proses dan bagian dokumentasi, harus keluar dari ruangan, agar anak-anak bisa secara lebih bebas berekspresi tanpa intervensi yang berlebihan dari para pendamping. Ini merupakan salah satu standar  dari setiap kegiatan yang bersifat konsultasi anak.

Sekitar lima jam setengah, sejak pukul 09.00 – 14.30, diselingi istirahat, anak-anak berproses untuk mengidentifikasi masalah-masalah anak, mendiskusikan prioritas masalah yang harus segera ditangani oleh pemerintah, dan mendiskusikan gambaran tentang kehidupan anak yang bahagia. Diskusi dilangsungkan ke dalam 10 kelompok anak yang merupakan gabungan dari desa yang berbeda.

Selesai workshop, acara langsung dilanjutkan dengan sarasehan. Hadir perwakilan dari berbagai instansi tingkat Kabupaten yakni: Bappeda, BP2AKB, Disnakertrans, Dinkes, dan Dikpora. Perwakilan dari DPRD Kabupaten tidak hadir tanpa penjelasan.

Sebagaimana direncanakan, sarasehan yang berlangsung selama dua jam, dimulai dari presentasi 10 kelompok anak yang kemudian dilanjutkan dengan tanggapan dari wakil instansi yang hadir. Presentasi dari setiap kelompok juga dilakukan dengan model gallery, yakni, seluruh peserta mendatangi dan mendengarkan kelompok yang tengah presentasi hasil diskusi kelompoknya.

Saya mencoba mencermati wajah-wajah dari para wakil instansi tersebut. Terlihat ada wajah keterkejutan. Ada yang segera bisa memahami dan menikmati, tapi ada juga yang sepanjang acara menunjukkan muka masam (mungkin merasa dikerjai).

Selesai anak-anak presentasi, barulah perwakilan dari berbagai instansi itu merespon dan memberikan komitmen-komitmen untuk menangani persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh anak-anak.

Tapi begitulah, pada setiap acara anak-anak,  ciptakan anak-anak menjadi subyek, menjadi sosok yang bisa menikmati acara mereka dengan hati riang gembira sehingga bisa membebaskan diri mereka untuk tidak takut berekspresi dan menyampaikan pandangan-pandangannya.

Merdekalah anak Indonesia, sejahteralah anak-anak dunia.

Yogyakarta, 30 Agustus 2012
(Odi Shalahuddin)

Iklan

One comment on “Memaksa Para Pejabat Mendengar Suara Anak

  1. ulasan yang sangat menarik. memang sudah saatnya kita, terutama pejabat pemerintah lebih mendahulukan mendengar daripada menceramahi. diakui atau tidak, peringatan Hari anak, selama ini hanya dijadikan ceremony belaka yang kadang tak bermanka apa-apa. padahal, saya yakin bahwa anak-anak mempunyai banyak cerita dan juga keluhan kepada pejabat negara yang mengayominya itu. kapan kita tahu, jika tak mendengar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: