2 Komentar

Sastra Bulan Purnama 11: Orang-orang Teater Membaca Puisi

Pritt Timothy

”Teater dan puisi dua hal yang berbeda. Teaterawan dan penyair dua hal yang tak sama. Tidak semua teaterawan adalah penyair, demikian pula sebaliknya. Tetapi kita bisa menemukan seorang penyair sekaligus aktor dan sutradara teater, misalnya Rendra, atau yang lebih muda Landung Simatupang,” demikian dinyatakan oleh Ons Untoro pada pengantar buku kumpulan puisi: Sastra Bulan Purnama edisi ke 11: Orang-orang Teater Membaca Puisi.

Sastra Bulan Purnama 11

Lebih lanjut dikatakan oleh Ons Untoro, yang selama ini mengkoordinir dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan SBP yang bertempat di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta, ”Seorang aktor, sebagai pemain teater bisa memikat ketika membaca puisi, tetapi seorang penyair belum tentu mempunyai kemampuan membaca puisi, tetapi seorang penyair belum tentu mempunyai kemampuan membaca puisi. Meski kita bisa menemukan, penyair yang mempesona ketika membaca puisi, lagi-lagi  kita bisa menunjuk Rendra. Yang lain, kita bisa pula menyebut Darmanto Djatman, Sutardji CB, atau Emha Ainun Nadjib dan sejumlah yang lain,”

Memang tidaklah salah apa yang dikatakan oleh Ons Untoro.  Jum’at malam,  (3/8) para penonton bisa menikmati penampilan menarik dari para aktor ketika membacakan puisi-puisinya. Setidaknya, kita tidak meragukan kemampuan olah vokal dan penampilan mereka. Pun misalnya Sri Yuliati menyatakan sudah lebih dari 15 tahun tidak berada di atas panggung atau Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A yang tidak pernah ”manggung” lagi sekitar 20 tahun, penampilan keduanya tetap memukau.

Acara dibuka dengan pembacaan puisi oleh Meritz Hindra, yang dilanjutkan oleh penampilan Puntung CM Pudjadi bersama rekan-rekannya.

Setelah itu lampu padam. Dari arah pintu terlihat sosok dengan nyala lilin di tangan, melangkah pelan menuju ke arah panggung. Suasana senyap. ”inilah lembah gulita yang sangat dalam/kosong, hening dalam gigil yang menyudut palungnya/Anginpun lebih lirih dari sekedar desir…”. Itulah penampilan Ana Ratri yang pernah sekolah di ASDRAFI yang aktif di Pojok Budaya dan Sanggar Bambu, yang membawakan puisinya: ”Gelap”, ”Bait Akhir” dan ”Rahasia”.

Adzan mengoyak kelam angit Jakarta/Jaman berubah-rubah rupa/Dari Batavia hingga Jakarta/Dari eltevreden dengan air mancur yang mempesona/Hingga kemiskinan dan macet di seluruh kota” Agus Istianto yang pernah aktif di Teater Dinasti, dan kini aktif  di Komunitas Budaya Guntur 49, mengawali puisinya dengan ”Adzan Subuh” yang dilanjutkan dengan ”Bung Hatta” dan ”Doa Anak Payung di Gazong”.

Suasana sedikit berbeda ketika Menik Sithik setelah membacakan ”Perjalanan Ini, Win” mengajak para penonton untuk menyanyi bersama lagu ”Darah Juang”-nya Jhonsoni Tobing yang tidak asing bagi para aktivis gerakan mahasiswa. Walau ketika di ajak tidak ada yang merespon, toh, saat ia menyanyikan, sebagian penonton langsung mengikuti. Lagu yang dinyanyikan untuk menghantarkan pada ”Jalan Sunyi” yang dibawakannya: ”…Tak ada kawan sejati/Yang dulu sejalan pemikiran/Tentang mimpi dan harapan… gedung-gedung megah disana/telah menelan kawan seperjalanannya/Menghanyutkan harapan perubahan…

Ramadhan”, puisi yang dibawakan oleh Sri Yuliati terasa pas dengan situasi yang tengah terjadi mengingat Sastra Bulan Purnama kali ini memang berlangsung saat Ramadhan. ”Bulan penuh berkah sekaligus penuh sensasi/Bulan penuh ampunan sekaligus penuh manipulasi/Bulan penuh hidayah sekaligus penuh ambisi/Bulan penuh rahmat sekaligus penuh provokasi//Jangan buruk sangka pada sang Illahi/Dia lah Sang Pemilik Jagat ini/yang tak pernah ingkar janji”. Pun puisi berikutnya ”Mencoba Ikhlas” dan ”Anakku

Yudiaryani, staf pengajar Jurusan Teater ISI Yogyakarta dan STSI Bandung, membawakan dua dari tiga puisinya, yakni: ”Dzikir Malam” dan ”Negeri Seribu Mitos”.

Bukan aku yang ada tetapi jiwaku yang mengada
Sakit tubuh tergeletak menyatu tanah dan menjadi debu
Tetapi jiwa tetap berkelana
Luka jiwa sedekap bumi
Mitos hanya idenya
Laku adalah pelaksanaannya
Dan tragedi butuh penyembuhan
Balia! Ubahlah aku menjadi lebih baik

(Negeri Seribu Mitos)

Whany Darmawan, yang belum lama meluncurkan Novel ”Nun” dan buku ”Andai Aku Seorang Pesilat”, secara bercanda (atau serius) menyatakan akan membaca satu puisi pembuka yang lebih penting dari tiga puisi yang direncanakan. Puisi “Sapi Cebhol” yang ”mempromosikan” rumah makan dengan kata-kata nakal yang cerdas mampu mengundang gelak tawa dari para hadirin.

”Puisi pertama akan dibacakan oleh Sabrina,” katanya memanggil seorang rekannya yang membacakan ”Puisi dan Diri”. Dilanjutkan dengan puisi yang dibacakan sendiri, ”Segitiga Sama Kaki” dan ”Malin Tak Mau Jadi Batu

Pritt Timothy, membawakan satu puisi panjangnya: ”Rara Jonggrang” dengan penampilan yang memikat. Disusul oleh Daru Maheldaswara dalam ”Indonesia, Major yang Minor”. Liek Suyanto, yang saat ini lebih banyak aktif di film dan sinetron, menjadi penampil terakhir yang menutup acara Sastra Bulan Purnama kali ini.

Menikmati secara keseluruhan penampilan para aktor membacakan puisi-puisinya memang berbeda. Ketrampilan berakting dan tuntutan mengolah vokal dengan baik, laksana kita menonton suatu pertunjukan monolog.

Sayang, pada saat purnama terang, pemandangan langit yang cerah ini tidak bisa dinikmati seperti acara-acara sebelumnya yang biasa berlangsung di pendopo atau di ruang terbuka bagian belakang Rumah Budaya Tembi, karena kali ini, acara dilangsungkan dalam ruang tertutup. Kenikmatan yang kurang sempurna jadinya.

Yogyakarta, 4 Agustus 2012

Tulisan ini sebelumnya diposting di Kompasiana.

Foto-foto Acara:

Agus Istianto (Kamerad Kanjeng)

Ana Ratri Wahyuni

Daru Maheldaswara

Liek Suyanto

Menik Sithik

Puntung CM Pudjadi

Puntung CM Pudjadi dkk

Meritz Hindra

Sri Yuliati

Whanny Darmawan

Yudiaryani

Sabrina

Herlina (pembawa acara)

Iklan

2 comments on “Sastra Bulan Purnama 11: Orang-orang Teater Membaca Puisi

  1. Terima kasih dan senang sekali dengan apresiasinya Bung…. Jayalah terus sastra Indonesia!

  2. Bagus sekali. Seandainya di acara itu aku bisa datang, hmmm… betapa senangnya. Makasih banyak atas postingannya ya, Mas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: