2 Komentar

Para Aktor Berpuisi dalam Sastra Bulan Purnama edisi 11

Menik Sithik

Orang-orang Teater Membaca Puisi, demikian tajuk acara Sastra Bulan Purnama edisi ke 11 yang berlangsung pada tanggal 3 Agustus 2012 di Rumah Budaya Tembi, Jln. Parang Tritis, Bantul. Sebagaimana nama acara, kegiatan ini berlangsung rutin setiap sebulan sekali saat malam purnama.

Tercatat sebelas aktor yang tampil membacakan puisi-puisi karyanya sendiri, yakni (berdasarkan urutan abjad) Agus Istianto atau Kamerad Kanjeng, Ana Ratri Wahyuni, Daru Maheldaswara, Liek Suyanto, Menik Sithik, Pritt Timothy, Puntung CM Pudjadi, Meritz Hindra, Sri Yuliati, Whani Darmawan, dan Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A. Seluruhnya, walau sekarang ada beberapa yang tidak tinggal di Yogyakarta lagi, namun pernah menikmati dan berproses panjang dalam jagat kesenian Yogya, utamanya di Teater. Hampir semua diketahui sudah aktif berkesenian sejak tahun 1970-an.

Ana Ratri Wahyuni

Saya merasa beruntung bisa hadir menyaksikan acara ini mengingat dua acara sebelumnya berhalangan hadir lantaran bersamaan dengan kegiatan lain di luar kota. Ini merupakan acara yang selalu saya tunggu-tunggu dan berharap jadwalnya tidak berbenturan.

Bukan apa-apa. Melalui acara ini saya bisa bertemu dengan kawan-kawan lama, bisa melihat secara langsung para seniman yang sebelumnya hanya mengenal nama dan karya mereka, bisa berkenalan dan menambah perkawanan baru. Bukankah itu suatu anugrah?

Agus Istianto

Pada setiap edisi, ada tema yang melibatkan “kelompok tertentu”, seperti yang pernah berlangsung adalah  penyair dari angkatan 1970-an, 1980-an, 1990-an, dan 2000-an, para guru, dosen, dan kali ini adalah orang teater. Adanya pengelompokan ini, setidaknya membuat sebagian dari para penikmat atau penonton selalu berganti-ganti. Sebagian lagi adalah orang-orang yang setia dan selalu hadir.

“Mereka orang-orang teater ini, bukan membacakan puisi orang lain, tapi membacakan karyanya sendiri. Semua yang ikut membaca kita minta membuat setidaknya tiga (3) puisi. Ada yang secara berkelakar, salah satu diantara mereka, mengatakan bahwa menulis skenario lebih gampang ketimbang menulis puisi. Pastilah ini hanya guyonan belaka. Namun begitulah pergaulan kesastraan antara orang-orang teater dan penyair, saling mengisi dan menguatkan,” penjelasan dari Ons Untoro yang mengkoordinir dan bertanggung jawab atas pelaksanaan Sastra Bulan Purnama dalam kata pengantar dari buku puisi edisi ke 11 ini.

Memang terasa berbeda bila para aktor membacakan puisi. Kita seakan tengah menyaksikan mereka bermonolog dengan kemampuan memainkan beragam karakter dengan irama yang mampu membawa kita pada imajinasi tertentu. Kemampuan yang dimiliki oleh semua yang tampil. Pada konteks itu, kita bisa menyimak penampilan Pritt Timothy yang saya nilai berhasil membawakan puisi panjang berjudul ”Rara Jonggrang” tanpa membuat orang menjadi bosan.

Sebagian penonton

Teaterikalisasi puisi juga sangat kentara sebagaimana ditampilkan oleh Ana Ratri Wahyuni. Lampu ruang dipadamkan, dan dengan sebatang lilin kecil yang menyala, perlahan ia bergerak dari pintu masuk menuju panggung, memainkan beberapa gerakan dengan wajah penuh ekspresi. ”Gelap” menjadi puisi pertama dari tiga puisi yang dibawakannya.

Waktu yang berjalan, sangat tidak terasa. Acara yang dipandu oleh Ons Untoro dan Herlina ini, memang harus berakhir ketika Liek Suyanto usai membacakan puisi-puisinya.

Yogyakarta, 4 Agustus 2012

 Tulisan terkait: Sastra Bulan Purnama ke 11: Orang-orang Teater Membaca Puisi

Beberapa Puisi yang dibacakan pada acara tersebut:

GELAP
Ana Ratri 

Inilah lembah gulita yang sangat dalam
Kosong, hening dalam gigil yang menyudut palungnya
Anginpun lebih lirih dari sekedar desir
Takut bangunkan luka yang menganga
Inilah lembah gulita yang sangat dalam
Sunyi pucat dalam hela nafasnya
Lalu siapa ???
Sedang kendali tak bersamanya lagi
Baiklah… dicarinya dengan dua mata buta
Toh sama saja
Inilah lembah gulita yang sangat dalam

Yogyakarta 2011

***

ADZAN SUBUH
Agus Istianto 

Pekik adzan mengoyak kelam langit Jakarta
Bersahut-sahutan ke segala jurusan
Dari speaker buatan China
(karya tangan-tangan terampil orang-orang komunis)
Pekik adzan mengoyak kelam langit Jakarta
Membentak mata yang masih ngantuk
Lelaki menyibak sarung mobil
Dan memanaskan mesinnya,
(sebentar lagi harus mengarungi lautan kemacetan
Menuju tempat-tempat kerja).

Pekik adzan mengoyak langit kelam
Di Jakarta,
Pagi tidak lagi ditandai kicau burung
Dan kokok ayam jantan,
Sejak flu burung menyerang
Negara melarang seluruh kota piara ayam

Adzan mengoyak kelam langit Jakarta
Jaman berubah-rubah rupa
Dari Batavia hingga Jakarta
Dari Weltervreden dengan air mancur yang mempesona
Hingga kemiskinan dan macet di seluruh kota

Jakarta, 2011

 ***

INDONESIA, MAJOR YANG MINOR
Daru Maheldaswara

Memandang Indonesia kini
Bak hidup di Arab semasa Firaun bertahta
Yang membangun berhala-berhala pengganti Tuhan
yang jadikan materi sebagai panglima
Yang menempatkan kemaksiatan sebagai nakhoda
Yang menetapkan kenistaan sebagai visi misi
Yang salah adalah benar
Yang benar adalah salah
Dan keadilan – kekejian hanya soal retorika

Melihat Indonesia kini
Bak Alengka buah karya selingkuh Gautama Sukesi
Yang menobatkan Rahwana sebagai penguasa
Yang melantik Kumbakarna pemegang hajat rakyat
Yang menetapkan Sarakenaka pemuja sahwat sebagai pialang
Yang mentasbihkan Wibisana penjual negara sebagai pahlawan
Yang membiarkan teror sebagai senjata
Yang memantapkan Dajjal simbol kemakmuran
Dan ketentraman adalah bursa saham ketamakan

Menonton Indonesia kini
Bak menyaksikan tayangan televisi nasional
Yang membeberkan aib sebagai top rating
Yang menyiarkan kemaksiatan menu utama harian
Yang menyajikan mistik sebagai referensi intelektual
Yang mengeksploitasi masyarakat demi sponsor
Yang mengungkap tabu jadi komoditi
Yang membelah bambu ajang talk show
Dan budi pekerti pun hanya soal slogan

Membaca Indonesia kini
Bak menikmati koran kuning
Yang menempatkan bualan sebagai tajuk
Yang memboks kebohongan sebagai kolom
Yang memposisikan perpecahan sebagai headline
Yang memaparkan perzinahan politik sebagai laporan utama
Yang memajang iklan paha, susu, dan buah zakar sebagai penghasilan
Yang menempelkan perceraian sebagai stop press
Dan Rakyat pun hanya boleh membaca sampah

Solo, Awal Desember 2010

Iklan

2 comments on “Para Aktor Berpuisi dalam Sastra Bulan Purnama edisi 11

  1. Heum seru pastinya ya pak…dulu zwan juga prnah bacain puisi orang di dpn publik,seneng bgttt….
    **pengen bgt bacain puisi sendiri di depan publik hihihihi…(ngebayangin….>_<)

  2. Terima kasih. Senang sekali dengan apresiasinya Bung… Jayalah terus Sastra Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: