1 Komentar

Proses Kreatif Endah Raharjo

Cover Novel Endah Raharjo: Senja di Chao Phraya

Pengantar

Foto Profil Endah Raharjo di FB

Endah Raharjo,  salah satu penulis fiksi dengan karya-karyanya yang memikat rasa para pembacanya. Kisah-kisahnya lekat dengan keseharian, namun melalui imajinasi dan pilihan kata-katanya yang jernih, ia bisa menghanyutkan pembacanya.

Sebagai sosok Perempuan yang sudah melewati setengah abad, dengan seabrek pengalaman bekerja pada kelompok-kelompok marginal di Indonesia dan Negara lain, serta pengalaman-pengalaman yang tampaknya tercatat dalam “buku hariannya”, dengan latar belakang studi arsitek yang tentu lekat dengan hal-hal detail, maka karya-karya fiksinya memang bisa menjadi “sesuatu”.

Novel pertamanya berjudul “Senja di Chao Phraya”, telah dilaunching di IVAA Yogyakarta, 7 Juli 2012. Pada saat launching, Endah Raharjo mengungkapkan kesaksian tentang perjalanan proses kreatifnya. Novel ini, dikembangkan dan disempurnakan dari versi online yang telah diposting di salah satu situs.

Belajar dari pengalaman proses kreatif Endah Raharjo, tentu akan berguna. Siapa tahu kita bisa terpacu untuk berkarya lebih baik lagi.  Hal itulah yang mendorong saya untuk menyusun penggalan-penggalan kesaksiannya menjadi satu tulisan dengan mengacu kepada transkrip rekaman acara launching tersebut.

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, untuk berkarya lebih baik dan bisa memberikan makna bagi kehidupan.

Proses Awal

Latar belakang saya adalah arsitek dan pernah belajar mengenai Urban Studies and Planning. Studi saya selesaikan pada tahun 1987. Tapi selama ini saya tidak pernah serius berkarya sebagai artistek. Semua proyek yang saya kerjakan sejak tahun 1988, berhubungan dengan kepenulisan.

Pada tahun 2008, kegiatan saya di luar rumah mulai berkurang. Setidaknya ada tiga hari dalam seminggu saya berada di rumah. Ketersediaan waktu yang banyak, membuat saya berkesempatan untuk terlibat dalam pertemuan dan kegiatan-kegiatan ibu-ibu di kampung, berjalan-jalan bersama mereka. Tapi lama-lama ada kebosanan. Suatu hari ketika saya membuka dan membaca arsip-arsip yang terkait dengan pekerjaan, ada dorongan yang kuat bagi saya untuk menuliskan ke dalam karya fiksi.

Awalnya saya pernah menulis puisi. Jujur biasa saya lakukan kalau merasa patah hati. Dua puisi saya pernah dimuat di satu media dan mendapatkan honorarium sebesar seratus ribu rupiah.

Setelah itu saya membuat cerita pendek. Cerita yang pertama kali saya buat berjudul “Darsinem” yang dimuat di situs Langit Perempuan yang dikelola oleh seorang aktivis perempuan, Nani Buntarian. Selanjutnya saya menulis cerpen lagi yang berjudul “13 Perempuan” dan dimuat di Kompas.com. memang berbeda dengan kompas versi cetak, tapi saya tetap merasa bahagia karena ada proses seleksi agar karya bisa ditampilkan di sana. Ada kebanggaan, bahwa apa yang saya lakukan mendapatkan apresiasi dari pihak lain.

Ada cerpen yang termuat pula di “Langit Perempuan” yang mendapatkan reaksi dari banyak orang yang disampaikan kepada saya melalui email ataupun inbox. Mereka mempertanyakan dan menyayangkan saya menuliskan tentang kehidupan lesbian. Judul cerpen itu adalah “Pulang” yang terilhami dari pengalaman saya ketika kedatangan seorang kawan dari Belgia yang merupakan lesbian. Ia mengajak saya berkumpul dan makan bersama di suatu tempat bersama perempuan-perempuan lain yang juga lesbian. Ada delapan perempuan bersama saya pada saat itu. Saya benar-benar merasa salah tingkah berada di tengah mereka. Saya berusaha keras untuk menunjukkan diri bahwa saya bukan lesbian. Berbagai perasaan berkecamuk di hati saya.

Proses penulisan, terus saya lakukan dengan menggunakan media online. Di Kompas.com, Baltyra, dan Kompasiana. Menulis di media online telah memberikan ke-pede-an bagi saya untuk menulis, walau secara jujur, masih banyak hal yang saya tahan untuk tidak dituliskan dan dipublikasikan.

Dari Cerita Bersambung di Media Online Menjadi Novel 

Saya pernah bekerja bersama para pengungsi di perbatasan Myanmar-Thailand. Berbagai pengalaman di sana, saya tuliskan menjadi kisah perjalanan yang saya beri judul “Di balik belitan Razor Wire”. Ini menceritakan tentang salah satu konflik yang terjadi di Myanmar. Kebetulan ketika baru dua hari bekerja di sana, tempat itu baru saja di bom oleh Karen  National Liberation Army (KNLA), salah satu kelompok etnis minoritas yang ingin independent dari pemerintah Myanmar.

Setelah itu, saya berpikir bagaimana kisah perjalanan tersebut dikembangkan sebagai suatu cerita fiksi. Pastilah bisa lebih enak untuk mengisahkannya. Akhirnya, cerita itu-pun jadilah, yang sekarang menjadi novel “Senja di Chao Phraya”.

Novel ini yang bermula dari tulisan sebanyak empat episode, lalu saya kembangkan lagi ke dalam tulisan 5,000 kata. Dikembangkan lagi menjadi 22 episode (terpublish di Baltyra).

Pada saat ingin dijadikan buku, novel ini semula terdiri dari tujuh episode yang masing-masing episodenya sangat panjang. Berkat saran dari seorang sahabat, yaitu Gunawan Maryanto (GM) atau sering saya panggil Cindhil, episode itu dipecah menjadi beberapa episode, dan akhirnya menjadi 55 bab.

Memang ada perbedaan antara cerita yang terposting di media online dengan yang ada di dalam buku.  Ketika menulis di media online, saya merasa tidak memiliki beban, bisa menulis apa adanya, dan sangat bersifat personal. Namun ketika akan diterbitkan sebagai buku, saya merasa harus bisa mempertanggung-jawabkan apa yang saya tulis.

Saya bukan anak-anak lagi. Berbagai pengalaman sudah sedemikian banyaknya. Ketika saya menghasilkan sesuatu, ada perasaan malu jika karya yang dihasilkan hanya biasa-biasa saja.

Pengalaman selama ini memang saya lebih banyak menulis sesuatu yang bukan bersifat fiksi. Di bawah alam sadar saya, fiksi itu, misalnya menulis seperti kisa Harry Potter, di mana kita membebaskan imajinasi kita sebebas-bebasnya. Tapi ketika bercerita tentang kisah cinta, ini harus ada “sesuatunya” yang bisa membuat kisah cinta memiliki bobot tersendiri.

Pada proses menuliskan kembali, saya banyak bertanya dan meminta saran-saran penulis, penikmat novel dan kawan-kawan lainnya. Sebagian besar dari mereka memberikan saran agar saya bisa menggambarkan lebih detil lagi sesuatu yang perlu diketahui oleh pembaca. Sebagai contoh adalah tentang sungai Chao Phraya. Bagaimana sungai tersebut dapat digambarkan secara detil dan memasukkan sesuatu yang menarik tapi selama ini kurang mendapatkan perhatian dari orang.

Di situlah perbedaan, yang saya alami dalam proses penulisan Novel di media online dan ketika dijadikan sebagai sebuah buku cetak. Ada sesuatu yang harus saya renungkan lebih dalam dan saya tuangkan secara serius. Pada proses ini, saya memang berguru kepada Gunawan Maryanto (GM), agar saya mampu menghadirkan cerita yang lebih bertanggung jawab.

Kisah dalam Novel 

Novel ini memang merupakan kisah cinta. Secara jujur memang saya terinspirasi dari curhatan beberapa kawan yang berstatus sebagai janda atau sosok Perempuan yang belum menikah dengan umur yang bisa dianggap sudah sangat dewasa. Para Perempuan ini, sebagaimana pula para Perempuan lainnya yang mengalami hal serupa, merasa dirinya menjadi semakin kecil ketika berhadapan dengan laki-laki.

Posisi sebagai seorang janda atau sebagai seorang perawan tua, saya pahami kehidupannya sangat berat sekali. Masyarakat masih memandang “miring” terhadap mereka. Seorang janda, tentu bisa berharap bisa menikah lagi. Tapi mereka terhimpit pada situasi yang sulit untuk menemukan pasangan yang bisa menerima kondisi pasangannya. Saya kira, hal serupa dihadapi pula oleh para duda yang mencintai seorang gadis. Ibu sang gadis bisa menyatakan komentar: “Kok Duda sih? Umurnya seumuran dengan saya,”

Karena itulah, dalam novel ini yang menceritakan tentang Laras yang berposisi sebagai janda, saya menghadirkan tokoh Osken. Tokoh Osken sengaja saya pilih bukan berasal dari Jawa atau dari Indonesia. Berdasarkan pengalaman saya bekerja bersama dalam tim kerja yang hampir seluruhnya adalah laki-laki (asing), dan saya kadang hanya sendiri sebagai seorang Perempuan, saya melihat dan memahami sifat dan sikap mereka bila meninctai seseorang tidak melihat usia dan status. Kalau sudah cinta, ya cinta. Mengutip pernyataan dari Ririe Rengganis,  Cinta Tanpa  Karena… dan itu OK.

Jadi, Osken O’Shea, dihadirkan sebagai symbol laki-laki yang membangkitkan harapan bahwa seharusnya laki-laki menjadi seperti itu. ya, Cinta Tanpa Karena.

Penerbitan Indie sebagai Alternatif 

Saya kira, kita memang tidak perlu merasa takut untuk menerbitkan karya kita sebagai buku. Kita bisa menerbitkan secara indie. Ini tidak mahal. Saya hanya menghabiskan uang sebesar 1,5 juta rupiah. Saya saja bisa nekat, apalagi bagi teman-teman yang karyanya memang lebih bagus.

Kelompok kami yang bernama Kampung Fiksi sudah menerbitkan beberapa buku dengan menjalin kerjasama dengan pihak lain.

Menerbitkan karya memang tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan uang. Saya percaya soal uang pastilah ada jalannya sendiri.

Rencana Selanjutnya 

Pada saat ini saya juga tengah menyelesaikan dua novel. Pertama saya beri judul ”Buah Rahim” yang bercerita tentang seorang perempuan yang memutuskan menanamkan benih ke rahimnya. Tapi sayangnya ia harus ke luar dari Indonesia.

Satu lagi saya terilhami ketika perjalanan terakhir ke Burma, bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat keren yang membuat saya termehek-mehek. Wajahnya seperti samurai. Dia sangat seksi sekali. Saya membuat judul ”Lelaki Berlongyi Biru

Saya berterima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan apresiasinya. Ini merupakan moment yang menandai setengah abad saya. Ini semacam penanda bahwa banyak yang bisa dilakukan oleh ibu-ibu. Ini akan saya promosikan ke ibu-ibu di kampung saya untuk menuliskan curahan-curahan hatinya.

Apa yang saya kerjakan, tentu juga berkat dukungan dari teman-teman semua.

Yogyakarta, 8 Juli 2012

HL_120708_Sepenggal Kesaksian Proses Kreatif Endah Raharjo_2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: