Tinggalkan komentar

Endah Raharjo, Penulis Novel “Senja di Chao Phraya”

Foto Profil Endah Raharjo di FB

Di Kompasiana, salah satu blog keroyokan yang beranggotakan lebih dari 100 ribu, dan di tempat itu mengalir ratusan tulisan dan ribuan komentar setiap harinya, ada salah satu penulis yang diam-diam saya kagumi. Dia adalah Endah Raharjo.

Saya sangat menikmati tulisan-tulisannya. Sebagian besar tulisannya adalah fiksi, berupa cerita pendek dan puisi. Ia tercatat sebagai kompasianer sejak tanggal 20 Mei 2010 (Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, yang tanpa sengaja bisa menjadi kebangkitannya untuk menjadi penulis fiksi Sejati. He.h.e.he..he.).

Ketika saya mengunjungi lapaknya, tercatat hanya ada 14 artikel. Sebagian besar karyanya, telah menghilang. Padahal, ketika awal-awal saya mengenal dan mulai memposting tulisan di Kompasiana,  karya fiksinya sering hadir menjadi headline. Suatu yang luar biasa pada masa itu, mengingat pilihan karya fiksi menjadi headline tidaklah mudah. Ia bisa bertahan berminggu-minggu, untuk kemudian tergantikan dengan karya fiksi lainnya, yang tentu akan bertahan lama juga. (tentang ini saya pernah menuliskan di SINI)

Menurut penilaian saya, Endah Raharjo bukanlah orang yang egois, yang asyik berkutat dengan dirinya sendiri. Perhatiannya terhadap kanal fiksi di Kompasiana pastilah tidak diragukan.  Persahabatannya dengantujuh kompasianer lainnya, yakni: Gratcia, Siahaya dengan nama akun pendek di Kompasiana “g”, Winda KrinadefaDeasy MariaMeliana Indie, Sari Novita atau O-pinkIndah W, dan Ria Tumimomor, melahirkan komunitas bernama Kampung Fiksi (kemudian komunitas ini membuat website sendiri, aktif membuat berbagai event, terutama yang berlangsung setiap tahun, penulisan J50K. Kampung Fiksi pada saat ini  telah menerbitkan empat buku karya fiksi). Komunitas inilah yang pertama kali melahirkan gerakan bersama di Kompasiana dengan event (yang penting tapi sayang sering terlupakan) bila saya tidak salah ingat adalah ”Hari Fiksi Kompasiana”.

Event tersebut, yang saya ketahui kemudian, karena pada waktu itu hampir seminggu tidak online, telah mampu menunjukkan gairah para fiksianer dan menambah keyakinan diri. Apalagi pada event tersebut, para fiksianer secara kompak telah menunjukkan hal-hal yang terkait dengan TER…TER.. TER… bisa terkuasai oleh karya fiksi. Kendati peristiwa tersebut, telah diingatkan oleh Tante Paku agar tidak membuat para fiksianer menjadi Egois (lihat di SINI)

Event berikutnya yang digagas sebagai kelanjutan dari Hari Fiksi Kompasiana dan melibatkan kompasianer lainnya adalah ”Festival Fiksi Kolaborasi” (FFK), yang mampu melibatkan ratusan kompasianer untuk berkolaborasi menghasilkan satu atau lebih karya fiksi. Kolaborasi yang dibuat oleh para kompasianer yang belum bertemu secara fisik, dan sebagian terbentang jarak yang sangat jauh bahkan antar negara. Event yang oleh beberapa kompasianer diantaranya Bung Granito dan Langit Queen, diabadikan dengan menghimpun karya-karya yang ada ke dalam sebuah buku yang mewah berisi ratusan karya kolaborasi.

Para peserta FFK, bersepakat untuk terus melanjutkan dan menghimpunkan diri ke dalam group ”Fiksiana Community” yang dikenal aktif melakukan event yang terkait dengan fiksi. Hal mana, tentu tidak terlupa pula komunitas fiksi ”Desa Rangkat” yang juga aktif melakukan event-event fiksi.

Pada perkembangan situasi dalam fiksi Kompasiana hingga hari ini, saya tidak ragu untuk menyebut bahwa Mbak Endah Raharjo, merupakan salah satu sosok penting (tanpa mengabaikan kompasianer lain yang juga sangat aktif)  yang memberikan kontribusi besar membangkitkan gairah para fiksianer untuk terus berkarya.

***

Walaupun tidak terlalu sering, tapi saya pernah intens berdialog dengan Endah Raharjo melalui chatting di FB dan di ruang-ruang komentar di Kompasiana. Setelahnya, lama sekali tidak pernah bersapa dengannya.

Maka ketika Endah Raharjo mengumumkan bahwa cerita bersambung yang pernah diposting (sebagian bila tidak salah ingat juga diposting di Kompasiana ini) di situs online akan diterbitkan menjadi novel, saya menjadi salah satu orang yang menunggu terbitnya novel itu yang berjudul ”Senja di Chao Phraya”.

Satu hal yang mengejutkan adalah ketika tiba-tiba muncul pesan di inbox saya tertanggal 14 Juni dari Endah Raharjo meminta saya untuk menjadi salah satu pembicara dalam launching novelnya. Awalnya saya menolak, karena merasa tidak mampu untuk membahas novel, namun akhirnya dengan senang hati menerima ketika tema yang ditawarkan adalah membahas fiksi online.

Menunggu tanggal 6 Juli 2012, saat launching Novel, membuat saya gelisah juga. Apa yang akan ditulis? Wah, tulisan harus benar-benar serius nih. Sayang pula, rentang waktu yang panjang tidak saya manfaatkan dengan baik. Kendati banyak pertanyaan dan gagasan tentang fiksi online, saya justru baru membuat tulisan dua jam sebelum launching, yang segera saya kirim ke panitia penyelenggara. Tulisan instan jadinya, sebagai pengantar diskusi. He.h.e.h.e.he

Lantas saya membayangkan, sosok seperti apa Endah Raharjo ini? Lama mengenal, tinggal di satu kota, tapi tidak pernah bertemu muka. Saya lalu teringat komentar yang disampaikan oleh Agung Nova (kompasianer warga Canting) lebih dari satu tahun yang lalu ketika pernah menyelenggarakan pertemuan antara Endah Raharjo dengan warga Canting. ”Orangnya cantik, semok,”

”Orang arsitek, tapi aktif di NGO juga,”  kata Bambang ”Kirik” Ertanto, ketika saya menanyakan tentang Endah Raharjo, di satu kesempatan, mengingat selain keduanya sudah lama saling mengenal, rumah keduanya juga berdekatan.

Saat yang ditunggu-pun tiba. Bertempat di kantor IVAA (Indonesian Visual Art Archive) yang terletak di Jalan Ireda, di daerah Dipowinatan Yogyakarta, menjelang pukul 16.00 saya tiba di sana. Sudah ada Endah Raharjo tengah berbincang dengan Yoshi Fajar, dan Ikun ESKA, cerpenis dan sering disebut juga seniman serba bisa.

Sambutan hangat dari Endah Raharjo. Ah, senangnya bisa bertemu dan bersapa langsung dengan dirinya. Sosok yang masih energik dan terlihat cantik, pada usia yang sudah memasuki setengah abad.

Satu persatu peserta berdatangan. Banyak nama-nama yang sudah kenal di dunia online, bisa dipertemukan saat ini. Sungguh suatu anugrah.

Cover Novel Endah Raharjo: Senja di Chao Phraya

Acara launchingnya sendiri?

Endah Raharjo memulai dengan menceritakan pengalaman proses kreatifnya sejak awal mula menulis fiksi, yaitu cerita pendek berjudul ”Darsinem” tertanggal 1 Pebruari 2009 yang termuat di salah satu website (ingin lihat, klik di SINI), perkenalan dan keterlibatannya di Kompasiana, perjumpaannya dengan para sahabat yang kemudian membentuk komunitas Kampung Fiksi, dan proses kreatifnya menghasilkan berbagai karya fiksi, termasuk Novel ”Senja di Chao Phraya”. Ia juga menyatakan bahwa pada saat ini tengah menyelesaikan dua novel lagi.

Mengenai novel yang dilaunching, dua orang kompasianer, Loganue Saputra JR yang dikenal dengan panggilan singkat Alf dan Hadi Syamsul  telah menuliskan dan memposting di Kompasiana (lihat di SINI dan di SINI). Alf menyatakan bahwa novel romantisme ini yang menggunakan narasi dengan sudut pandang orang pertama, membuat kita seperti mendengarkan seseorang bercerita tentang pengalaman hidup si tokoh. Alf juga menyatakan sempat curiga bahwa fiksi dalam novel ini tidak benar-benar fiksi, melainkan sebuah pengalaman hidup sang penulis sendiri. Sedangkan Hadi Samsul menyatakan bahwa Selain konflik-konflik batin tokoh utamanya, Endah juga membawa pembaca untuk mengenang beberapa kejadian nyata yang pernah terjadi. Seperti peristiwa meletusnya Gunung Merapi, dan juga konflik-konflik yang pernah menjadi isu internasional di Thailand. Ini juga menjadi point khusus yang membuat cerita terasa mengalir seperti bukan cerita fiksi.

Memang, mencermati berbagai karya Endah Raharjo, ia selalu menuliskan tentang realitas yang hidup sehari-hari. Ia dengan ciamik memainkan imajinasinya, mengemas berbagai peristiwa, menampilkkan detil setting ruang, yang menyatu dan membawa kita seakan hadir dan berada di dalamnya.

Tidak salah bila Muhammad Ichsan, Kompasianer yang aktif mengulas karya fiksi kompasianer lain, menyebut karya Endah Raharjo adalah karya realisme. Secara serius dan mendalam  Ichsan mengulas salah satu cerpen Endah Raharjo yang menjadi headline di Kompasiana ini (lihat di SINI).

Saya sendiri, pada acara launching itu lebih menyoroti tentang fiksi online (lihat di SINI). Tentang isi novel saya tidak membahasnya. Hanya memberikan komentar yang hampir senada dengan Alf. ”Novel Indah Raharjo berawal dari Fiksi Online. Kisahnya adalah fiksi. Yakinlah, hanya fiksi. Walau ruang yang dihadirkan ada di dalam nyata, dan kisahnya – bisa atau bahkan telah terjadi – ia tetaplah fiksi.

Ikun ESKA, membacakan dengan baik salah satu bab dari novel ini yang benar-benar bisa memperjelas imajinasi kita seakan-akan memang benar-benar hadir.

Usai acara, sayang saya tidak berkesampatan untuk ngobrol lebih lama dengan Endah Raharjo, karena saya sendiri harus segera meninggalkan tempat acara. Maaf, ya… Tapi saya yakin suatu hari akan bertemu kembali dengan waktu yang panjang untuk berbincang.

Selamat bagi Endah Raharjo atas penerbitan novelnya, semoga laris manis, semakin memicu karya-karya lainnya, bisa menyelesaikan dua novelnya dalam waktu dekat dan dihadirkan kepada kita semua.

Salam

Yogyakarta, 7 Juli 2012

Tulisan ini pernah di posting di KOMPASIANA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: