Tinggalkan komentar

Dari Jalanan Menjadi Rumahan

Di tengah keterbasan, di pinggiran rel pun anak jalanan berkegiatan (dok. Setara)

Kenangan ketika tinggal dan berinteraksi bersama anak-anak jalanan pada masa lalu di tahun 1990-an hadir bagaikan potongan-potongan film.  Membandingkan dengan anak jalanan pada masa kini, memang ada perbedaan yang menonjol. Pada masa itu, anak-anak dari berbagai wilayah   berhimpun di satu kota. Mereka memenuhi ruang-ruang publik. Mengarungi hari demi hari di seputar jalanan. Seperti pepatah: Hidup beratap langit beralas bumi, sungguh-sungguh terjalani.

Biasanya anak-anak dengan berbagai alasan  keluar dari rumah, meninggalkan tempat asalnya, berpetualang ke kota-kota besar, tanpa sanak-saudara. Bila-pun ada, mereka tidak akan mengontaknya, cenderung menghindari pertemuan. Intinya, mereka keluar dan berupaya memutuskan hubungan kekeluargaan. Bisa sampai titik tertentu mereka kembali atau bahkan bisa terputus seterusnya.

Memasuki dunia baru, dunia yang tentunya tidak   layak bagi anak-anak. Dunia yang keras. Dunia yang kejam. Dibayang-bayangi berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi. Bagaikan menjelajahi hutan beton, berlaku hukum rimba. Siapa kuat, dia akan jadi pemenangnya. Belum lagi berhadapan dengan orang-orang ”normal” yang menempatkan posisi anak-anak itu tak ubahnya monster.

Mempertahankan kelangsungan hidupnya, kreativitas benar-benar diuji. Mereka melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Kegiatan yang dominan adalah sebagai penyemir sepatu dan pengamen. Pengemis? Ah, diantara mereka sendiri juga tak suka. ”Itu bukan kerja!” kata mereka. Dan tak sungkan mengolok anak-anak yang mencoba untuk mengemis.  Uang yang dicari adalah sekedar memenuhi rasa lapar dan dahaga.  Selebihnya bisa berleha-leha. Menunggu saat makan berikutnya. Tidak ada kamus kata menabung. Di mana? Tersimpan dalam celana saja, bisa menghilang kala tidur.

Nah, soal tidur, mereka bisa tidur dimana saja. Di taman, di emperan toko, di pos-pos penjagaan polisi, los-los pasar, gedung-gedung kosong, terminal, gerbong kereta, di bawah jembatan, dan segenap ruang yang bisa digunakan. Mereka juga bisa berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dimana mereka suka.

Selanjutnya, mulai berkelompok. Menyatukan diri, membangun kekuatan, untuk menghadapi berbagai ancaman. Kemudian bisa berpotensi pula menjadi kelompok untuk menaklukkan kelompok-kelompok lain, menguasai wilayah-wilayah, termasuk wilayah untuk tidur.

Mensikapi situasi seperti itu, maka para pekerja/organisasi sosial di manapun berada yang bekerja untuk anak jalanan, selalu menggunakan pendekatan penyediaan open house ataupun shelter. Menjadi rumah singgah dan tempat tinggal sementar bagi anak-anak jalanan, sebelum mereka bisa dipertemukan kembali dengan orangtua/keluarganya.

Namun, seperti dikatakan di awal, situasi telah berubah. Anak-anak jalanan memang sudah sulit ditemui di ruang-ruang publik kala malam. Bilapun ada, biasanya malah bersama keluarga mereka. Homeless. Sebagian besar hanya melakukan kegiatan di jalanan guna mendapatkan uang yang bukan sebagai pilihan utama untuk mempertahankan hidup, namun bisa menjadi kontribusi anak bagi pendapatan keluarga.

Pada saat ini bisa dikatakan bahwa anak jalanan  adalah orang-orang rumahan. Biasanya mereka berasal dari kampung-kampung di kota itu sendiri. Masih tinggal bersama orangtua/keluarga. Saat mencari uang kadang juga ditunggui atau lebih tepatnya di bawah pengawasan keluarga mereka.

Perubahan situasi itu pula yang tampaknya menyebabkan anak-anak jalanan sulit untuk diajak berkegiatan oleh para pekerja sosial. Waktu adalah uang, seperti berlaku. Cilakanya, bila ada pekerja sosial atau organisasi yang memberikan uang pengganti agar mereka bisa mengikuti kegiatan. Bukankah ini sama saja membeli kegiatan? Lantas apa guna berkegiatan bersama anak jalanan?

Ini tentunya menjadi PR bagi kita semua.

Yogyakarta, 11 Juni 2012

Pernah diposting di Kompasiana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: