Tinggalkan komentar

Yuk, Ikutan “YuK” di depan Istana (Yogyakarta untuk Kebhinekaan)

Semangat kebersamaan, penghargaan terhadap berbagai perbedaan, toleransi,  merupakan sikap yang dikenal dalam kehidupan di Yogyakarta. Maka ketika sekelompok massa melakukan berbagai aksi kekerasan dalam mensikapi perbedaan yang ada, tentu saja hal ini akan menimbulkan reaksi.

Dari berbagai peristiwa kekerasan oleh organisasi massa dengan mengatasnamakan agama, terakhir adalah penyerangan  di kantor LKiS pada tanggal 9 Mei 2012 saat berlangsungnya diskusi buku “Allah, Liberty and Love” bersama Irsyad Manji yang menyebabkan tujuh orang terluka dan beberapa bagian kantor LKiS rusak.

Hal ini menimbulkan reaksi dengan berhimpunnya berbagai elemen masyarakat ke dalam Gerakan Rakyat YogyakartaAnti Kekerasan(Gerayak) yang melakukan aksi di titik nol kilometer pada tanggal 11/5 2012 (lihat di SINI). Berbagai aksi dari elemen di Yogya terus bergulir, dari apel siaga berbagai ormas, Kenduri Tolak Bala (lihat di SINI), berbagai Aksi para Seniman dan elemen lainnya yang menggunakan momentum hari lahirnya Pancasila untuk menyampaikan sikap anti kekerasan (lihat di SINI).

Kali ini, ratusan organisasi masyarakat sipil kembali menghimpun diri dalam Forum Yogyakarta untuk Kebhinekaan (YuK), yang akan menyelenggarakan aksi Budaya “Dari Yogyakarta untuk Indonesia Bhineka”. Acara akan digelar di depan istana Gedung Agung Yogyakarta pada hari minggu, tanggal 24 Juni 2012. Aksi ini akan dihadiri oleh warga Yogyakarta dari berbagai wilayah, seniman, mahasiswa, Organisasi Non Pemerintah, Organisasi masyarakat. Sri Sultan Hamengku Buwana direncanakan akan hadir dalam aksi budaya ini. “Bersama Sri Sultan Hamengku Buwana X, seluruh peserta aksi akan membacakan “Manifesto Yogyakarta untuk Kebinekaan” dan membunyikan titir kentongan bersama” demikian dinyatakan dalam siaran pers YuK.

Dijelaskan bahwa titir kentongan dipilih sebagai simbol peringatan atau tanda bahaya yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa saat terjadi keadaan bahaya dan keselamatan warga terancam. Aksi-aksi kekerasan yang berulangkali terjadi akhir-akhir ini di Yogyakarta, seharusnya dimaknai sebagai ancaman terhadap sejarah panjang harmoni dan dinamika kebinekaan di Yogyakarta. Melalui aksi budaya ini, Forum YuK! berharap agar seluruh masyarakat, termasuk di dalamnya jajaran pemerintah dan kepolisian, terbangun dan sadar untuk bersikap segala bentuk kekerasan yang mengancam kebinekaan.

“Aksi ini diharapkan juga dapat menjadi perekat untuk menyatukan kembali kepedulian kita pada kebinekaan yang menjadi milik seluruh warga Yogyakarta dan Indonesia” pernyataan dari siaran pers.

Tercantum sebagai Duta YuK adalah  Butet Kartaradjasa,  Alissa Wahid, M. Imam Aziz,  Kill the DJ,  Meth Kusumahadi dan Bondan Nusantara. Koordinator aksi YuK adalah Naomi Srikandi. Bila andaadalah warga Yogyakarta dan sekitarnya, silahkan bergabung dalam aksi budaya ini.

“Jangan lupa membawa kentongan, peluit, atau apapun yang bisa dibunyikan. Pakaian merah atau putih,” sepenggal pengumuman yang kini banyak tersebar di berbagai akun jejaring sosial Facebook.

Yogyakarta, 23 Juni 2012

_________________

SIARAN PERS

Aksi Budaya “Dari Yogyakarta untuk Indonesia Bineka”

Pelataran Gedung Agung,Yogyakarta

Minggu, 24 Juni 2012 Pukul 14.30 – selesai

Sebagai kota pendidikan dan salah satu pusat kebudayaan Jawa, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki sejarah panjang dalam kemampuannya memberi ruang bagi kebinekaan serta kemerdekaan berfikir dan berpendapat. Sejak dulu Yogyakarta terkenal sebagai kota yang terus merawat dan menjaga nilai-nilai kebudayaan Jawa yang adaptif, toleran, dan terbuka pada perbedaan. Perpaduan ketiga karakter inilah yang membuat Yogyakarta, sejak Republik Indonesia berdiri, menjadi kota yang kerap dipandang sebagai tolok ukur keharmonisan kehidupan berbangsa yang tumbuh di atas kenyataan masyarakat yang beragam, kenyataan yang Bhinneka Tunggal Ika, seperti tertuang di dalam lambang negara Burung Garuda Pancasila.

Namun realitas kehidupan berbangsa yang harmonis dalam keberagaman tersebut terancam dan seolah terkoyak, ketika akhir-akhir ini makin marak aksi kekerasan mengatasnamakan agama yang dilakukan oleh organisasi massa dan kepentingan tertentu di Yogyakarta, dan juga tempat-tempat lain di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan The Wahid Institute misalnya, mencatat bahwa pada tahun 2011 di Indonesia telah terjadi 92 kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, 9 kasus kekerasan dan pemaksaan keyakinan serta 9 penyegelan dan pelarangan rumah ibadah dan kriminalisasi keyakinan tercatat 4 kasus. Tindakan intoleransi dalam beragama dan berkeyakinan tahun 2011 naik 184 kasus (16%) dibandingkan tahun 2010 (134 kasus). Kategori tindakan intoleransi tertinggi adalah intimidasi dan kekerasan atas nama agama (48 kasus), di dalamnya termasuk penyebaran kebencian terhadap kelompok lain (27 kasus), pembakaran dan perusakan properti (26 kasus), serta diskriminasi atas nama agama (26 kasus).

Kasus-kasus serupa juga terjadi di Yogyakarta, diantaranya; pembatalan paksa Panggung Keberagaman International Day Against Homophobia (2010), pembubaran paksa Queer Film Festival (2010), penyerangan diskusi Irshad Manji di LKiS (2012), aksi teror dan penolakan keberadaan tempat ibadah di Giri Wening di Gunung Kidul. Kejadian-kejadian seperti itu mestinya tidak terulang di masa mendatang, dan sudah seharusnya pemerintah melindungi hak-hak sipil warga secara penuh, agar Bhinneka Tunggal Ika bisa terus hidup sebagai semangat kehidupan berbangsa.

Forum Yogyakarta untuk Keberagaman (YuK!) yang beranggotakan lebih dari seratus organisasi non pemerintah dan elemen masyarakat sipil akan mengadakan Aksi Budaya “Dari Yogyakarta untuk Indonesia Bineka” sebagai wujud keprihatinan terhadap ancaman dan pelanggaran kebinekaan yang sejak lama hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Yogyakarta. Bersama Sri Sultan Hamengku Buwana X, seluruh peserta aksi akan membacakan “Manifesto Yogyakarta untuk Kebinekaan” dan membunyikan titir kentongan bersama.

Titir kentongan dipilih sebagai simbol peringatan atau tanda bahaya yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa saat terjadi keadaan bahaya dan keselamatan warga terancam. Aksi-aksi kekerasan yang berulangkali terjadi akhir-akhir ini di Yogyakarta, seharusnya dimaknai sebagai ancaman terhadap sejarah panjang harmoni dan dinamika kebinekaan di Yogyakarta. Melalui aksi budaya ini, Forum YuK! berharap agar seluruh masyarakat, termasuk di dalamnya jajaran pemerintah dan kepolisian, terbangun dan sadar untuk bersikap segala bentuk kekerasan yang mengancam kebinekaan. Aksi ini diharapkan juga dapat menjadi perekat untuk menyatukan kembali kepedulian kita pada kebinekaan yang menjadi milik seluruh warga Yogyakarta dan Indonesia.

Salam Kebinekaan,

Forum YuK! (Yogyakarta untuk Keberagaman)

Duta YuK!

1. Butet Kartaradjasa (@masbutet)

2. Alissa Wahid (@alissawahid)

3. M. Imam Aziz

4. Kill the DJ (@killthedj)

5. Meth Kusumahadi

6. Bondan Nusantara

Website : http://yogyaberagam.wordpress.com

Facebook : http://facebook.com/YogyaBineka

Twitter : @YogyaBeragam

Email : yogya.beragam@yahoo.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: