2 Komentar

Trilogi Sepatu dan Mahkota karya Fajar Suharno

Fajar Suharno


Landung Simatupang

Sebuah bangunan yang sudah tidak utuh. Sebagian besar dinding telah roboh. Pintu kayu, juga tak sempurna, beberapa bagian atas telah menghilang. Bila melihat dari depan, sebuah kotak di sudut kiri terpajang sebuah piala dan radio transistor tua berwarna hitam, radio yang pernah menjadi kebanggaan pemiliknya di masa-masa lalu. Di sudut kanan sebuah kotak dengan tinggi yang hampir sama, terpajang pula sebuah piala. Di belakangnya, pada kotak yang lebih kecil, terlihat teko dengan beberapa cangkir.

Sebuah kotak lebih lebar dan lebih panjang, beralaskan kardus menyerupai tempat untuk berbaring. Di ujungnya, sebuah batang atau ranting kering menjadi pengikat bendera merah putih, menyisakan bagian di atasnya. Terlihat bendera setengah tiang tengah dikibarkan.

Gambaran kemiskinan berbaur dengan symbol kedukaan, bagi bangsa dan NegaraIndonesia, sebagaimana terlihat pada bendera merah-putih,

Terlihat seorang tua, berkaos loreng-loreng, dengan samir berwarna merah berbingkai kuning terselempang di dadanya. berjalan perlahan ke sisi kanan. Sebuah mahkota dengan dua tanduk di kepala, menyerupai tangan yang terkepal, dengan lembaran uang ratusan ribu di tanduk kiri dan lembaran uanglimapuluh ribuan di tanduk sebelah kanan, melekat dalam kepala. Oh, ya, lelaki itu mengenakan sepatu merah!

Itulah yang tersaksikan di panggung gedung societet Taman Budaya Yogyakarta, pada malam di tanggal 16 Juni 2012.

Lelaki tua itu, adalah Fajar Suharno, seorang aktor  yang telah bergelut dengan dunia teater sejak tahun 1960-an. Pernah bersama Bakdi Soemanto, bersama Rendra di Bengkel Teater, dan menjadi salah satu pendiri Teater Dinasti yang pernah menjadi kelompok teater  yang memiliki pengaruh besar bagi jagat teater Yogya dan juga menghasilkan para aktor kuat. Selanjutnya, ia tetap setia dengan teater, melatih para teaterawan muda.

Usianya 65 tahun sudah, tapi malam itu, ia tetap berhasil menunjukkan permainannya yang kuat dan membuat para penonton terus menyimak hingga akhir pertunjukan.

Trilogi  Sepatu dan Mahkota; tiga pertunjukan yang menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan dan mengembangkan satu tema. Dimulai dari pembacaan puisi oleh Bambang Susiawan, Joko Kamto dan Landung Simatupang, dilanjutkan pembacaan cerpen oleh Landung Simatupang, dan selanjutnya monoplay oleh Fajar Suharno.

Sebagai penonton, saya merasakan Joko Kamto, yang biasanya bermain optimal, pada malam itu terlihat kurang gregetnya. Landung Simatupang, yang kebetulan saya sempat beberapa kali menyaksikan pembacaan puisi dan monolognya, masih tampil memukau, dengan pembacaan cerpen berdialek Batak dengan beragam ekspresi yang mengalir.

Trilogi Sepatu dan Mahkota, karya Fajar Suharno, menyoroti tentang realitas sosial yang terkait dengan kekuasaan. Ia bercerita tentang seorang yang mimpi berkuasa. Dalam belitan kekuasaan, ia menyadari kekuasaan bisa berbahaya ketika hanya memikirkan diri sendiri dan bisa dengan keji menindas orang lain.

Bambang Susiawan

Menurut Fajar Suharno (lihat di SINI), ada dua hal, dalam lakon ini, yang melontarkan mengapa orang atau kekuasaan memilih menindas. Pertama adalah kemiskinan moral, kedua adalah kemiskinan material. Yang pertama mewujud dalam ketiadaan rasa hormat pada pihak atau orang lain sehingga menjadikan kekuasaan memilih mengancam dan hendak meniadakan liyan (orang atau kelompok lain yang bukan bagian dari kekuasaan itu) dan mengakibatkan “etika” atau rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab pun dihapus dari kepribadian diri oleh hasrat dan nafsu. Ujungnya, norma sosial pun hancur. Melalui tokoh Kakek, pelanggaran norma sosial itu, dimunculkan dalam perilaku mencuri barang di supermarket.

Seusai pertunjukan ada pertanyaan yang menggantung di kepala, ketika lelaki tua itu ditangkap, ia meminta ijin untuk mematahkan tiang di atas bendera, lalu memberikan hormat. Apakah ini bentuk simbolis bahwa penegakan hukum akan menyebabkan kehilangan rasa duka. Bila demikian, mengapa kembali harus dikorbankan rakyat miskin?

Joko Kamto

Pertanyaan lain adalah mengenai samir berwarna merah dengan bingkai kuning. Saya mencoba mencari di google tentang makna warna samir tersebut, tapi saya tidak mendapatkannya. Hal ini mengingat samir yang biasa digunakan oleh Kraton Surakarta berwarna kuning dengan bingkai merah, menjadi pertanda sebagai abdi dalem, atau ada yang menyatakan sebagai bentuk tanda sudah diikat dan menjadi milik kraton (pemegang kekuasaan). Apakah ada kesengajaan melakukan pembalikan dengan makna berbeda?

Oh, ya, di akhir pertunjukan, Fajar Suharno membacakan pernyataan budaya, berikut ini:

*****

Fajar Suharno membacakan Pernyataan Budaya

Bismillahirrochmannirrochim

Pernyataan Budaya

Perkenankan saya :  Fajar Suharno

Domisili                     :  Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta

Menyatakan:

  1. Bahwa berkesenian berkebudayaan tidak lepas dari kondisi masyarakat dan negara
  2. Mencermati dan merasakan kondisi kenegaraan saat ini berada pada kemerosotan dalam banyak bidang kehidupan
  3. perlu kiranya ada satu perhatian dengan kesungguhan untuk mengantisipasi lebih parahnya kemerosotan ini.
  4. Saya mengajak saudara-saudara sekalian mulai saat ini dalam keprihatinan budaya, dalam laku keseharian dan rencana-rencana kerja yang mesti segera dirumuskan bersama

Gedung Societet, 16 Juni 2012-06-17

(Fajar Suharno)

*****

Tapi, jujur, bagaimanapun saya tetap merasa bahagia bisa menyaksikan pertunjukan produksi Kawanusa, Popular Education Media Center.

Yogyakarta, 17 Juni 2012

Iklan

2 comments on “Trilogi Sepatu dan Mahkota karya Fajar Suharno

  1. kapan ya? masyarakat indonesia bisa makmur dan sejahtera…

  2. […] Posted by Odi Shalahuddin on Juni 17, 2012 in Acara […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: