Tinggalkan komentar

Surat untuk Pacar #5

KITA BELAJAR DARI KEHIDUPAN, JENG SRI

Pacar, kini adalah istriku

Kenikmatan hidup adalah penghayatan terhadap hidup itu sendiri. Tiada rasa sakit. Tiada penderitaan bila kita menikmati rasa sakit itu sendiri. Dalam hidup selalu ada dua sisi yang bertentangan, dari masing-masing sisi-sisi itu terdapat dua pertentangan lagi, begitu seterusnya. Kita tidak dapat menghindar dari kenyataan tersebut. Pencarian kebenaran tidak akan didapatkan sebagia kebenaran sejati. Tapi suatu pencarian sangat diperlukan untuk menempa diri. Untuk berhati-hati dan dapat berbuat lebih baik dari waktu-waktu sebelumnya.

Dalam pencarian, otak kita tidak beku. Ia selalu ebrtanya-tanya. Bebaskan ia bertanya tentang hal apapun, langgar segala batasan-batasan yang ada. Setelah itu kita kupas dengan teliti dan jadikan rumusan-rumusan yang kita harapkan minimal dapat bermanfaat bagi diri kita. Lebih besar lagi bermandaat bagi orang lain, lebih besar lagi digunakan oleh mayoritas orang bila kita tidak berharap lebih jauh, untuk seluruh manusia di muka bumi.

Bumi hanya satu. Perkembangan jaman tidak membedakan satu sama lainnya. Batas-batas geografis, batas negara dan segala bentuk macam batasan sudah terlampaui. Walaupun semuanya tetap ada, tetapi kita lebih menyadari bahwa kita dapat berhubungan dengan semuanya dan membahas kehidupan global. Manusia, siapapun dia adalah pemain-pemain yang mendapatkan peranan, betapapun kecilnya peranan yang didapat tetap menghasilkan sesuatu yang berguna bagi keseluruhan mata rantai. Kebaikan-kebaikan dapat dilihat sebagai kebaikan bila ada kejahatan-kejahatan yang muncul. Kita dapat diterima orang bila kita dapat menyenangkan bagi orang lain bila orang lain merasakan ketidaksenangan terhadap orang yang lainnya lagi. Jelasnya, bahwa suatu sikap dan pola pikir seseorang tidak lepas dari patokan-patokan yang akan dijadikan ukuran.

Apakah yang akan terbayang bila semua orang melakukan sesuatu yang kita anggap baik selama ini dan tidak ada yang melakukan perbuatan jahat yang kita anggap selama ini? Tentu saja tidak ada lagi kebaikan. Karena tidak ada ukuran yang bisa dijadikan patokan untuk menilainya. Untuk itulah, tidak ada kata lain selain kita mempelajari semuanya dengan hati terbuka. Kita tidak terbawa pada emosi soal kebaikan atau berprasangka dan bersikap apatis terlebih dahulu kepada apa yang dinamakan keburukan. Pandanglah dan nilailah dengan nilai kita sendiri secara obyektif. Begitu saja.

Saat terjaga dari tidur dan sulit untuk meneruskannya. 
(dunia, masih ada)

Catatan: Dibuat pada tahun 1991

Tulisan terkait:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: