Tinggalkan komentar

Aku Merasa Gila, Jeng Sri

AKU MERASA GILA, JENG SRI 

Bersama istri dan anak-anakku

Menyambutlah hari-hari dengan senyum. Waktu yang terlewati yang berbekas. Menjulanglah angan-angan. Berguguranlah kesedihan-kesedihan. Datanglah menjelang. Datanglah awal. Datanglah segala-segala yang dingin. Begitu kedinginan.

Namun hari-hari bukan milik kita. Hari-hari belum berpihak penuh. Ada baik memang. Tapi tak kuasa kita menghitung detik demidetik. Tak kuasa kita angan yang memanggil. Tak kuasa kita. Lalu terkulai, lesu penuh harap.

Langit. Langit-langit bumi. Berdentang lonceng semesta. Berdendang irama malam. Tabuhan fajar. Tarian petang. Duhai. Begitu mempesona. Kita yang terbelenggu dan menikmati belenggu: Seharusnyalah begitu. Nilai-nilai yang masih diperlakukan menjaga keseimbangan. Berpadu pikiran-pikiran kita. Berlaga nafsu-nafsu kita. Keseimbangan yang menjaga dari kebebasan semu. Kebebasan yang akan menghancurkan. Duhai, tersadar kita. Terjaga dari rasa kantuk buatan. Manusia, apakah hakekatnya?

Bersandar. Memandang awan. Beriring/. Hitam. Biru. Putih. Merah. Gila! Kegilaan yang mencengangkan. Musnah. Bergerak diam. Sing dan sang. Song dan Seng. Amburadul dunia. Amburadul kaca-kaca. Asing. Terasing. Matahari-bulan. Panas-dingin. Pertentangan-pertentangan yang terjaga.

Asap rokok mengepul. Asap rokok mengepul. Setiap batang, berangan hening. Satu, dua, dan seterusnya. Milah waktu. Belah buku. Apa? Apa? Apa>

Puisi-puisi yang bernyanyi menguak sepi. Nyanyi-nyanyi berpuisi bawa perenungan. Sketsa-sketsa hidup. Goresan-goresan dibuat makna terulang. Kong Kang King. King. King makan Kung. King jadi King-Kong. King. King makan Kang-Kung. Kang-kung buat ngantuk. Tidurlah King. Tapi King memang kurang ajar. King tak tahu aturan. King amburadul. Matilah King, Matilah segera.

Manusia jadi King. Hilang rasa. Ada rasa, ditekan sendiri. Lho! Kaki-kaku. Mati-kutu. Nyelenehnya otak. Kilaunya kicau. Kacau-kacau saja yang ada. Kicau kacau sengau. Wow.

Dag-dig-dug. Dar-der-dor. Par terlempar terdampar. Tampar yang menampar. Sungai yang gemulai. Jurang menganga. Burung-burung turun mencari makan.

Gerak-gerik-geruk. Maling! Maling hati! Biar. Asal tidak makan hati! Enak rempelo daripada makan hati. Asyik. Berjalan, maju. Melangkah, maju. Aba-aba. Ayo-yes.

Dunia yang berputar. Memang sudah begitu. Tidak usah diusak-asik, cari masalah. Bukan jadi pintar. Jadi dungu. Ngerti? Tik-tak. Sayonara. Sayonara. Perpisahan sejenak. Jumpa-jumpa-jumpa. Jumpalitan. Kita toh tetap bertemu. Ayo kawan. Mari main. Lupa tugas. Lupa segala. Makana jangan berhenti pikiran.

Tikkilikitik. Dong-dong-dong. Yes-yes-yes-yes-yes-yes-yes. Kayak burung beo. Kayak tidak punya jiwa. Bukan robot toh? Ya, berpikir. Dunia. Dunia sebuah panggung. Panggung sandiwara. Pementasan teater paling kolosal. Semua pemain. Semua kebagian peran. Walau terkadang bingung peran apa. Kayaknya berubah-ubah. Sang dalang tidak kasih pakem. Jadi improvisasi. Improvisasi yang terkendali. Sang dalang sang maha. Tidak ada kata pemberontakan di sini. Kalau tidak, ya entah. Karena belum ada bukti sih. Masuk kota, sudah ditetapkan. Jadi? Ya Mbuh. Biarlah Sang Maha yang berkehendak. Tiada dua ilmu dimiliki. Kita adalah ciptaan yang digerakkan, yang dilakukan, yang tidak bisa menolak. Kita diberi apa-apa. Berpikir apa-apa. Hingga tumbuh kesombongan. Hingga lupa hakekat. Hingga merasa jadi tidak butuh siapa-siapa. Manusia macam apa itu. Tapi kayak gitu banyak kok. Lihat saja sendiri pada lingkunganmu.

Kebobrokan. Kemunafikan. Setel kaset. Picu senapan. Meletus. Bar.bar. barbar. Naruh sepatu kok di telinga. Sinting kan? Memang sinting. Sama seperti tulisan ini. Kesintingan. Kegilaan. Gilanya gila. Gilanya sinting. Sinting yang benar-benar gila. Jadi? Ya, begitulah. Apa saja menurut kamu

Catatan selagi dunia ada
29 mei seribu sembilan ratus sembilan 1

Catatan:
Istriku masih menyimpan surat-surat dan atau catatan-catatan yang kuberikan padanya saat masih berpacaran. Sore tadi kami tergelak dan tersipu membaca beberapa diantaranya. Berikut ini adalah satu catatan padanya. Diketik ulang tanpa perubahan. Terima kasih istriku: Sri Sulandari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: