5 Komentar

Cerpen: Supar

SUPAR

Cerpen: Odi Shalahuddin

 

Supar. Tubuh kurus berkulit hitam. Sinar mata tak bergairah. Bagai bunga layu. Empat belas tahun usianya. Selama ini dikenal sebagai sosok yang pendiam. Bergerak juga terlihat lamban.

Tapi kini?

Supar berdiri tegak. Sorot matanya tajam mengandung amarah. Kata-katanya menggelegak: ”bapak-bapak yang budiman. Apa salah kami? Kami bukan kawanan maling!”

Kawan-kawannya sangat terkejut. Supar menunjukkan keberanian yang tidak pernah terbayang di kepala. Keberanian luar biasa. Atau lebih patut disebut kenakatan? Kekonyolan? Orang pasti sudah tahu akibatnya.

Selama ini, strategi yang digunakan adalah menampakkan wajah memelas. Ekspresi wajah yang takut. Cara ini, setidaknya dapat menghindarkan diri dari tindakan kekerasan. Mengambil barang-barang yang tersita bisa lebih mudah meski harus menyisipi uang antara Rp. 20,000 – Rp. 50,000. Ini masih lebih baik dibandingkan harus kehilangan smeua barang dagangan.

Sikap Supar, juga mengejutkan para petugas yang (mencoba bersikap dengan menunjukkan) berwajah garang. Mereka selama ini terbiasa berhadapan dengan wajah-wajah yang mereka beri istilah ”wajah tikus”, kini harus dihadapkan pada sikap perlawanan. Dada mereka terasa disengat aliran listrik berkekuatan besar. Jelas, ini adalah sikap pelecehan terhadap kekuasaan yang mereka miliki selama ini. Kekuasaan mutlak. Ini tentu tidak bisa dibiarkan. Bila menjalar, akan menjadi wabah penyakit yang mengerikan.

”Hei, anak keparat! Kamu jelas melanggar peraturan, masih mau melawan?!” teriak garang seorang petugas. Petugas yang lain bersiap-siap, mengepung, tak kalah garang wajah yang dipertunjukkan.

”Kami bukan maling! Kami hanya berdagang! Tidak salah dan haram!” teriak Supar tak kalah garang.

Mendapat jawaban seperti itu. Jawaban yang memang tidak dikehendaki, petugas menghambur melampiaskan emosinya. Anak-anak kecil di pinggiran trotoar yang tadi menonton tersenyum-senyum kepada para petugas, segera lari menghindar.

Seorang petugas melayangkan tangan, Supar mengelak. Emosi semakin bertambah. Tanpa banyak pikir, tongkat yang tergantung di pinggang segera beralih ke tangan, dan melayang ke tubuh Supar. Petugas lain mengikuti. Supar menangkis dengan tangan kosong. Rasa sakit pastilah dirasa. Tapi Supar berusaha untuk tidak mengaduh.

”Ambil barang dagangan kalian, dan segera lari!” teriak Supar kepada kawan-kawannya yang masih terpana menyaksikan kejadian di depannya. ”Cepat bawa, lariiiiiiii..!”

Walaupun terlihat ragu, kawan-kawan menuruti apa yang diminta oleh Supar. Mengambil barang dagangan, segera lari, sesekali menoleh ke belakang, melihat beberapa petugas mengejar dan melihat Supar yang masih dikeroyok sebagian dari mereka.

***

Supar tergeletak di amben. Seluruh tubuh dirasa nyeri. Ibunya berada di samping menunggu sambil memijiti kening Supar. Tampak buliran air mata membasahi pipinya. Memandangi wajah Supar, berkelebat wajah sang suaminya. ”Oh,”

”Ada apa, Mbok?” Supar, matanya sudah terbuka, menyapa lemah.

Ibunya kelihatan gugup. Cepat menghapus air mata dengan tangannya dan melemparkan senyum.

”Hm, kamu sudah bangun, Nak. Tidak ada apa-apa,”

”Maaf, ya, Mbok. Telah membuat Mbok jadi susah,”

Ibunya menggeleng.

Supar berusaha meraih tangan ibunya. Memegangnya, lalu menciumi. Terdengar isak tangis ibunya. Supar memandangi wajah ibunya dengan cemas. Sebelum sempat ia bertanya, sang Ibu telah berkata: ”Mbok teringat Bapakmu, Supar,”

”Sudahlah, Mbok,”

”Mbok yakin. Sangat yakin sekali. Bapakmu bukan mati karena kecelakaan. Masyarakat di sini juga yakin begitu,” kata ibunya.

”Mbok,”

”Ya, Bapakmu, Supar. Bapakmu seorang pemberani. Seseorang yang tidak memikirkan diri sendiri, tapi berpikir untuk orang banyak,” lalu mengalirlah kisah dari sang Ibu kepada Supar.

***

Rumah Supar bersama sekitar 300 rumah lainnya, dulu menempati areal Taman Wisata. Ketika ada perluasan, mereka dipaksa untuk pindah. Masyarakat sesungguhnya sangat merelakan tanahnya sebagai tanda kecintaan mereka terhadap Negara ini. Kebahagiaan tersendiri mendapatkan kesempatan untuk berbakti kepada tanah air. Apalagi Taman Wisata ini menjadi andalan dan kebanggaan bangsa ini yang diakui dan terkenal di berbagai negara.

Namun kemudian tersebar kabar, bahwa tanah mereka yang tergusur, seharusnya ada penggantian 4-5 kali lipat dari yang akan mereka terima. Masyarakat merasa terpukul, merasa dibohongi, merasa dikhianati niat baiknya. Ada oknum-oknum yang telah mengambil keuntungan. Masyarakat lalu bergerak menolak penggusuran. Bukan karena mereka tidak merelakan tanahnya, tapi sebagai sikap menghadapi oknum-oknum yang entah siapa yang telah mengambil hak-hak mereka.

Bapak Supar adalah salah seorang yang gigih bersuara dalam berbagai pertemuan. Bapak Supar adalah orang yang rajin untuk mengajak dialog warga yang lain. Sayang, dalam situais yang demikian, pihak-pihak yang berwenang bukan meluruskan informasi yang diterima masyarakat, malah menganggap masyarakat telah melakukan pembangkangan,

”Masyarakat telah disusupi kader-kader komunis untuk menggagalkan proyek nasional maha penting ini,” demikian pernyataan dari seorang pejabat kabupaten di media massa.

Aksi-aksi damai selalu dibubarkan oleh aparat keamanan dengan cara brutal. Pemberitaan di media massa, menyudutkan mereka. ”Rakyat Mbalelo”, ”Subversif”, ”Komunis”, adalah kata-kata yang ditujukan kepada masyarakat oleh para pejabat.

Niat baik telah berbalik menjadi petaka. Saat mempermasalahkan ada kecurangan dan rakyat malah disudutkan, hal ini justru menumbuhkan kesadaran tentang hak dan tentang kebenaran. Mereka harus berani untuk memperjuangkan. Bertahan. Melawan. Hingga hak yang seharusnya didapat, bisa diterima.

Rumah Supar sering dikunjungi oleh orang-orang tidak dikenal. Mereka memberikan tawaran-tawaran menggiurkan kepada Bapak Supar. Bapak Supar selalu menolak. Tidak tergoyahkan keyakinannya. ”Ini bukan untuk kepentingan saya pribadi, tapi untuk masyarkat di sini,” selalu demikian dikatakannya.

Penolakan yang menyebabkan lahirnya ancaman-ancaman dan berbagai teror. Pada malam hari, sering orang-orang bermotor, tak diketahui identitasnya, melempari atap rumah dengan batu. Melempar bom molotov, hingga meletakkan sosok mayat di teras rumahnya. Saat dilaporkan berbagai rentetan kejadian kepada petugas keamanan, tidak ada tanggapan serius dari mereka. ”Sudahlah, tidak usah macam-macam, diterima saja. Jangan anti pembangunan,” kata seorang petugas kepada Bapak Supar dan beberapa tetangga yang turut mengantarkan.

Ketika fasilitas aliran listrik dimatikan. Masyarakat masih tetap bertahan. Pun, ketika akses jalan untuk masuk-keluar dari kampung ditutup dengan penjagaan dari aparat berpakaian preman, mereka juga tetap bertahan.

Pada situasi yang semakin mencekam. Saat para pejabat di tingkat pusat juga sudah mulai berbicara, namun tidak membela masyarakat setempat, teror semakin menjadi.

Suatu malam, selepas adzan Isya, saat Bapak Supar hendak berangkat ke tempat pertemuan masyarakat dengan para pejabat berwenang termasuk pejabat dari pusat, sebuah mobil telah menabraknya, dan segera menghilang. Ia menghembuskan nafas saat perjalanan ke rumah sakit.

”Sengaja ditabrak, Supar. Mbok yakin itu,” Ibunya dengan rasa geram. Isak tangis pecah kembali,

***

Supar merasakan gejolak jiwanya bagaikan lahar yang terus mendesak hendak keluar. Terus mendesak, siap melontarkan letusan. Makin menjadi manakala di kepala terus berhadiran berbagai peristiwa yang pernah dialami dan disaksikannya, termasuk peristiwa terakhir yang membuatnya terbaring.

Rakyat kalah. Tidak tahan dengan berbagai ancaman dan teror, akhirnya dengan terpaksa mereka merelakan tanahnya dengan ganti rugi yang sangat kecil. IbuSupar membeli tanah sekitar tiga kilometer dari tempat semula. Ada beberapa tetangga yang juga tinggal di kampung yang sama.

Pembangunan Taman Wisata terus berjalan. Ratusan rumah warga se kampungnya yang tergusur beserta lahannya, kini telah menjadi lahan parkir. Hanya lahan parkir!

Taman Wisata menjadi semakin ramai dikunjungi oleh para wisatawan berbagai kota dan juga mancanegara. Apalagi pada hari-hari libur. Lahan parkir nan luas ini sudah akan sesak dengan mobil-mobil pribadi ataupun bus-bus rombongan.

Supar tidak menolak ketika teman-temannya mengajak ikut berdagang di sana. Berdagang soevenir. Lumayan keuntungannya, bisa tiga-empat kali lipat. Dua tahun dijalani bersama ratusan pedagang asongan lainnya. Persaingan, perselisihan, selalu bisa diselesaikan oleh mereka sendiri.

Ketika Taman Wisata mulai melakukan pembatasan-pembatasan dan menambah personil keamanan, hari-hari mulai dipenuhi dengan berbagai peristiwa yang tidak menyenangkan.

Masyarakat yang akhirnya telah tergantung kehidupannya dari Taman Wisata ini mulai menjalani hari-hari kelam. Seperti pencuri, mereka menjajakan dagangannya dengan sikap yang harus selalu waspada untuk menghindari tangkapan para petugas keamanan.

”Ini demi keindahan dan ketertiban Taman Wisata. Para pengunjung harus memiliki rasa aman,” demikian koordinator keamanan memberikan penjelasan saat mereka dikumpulkan dan hanya mendengarkan ceramah darinya.

Tapi tuntutan kehidupan memang tidak bisa ditunda. Walau sudah ada larangan, para pedagang asongan tetap saja mengambil setiap peluang untuk menjajakan dagangannya. Razia-razia makin sering dilakukan. Barang-barang dagangan dirampasi. Pedagang asongan kerap dipukuli, dan berbagai tindakan kekerasan lainnya lagi.

Situasi ini menyebabkan para pedagang asongan melakukan aksi unjuk rasa. Mereka menuntut diperbolehkan untuk berjualan. Mereka telah merelakan tanahnya untuk kepentingan Taman Wisata, namun mengapa tidak boleh untuk turut menikmati keramaian demi kelangsungan hidupnya?

Serangkaian aksi unjuk rasa yang terus dilakukan dan menghiasi berbagai media massa, melahirkan kebijakan baru.

”Boleh, boleh berdagang. Tapi pada tempat yang telah ditentukan,” demikian kepala Taman Wisata memberikan pengumuman.

Di bagian utara, dibangun kios-kios. Para pedagang asongan merasa senang. Tapi apa daya, ketika telah selesai pembangunan, biaya untuk menyewa sama sekali tidak terjangkau oleh sebagian besar pedagang asongan. Justru orang-orang luar yang selama ini tidak pernah bersentuhan dengan Taman Wisata yang bisa mengisi kios-kios tersebut. Para pedagang asongan hanya bisa merutuk. Mengutuki nasibnya yang buruk.

Mereka tetap bertahan, menjadi pedagang asongan. Julukan baru disandang ”Pedagang liar!” Teramat lucu di telinga. Bagaimana bisa liar? Bukankah sebelum Taman Wisata ini menjadi semakin luas, mereka adalah bagian yang hidup di sekitar Taman? Bertahun-tahun mereka telah berjualan di sini, sekarang dianggap sebagai pedagang liar? Sungguh sulit untuk dipahami. Tapi itulah realita yang terjadi.

***

Pada suatu pagi, seorang anak duduk di pojok taman parkir. Matanya mengawasi arus kendaraan yang terus masuk. Bus-bus besar, mobil-mobil, motor. Setiap masuk kendaraan, dadanya terasa berdebar kencang.

”Untuk apa Taman Wisata bila melupakan dan menggusur masyarakat yang sejak nenek moyangnya telah tinggal di sini?” lontaran tanya di dalam hatinya.

Perlahan ia bangkit, melangkah menuju kendaraan yang terparkir.

Sejak itu, pengelola Taman Wisata selalu mendapat laporan tentang kehilangan. Pencurinya sangat lihai, tidak pernah tertangkap basah kendati penjagaan telah diperketat. Saat kusampaikan kepada Supar, ia hanya tersenyum menanggapi.

Yogya, Pebruari 1994

Catatan:

  • Ilustrasi diambil dari SINI
  • Saat menata buku-buku, kutemukan buku kumpulan cerpen ”Maling”. Inilah cerpen pertama yang masuk dalam kumpulan cerpen. Diterbitkan oleh Forum Pecinta Sastra Bulaksumur – Pustaka Pelajar (Agustus 1994).  Cerpen ini sebelumnya telah dimuat di Jayakarta Minggu III Maret 1994. Penulisan ulang cerpen ini disertai sedikit perubahan.
Iklan

5 comments on “Cerpen: Supar

  1. Ketika kita bertanya kenapa pembangunan justru meminggirkan bagian dari pembangunan??? Jawab mereka selalau : pembangunan ibarat menggali permata, selalu ada kerusakan dan yg dikorbankan dlam penggaliannya
    Bukankah pembangunan adalah sebuah proses menuju kebaikan??? Lantas kenapa kami yg miskin dan terpinggir selalu yg dikorbankan?Supar memutuskan bergerilya setelah. Babak belur dipukuli karena mengadakan perlawanan terhadap aksi pembangunan
    Akhirnya…..pembangunan memberi sisi negatid dg melabeli kaum lemah sebagai yg liar, maling, penjahat, org miskin dan maaasih banyak lagi
    Padahal para pelaku pembangunan banyak yg maling, koruptor, bahkan penipu uang rakyat……mana ada yg kasih gelar maling!!!!!!

    • Begitullah kenyataan yang terjadi. Dari dulu hingga kini, walau dengan modus yang berbeda. Perubahan yang terjadi, ada ruang bagi rakyat untuk berbicara. Pada masa lalu, upaya bersuara dan bersikap, pastilah akan dihancurkan.

      Ya, pembangunan belum memfokuskan kepada upaya mensejahterakan masyarakat luas, masih bermain untuk kepentingan lingkarannya sendiri. Itulah watak kekuasaan.

      Salam hangat selalu Mbak Leli Ruspita…

  2. Bagus banget ceritanya, hebat euy sdh bisa menulis cerpen

    salam
    Omjay

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: