4 Komentar

Kenduri Tolak Bala, Mensikapi Aksi Kekerasan

Ratusan orang kembali terlihat berkumpul di Pendopo Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) semalam (19/5). Berbeda dengan peristiwa sebelumnya, shalawat dan gema menyebut kebesaraan Allah, benar-benar membangkitkan rasa tenang dan damai di hati. Itulah yang terlihat dan dirasakan dalam acara yang diberi nama ”Kenduri Tolak Bala”.

Acara dihadiri oleh para aparat kampung, tokoh masyarakat, warga Sorowajan, dan para aktivis sosial kemasyarakatan, dihadiri pula oleh Gusti Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang juga anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, yang tidak sungkan turut duduk lesehan bersama para warga.

”Kita sengaja mengundang kelompok Shalawatan. Dalam tradisi NU, shalawat itu baik dibaca ketika kita tengah gelisah karena itu bisa mendamaikan hati dan mendinginkan atmosfer sekelilingnya,” demikian dijelaskan Farid Fajidi, Ketua LKiS dalam sambutannya.

Ia menjelaskan mengapa acara diberi nama Kenduri Tolak Bala karena bila ada masalah atau sesuatu yang membuat kita resah, kita mengabarkan bahwa semua yang terjadi karena memang itulah yang memang seharusnya terjadi, dan kita harus bisa menerima kenyataan itu dan berusaha keluar dari situasi itu. Perkara yang kita alami kita serahkan pada Allah. Sampai kita bersujud dan mengucapkan Allahu Akbar dalam arti yang sebenarnya. Kita mengakui kekuasaan Allah yang Maha Besar. Tidak ada kekuasaan yang lebih besar dari-Nya. Kita berlindung kepadanya. Dan pada saat yang sama kita hilangkan rasa takut kepada siapapun. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang harus ditakutkan kecuali kepada Allah.

Kenduri Tolak Bala diselenggarakan oleh LKiS, Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) dan Aliansi Jogja Damai (AJI Damai) sebagai salah satu cara mensikapi kekerasan yang terjadi di tempat itu, saat berlangsungnya diskusi buku ”Allah, Love and Liberty” bersama Irsyad Manji (9/5). Acara tersebut dibubarkan secara paksa disertai tindakan kekerasan dan pengrusakan terhadap kantor LKiS oleh massa dari Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI).

Kekerasan dan pengrusakan, yang kemudian menjadi pemberitaan di tingkat nasional, telah menimbulkan beragam reaksi termasuk aksi dari ratusan massa dari berbagai elemen yang menghimpun diri pada Gerakan Masyarakat Yogyakarta Anti kekerasan (Gerayak) pada tanggal 11 Mei di Titik Nol Kilometer yang dilanjutkan mendatangi kantor Gubernur di Kepatihan untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Pada kesempatan itu, Farid menyampaikan permohonan maaf kepada segenap warga Sorowajan yang hadir dalam acara ini dan menjelaskan secara ringkas persoalan yang terjadi. ”Sebetulnya hubungan LKiS sudah sangat dekat dengan warga. Kami tetap ingin membangun kembali hubungan-hubungan yang selama ini telah terjalin. Selama beberapa tahun LKiS telah bekerja bersama para ibu-ibu di sini, mengembangkan kerajinan tangan, belajar mengelola keuangan keluarga, mendidik cara pengasuhan anak tanpa melakukan diskriminasi dan sebagainya. Keluarga besar LKiS sangat membutuhkan dukungan dari Bapak-Ibu sekalian untuk terus berjuang dari apa yang kita yakini”.

Merespon apa yang disampaikan oleh Farid Fajidi, Ketua RW 11, Sukamto yang mewakili masyarakat Sorowajan dalam sambutannya menyatakan bahwa memang warga Sorowajan lengkap berisi semua agama, dari Islam, Kristen, katolik, Budha dan Hindu. Selama ini kerukunan warga terbangun dan sering melakukan acara bersama dengan menggunakan tempat di Pendopo LKiS. ”Bukan menepuk dada bahwa Sorowajan ini bisa disebut sebagai Indonesia mini yang rukun,” kata Sukamto.

”Saya tidak menutup mata bahwa LKiS memang sangat memiliki andil bagi masyarakat dan nama Sorowajan. Lepas dari kemarin yang merupakan musibah dan cobaan yang bisa menjadi cambuk agar ke depan bisa diantisipasi,”

Sukamto menyampaikan pesan dari Kepala Dukuh yang tidak bisa hadir karena sakit agar LKiS bila hendak membuat acara yang mengundang orang banyak, jauh hari sebelumnya memberitahu kepada warga di sekitar kantor agar bila terjadi sesuatu warga tidak kaget.

Ika Ayu, mewakili Jaringan Perempuan Yogyakarta, yang menjadi salah satu penyelenggara diskusi buku, juga menyampaikan permohonan maaf kepada warga sekitar. Pada kesempatan itu pula ia mengucapkan terima kasih kepada para warga yang pada saat peristiwa telah membantu juga untuk menghalau massa penyerang.

GKR Hemas, yang menyatakan keprihatinannya atas berbagai peristiwa kekerasan di Yogyakarta, termasuk peristiwa kekerasan di LKiS menyatakan, bahwa sebenarnya warga Yogyakarta adalah warga yang  memiliki toleransi dan mampu menjaga rasa aman dan ketentraman sehingga bisa hidup dengan rukun.

”Kemarin yang merusak hanya segelintir orang yang melakukan aksi atas nama agama. Yang harus kita lakukan adalah kita harus tetap istiqomah. Tetap konsisten untuk menjaga dasar negara kita Pancasila dan UUD 1945,”.

GKR Hemas mempertanyakan para pelaku yang diragukan sebagai orang Yogya. Bahkan ia mencurigai jika  serangkaian kerusuhan yang terjadi adalah memo atau pesanan dari orang luar agar Yogya menjadi tidak aman. ”Saya kira kalau orang Yogya pasti akan memahami dan menjaga ketentraman dan kedamaian,”

Lebih lanjut ia berharap bahwa aparat pemerintah atau aparat kepolisian bisa segera melakukan tindakan terhadap para pelaku penyerangan.

Menyinggung nama acara, Hemas menyatakan tidak tepat kalau disebut sebagai Tolak Bala.  ”Kalau Tolak Bala, angin ributnya tidak bisa dibendung. Ini sesuatu yang kecil yang bisa diatasi oleh masyarakat Yogya sendiri,”.

Nur Kholik Ridwan dari Aliansi Jogja Damai yang pernah menyusun beberapa buku diantaranya ”Gus Dur dan Pancasila” menyesalkan dan mengutuk aksi-aksi kekerasan sebagai jalan penyelesaian masalah. ” Penyelesaian perbedaan dengan kekerasan dan penyerbuan adalah tindakan kriminal. Tindakan ini akan menciptakan generasi yang dungu. Generasi yang tidak bisa berpikir untuk menggunakan nalar dan akal sehatnya, melainkan hanya dengan otot,”.

Ia menegaskan akan tetap mengawal kasus penyerangan yang terjadi agar proses hukum dapat dilakukan. Ada empat (4) alasan yang dikemukakan, yakni:

  • Perbedaan adalah kenyataan hidup di dunia
  • Menjaga Yogya agar damai dan adil.
  • Indonesia menjamin berserikat dan berkumpul
  • Ingin membuktikan bahwa perlawanan terhadap kasus kekerasan bisa dilakukan tanpa kekerasan.

Acara yang disemarakkan juga oleh kelompok La Tahzan (Jangan Bersedih) dan Nurul Khasanah (Cahaya Kebaikan) berjalan lancar tanpa gangguan. Memang di sepanjang jalan menuju kantor LKiS terlihat penjagaan yang ketat dari pihak kepolisian dan Banser.

Memang kekerasan, pastilah bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah. Kekerasan yang terjadi justru akan menimbulkan serangkaian bentuk-bentuk kekerasan lainnya.

Mana yang akan anda pilih? Hidup secara damai atau hidup penuh dalam ancaman kekerasan yang siap menerjang siapapun?

Nah, bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional, mari kita bangkitkan kehidupan damai tanpa kekerasan.

Yogyakarta, 20 Mei 2012

Iklan

4 comments on “Kenduri Tolak Bala, Mensikapi Aksi Kekerasan

  1. saya ini penganut islam tapi mesra…mantap bung, nges tenan, sayang saya tak sempat datang, doa saya menggenapi semuanya =)

  2. […] dari elemen di Yogya terus bergulir, dari apel siaga berbagai ormas, Kenduri Tolak Bala (lihat di SINI), berbagai Aksi para Seniman dan elemen lainnya yang menggunakan momentum hari lahirnya Pancasila […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: