Tinggalkan komentar

GKR Hemas: Masyarakat Yogya Bisa Mengatasi Kekerasan

Gusti Kanjeng Ratu Hemas mengeritik nama acara ”Kenduri Tolak Bala” yang dilangsungkan oleh Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) bersama Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) dan Aliansi Jogja Damai (Aji Damai).

”Kok Tolak Bala? Kepercayaan saya kalau Tolak Bala itu, angin ributnya tidak bisa dibendung. Ini sesuatu yang kecil yang bisa diatasi oleh masyarakat Yogya sendiri,” tegasnya semalam (19/5) di Pendopo LKiS di hadapan ratusan warga Sorowajan dan  para aktivis sosial kemasyarakatan.

Acara yang digelar untuk menjelaskan kepada masyarakat Sorowajan atas peristiwa penyerangan oleh Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) ke kantor LKiS saat berlangsungnya diskusi buku ”Allah, Love and Liberty” (9/5) bersama Irsyad Manji, juga sebagai peneguhan sikap anti kekerasan, berlangsung lancar. shalawat yang digemakan oleh kelompok La Tanzah dan Nurul Khasanah menyejukkan hati dan membawa pada kedamaian.

Kasus penyerangan terhadap LKiS memang mengejutkan tidak hanya warga Yogyakarta saja, melainkan juga telah menjadi perhatian para tokoh nasional. Aksi agar pihak kepolisian bertindak tegas dan tuntutan pembubaran terhadap MMI sempat muncul dalam aksi Masyarakat Yogyakarta Anti Kekerasan (Gerayak) yang melibatkan berbagai elemen masyarakat pada 11 Mei yang lalu.

GKR Hemas sendiri menyatakan bahwa pada hari itu ada serangkaian peristiwa yang diinformasikan kepadanya. Pada saat UGM melarang diskusi buku Isryad Manji, ia telah mengeluarkan siaran pers yang menyesalkan peristiwa pelarangan. Malamnya malah terdengar kabar penyerangan terhadap LKiS yang membuatnya semakin terkejut.

Pada saat kunjungan ke kantor Harian Jogja (11/5), Hemas menyatakan, Keraton sebagai lembaga Budaya, tak akan tinggal diam. Namun, ia mengatakan langkah keraton itu bukan upaya untuk melegitimasi pembubaran ormas yang beraliran keras itu.

”Sebenarnya ini (pelaku) orang Yogya atau orang luar ? Saya kira bila orang Yogya akan memahami dan menjaga ketentraman dan kedamaian orang Yogya,” ungkapnya prihatin atas berbagai serangkaian aksi kekerasan yang terjadi. Bahkan ia menduga kerusuhan yang ada merupakan bagian dari memo atau pesanan untuk membuat Yogya tidak aman.  Berbagai persoalan yang terjadi di Yogya menurut keyakinannya juga terkait dengan belum selesainya pembahasan RUUK. Masalah keistimewaan ini banyak kepentingan-kepentingan yang masuk ke kota Yogyakarta. Yogya tengah menghadapi banyak cobaan.

”Kita di Yogya sudah hidup rukun. Pihak yang melakukan pengrusakan hanya segelintir orang yang melakukan aksi atas nama agama. Hal ini  sangat disayangkan. Yang harus kita lakukan adalah kita harus tetap istiqomah. Tetap konsisten untuk menjaga dasar negara kita Pancasila dan UUD 1945. Kita harus mempunyai persepsi yang sama sebagai warganegara bahwa Indonesia mengakui lima agama, tapi bukan hanya itu yang hidup di Indonesia.  Jadi kalau kita merespon setiap aksi-aksi yang menciderai pluralisme, bisa kita sikapi secara lebih cerdas,” himbaunya.

Menurut Hemas, Yogya itu memang Sumber Daya Alam-nya tidak ada. Yang banyak adalah Sumber Daya Manusianya. Bila semua SDM-nya terdidik, maka kita harus membangun cara hidup bergotong royong, hidup damai, dengan nalar yang terdidik bukan dengan kekerasan. ”Ibu-ibu PKK dan kelompok pengajian bisa menjadi satu kekuatan yang mampu membawa masyarakat agar bisa bertoleransi,”.

Yogyakarta selama ini menjadi salah satu barometer dalam kehidupan yang penuh toleransi, masyarakat yang hidup rukun dan damai. Berbagai kekerasan yang terjadi di Yogyakarta dan berbagai wilayah Indonesia harus menjadi keprihatinan bersama. ”Kita semua harus menghimpun kekuatan, bergotong royong untuk menolak kekerasan. Yogyakarta harus tetap aman dan damai,” tegasnya lagi.

Diungkapkan oleh Hemas, bahwa dalam amanat konstitusi itu, bangsa Indonesia telah bersepakat untuk mempunyai kebebasan berpikir dan berpendapat. ”Aparat pemerintah dan aparat kepolisian tentunya harus bertindak tegas (mengatasi aksi kekerasan),”

Kepada LKiS, Hemas mendorong agar tetap menjalankan langkah-langkah strategisnya melakukan berbagai kegiatan di tengah masyarakat. ”Saya tahu LKiS banyak menerbitkan buku-buku agama dan sosial dengan pemikiran yang pluralis. Saya harapkan setelah Gus Dur meninggal, semoga LKIS tetap bisa membangun Yogya menjadi lebih damai lagi.”

Yogyakarta, 20 Mei 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: